Foto: Bos HM saat melakukan sortir tembakau di gudang nya
Foto: Bos HM saat melakukan sortir tembakau di gudang nya
MEMOonline.co.id. Sumenep- Memasuki musim panen tembakau 2026, pengusaha rokok lokal Sumenep, H. Mukmin alias Bos HM, mulai melakukan pembelian perdana tembakau petani di Gudang Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Kamis (20/8/2026).
Pada musim panen tahun ini, Bos HM menargetkan penyerapan hingga 1.000 ton tembakau petani Madura.
Target tersebut diharapkan menjadi alternatif pasar bagi petani sekaligus membantu menjaga kestabilan harga tembakau selama musim panen.
“Rencana kita beli seribu ton,” ujar H. Mukmin saat ditemui di gudang pembelian tembakau Desa Daramista.
Menurutnya, pembelian tembakau dilakukan dengan sistem konsorsium yang melibatkan sejumlah pihak dalam penyediaan modal.
“Untuk pembelian ini kita modalnya konsorsium, ada dari guru-guru, macam-macamlah. Jadi dana ini tidak terfokus punya saya pribadi,” ungkapnya.
Ia memperkirakan penyerapan tembakau tahun ini meningkat dibandingkan musim sebelumnya.
Namun, dirinya masih menemukan cukup banyak tembakau yang dipanen terlalu muda.
Kondisi tersebut dinilai merugikan petani karena tembakau yang dipetik sebelum cukup umur memiliki kualitas dan bobot yang belum maksimal.
Karena itu, Bos HM meminta petani maupun penebas tidak terburu-buru melakukan pemetikan sebelum tembakau mencapai umur dan kualitas yang cukup.
“Jangan sampai dipetik muda. Karena pabrik besar seperti Sampoerna, Djarum, Gudang Garam sampai hari ini belum beli. Jadi untuk apa buru-buru petik muda yang nanti beratnya akan kurang, sangat merugikan petani,” tegasnya.
Harga Tembakau hingga Rp72 Ribu
Bos HM menjelaskan, harga pembelian tembakau ditentukan berdasarkan kualitas serta lokasi lahan.
Harga terendah yang ditawarkan berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram, sedangkan harga tertinggi mencapai Rp72 ribu per kilogram.
Untuk tembakau sawah, harga berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Sementara tembakau gunung dan tegal gunung dibeli sekitar Rp60 ribu hingga Rp72 ribu per kilogram, tergantung kualitas daun.
“Yang sawah dari Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Sementara tembakau gunung sama tegal dari Rp60 ribu sampai Rp72 ribu,” jelasnya.
Cakupan pembelian juga tidak hanya berasal dari Kabupaten Sumenep.
Gudang tersebut menyerap tembakau dari berbagai wilayah di Madura.
“Cakupan pembelian kita tembakau Madura, jadi bukan hanya Sumenep saja, tapi se-Madura. Ini sekarang ada yang dari Kabupaten Sampang,” paparnya.
Meski demikian, kualitas tembakau dan asal lahan tetap menjadi pertimbangan dalam menentukan harga.
Bos HM mengatakan, pihaknya berupaya menjaga harga agar petani memperoleh nilai yang layak setelah mengeluarkan biaya produksi selama musim tanam.
“Kita itu cuma menstabilkan harga saja dari awal sampai akhir,” katanya.
Selain kualitas, faktor cuaca juga menjadi perhatian.
Hujan saat masa panen maupun proses pengolahan dapat menurunkan mutu tembakau dan berdampak terhadap harga jual.
Minta Pabrikan Besar Segera Buka Pembelian
Bos HM berharap perusahaan rokok berskala besar seperti PT Djarum dan Sampoerna segera membuka pembelian tembakau.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar produksi tembakau Madura dapat terserap lebih maksimal.
“Teman-teman media bisa menanyakan kepada pabrik-pabrik besar, kapan mereka buka. Tembakau kita sudah banyak, sudah banyak yang panen. Harus dibeli untuk penyerapan petani,” ujarnya.
Dengan target penyerapan mencapai 1.000 ton, gudang pembelian di Desa Daramista akan tetap beroperasi selama tembakau petani masih tersedia.
Pembukaan gudang tersebut diharapkan memperluas akses pasar sekaligus membantu petani menghadapi musim panen tembakau 2026, terutama di tengah belum dibukanya pembelian oleh sebagian pabrikan besar.
Langkah Bos HM menyerap tembakau dari berbagai wilayah Madura juga menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk mendapatkan pasar dan menjaga harga komoditas tembakau tetap stabil selama musim panen.
Penulis : Alvian
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak