Foto: Tiga kandidat Sekda Sumenep
Foto: Tiga kandidat Sekda Sumenep
Oleh : Udiens Nyelonong
OPINI-Awal 2026 menjadi fase yang terasa janggal bagi birokrasi Kabupaten Sumenep. Di balik rutinitas kerja yang tampak normal, kegelisahan justru tumbuh diam-diam.
Bukan lewat demonstrasi atau konflik terbuka, melainkan melalui bisik-bisik yang berulang di ruang kantor, warung kopi, hingga meja redaksi.
Kapan mutasi dilakukan? Kapan Sekda definitif ditetapkan? Mengapa Bupati jarang terlihat di Sumenep?
Tiga pertanyaan sederhana, tetapi menyimpan kegundahan kolektif. ASN, aktivis, dan wartawan membicarakannya bukan untuk sensasi, melainkan karena ketidakpastian telah menjadi bagian dari keseharian birokrasi.
Sejak Achmad Fauzi Wongsojudo memasuki periode kedua kepemimpinannya, rotasi jabatan tak kunjung dilakukan. Pada saat yang sama, sejumlah pejabat eselon telah purna tugas.
Akibatnya, banyak posisi strategis hanya diisi pelaksana tugas—cukup untuk menjalankan rutinitas, tetapi tak cukup kuat untuk mengambil keputusan besar. Di sinilah kegelisahan bermula. Gelap yang Bukan Sekadar Metafora
Aura Pemerintah Kabupaten Sumenep di awal tahun ini terasa “gelap”.
Bukan karena cuaca atau gangguan teknis, melainkan karena arah pemerintahan kehilangan penanda. Birokrasi bergerak seperti menapaki lorong panjang tanpa jendela.
Aktivitas tetap berjalan: ASN datang pagi, pulang sore, dokumen berpindah tangan. Namun tujuan akhirnya kabur.
Banyak yang bekerja, sedikit yang benar-benar memahami ke mana arah kebijakan akan dibawa.
Dalam situasi seperti ini, birokrasi memang hidup—tetapi tidak sepenuhnya bernyawa.
Mutasi ASN dan Hilangnya Harapan Sistemik Mutasi ASN sejatinya adalah instrumen manajemen talenta: memberi ruang bagi prestasi, regenerasi, dan penyegaran organisasi.
Namun di Sumenep, mutasi justru lebih sering menjadi ruang tunggu tanpa kepastian. Yang berprestasi belajar menahan suara.
Yang biasa saja, kadang tiba-tiba tampil ke permukaan.
Pelan tapi pasti, sebagian ASN mengembangkan mekanisme bertahan: bekerja sekadarnya, berharap sewajarnya, dan bertanya seperlunya. Bukan karena mereka apatis, melainkan karena terlalu sering harapan berakhir tanpa jawaban.
Ketika sistem kehilangan daya dorong meritokrasi, yang tumbuh adalah budaya aman—bukan budaya unggul.
Sekda dan Fenomena “Matahari Kembar”
Dalam struktur pemerintahan daerah, Sekretaris Daerah adalah pusat gravitasi administrasi. Ia penghubung antara visi politik kepala daerah dan kerja teknokratis birokrasi.
Ketika kursi Sekda definitif terlalu lama kosong, ruang abu-abu melebar.
Penjabat Sekda memang ada, tetapi kewenangannya terbatas. Banyak kebijakan akhirnya menggantung: tidak ditolak, namun juga tidak diputuskan.
Pemerintahan hidup dari keputusan.
Keputusan butuh legitimasi. Legitimasi butuh kejelasan struktur.
Di sinilah dugaan “matahari kembar” mulai menghantui. Terlalu banyak pusat pengaruh, terlalu sedikit kepastian komando. Dalam situasi demikian, birokrasi tak berhenti bergerak—tetapi bergerak dengan ragu.
Kepemimpinan dan Arti Kehadiran Pemimpin daerah idealnya paling sering hadir di rumahnya sendiri. Bukan sekadar hadir dalam baliho, unggahan media sosial, atau agenda seremonial.
Ketika Bupati jarang berada di Sumenep, suasana birokrasi ikut berubah. OPD menunggu sinyal.
ASN memilih posisi aman.
Keputusan strategis ditunda—menunggu waktu yang tepat, atau figur yang benar-benar berwenang. Kehadiran pemimpin menenangkan. Ketidakhadirannya melahirkan tafsir.
Dan tafsir yang beragam dalam birokrasi sering kali lebih berbahaya daripada konflik terbuka.
Menunggu Terang
Pemkab Sumenep hari ini tidak gaduh. Tidak ribut. Tidak penuh polemik terbuka. Namun justru di situlah letak bahayanya. Dalam birokrasi, kesunyian yang terlalu lama bisa membuat arah kabur tanpa disadari.
Sumenep tidak kekurangan orang pintar.
Tidak kekurangan program. Yang semakin langka adalah kejelasan arah dan ketegasan keputusan.
Gelap bukanlah akhir.
Namun bila dibiarkan, gelap bisa berubah menjadi kebiasaan. Dan birokrasi yang terbiasa gelap, perlahan akan lupa bagaimana caranya berjalan menuju terang.
Sebagai catatan: tiga nama sosok calon Sekda Sumenep terkuat adalah, (1)- Arif Firmanto (2)- Eri Susanto, (3)- Agus Dwi Saputra.***