Foto: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo
Foto: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo
Oleh : Udiens Nyelonong
OPINI- Madura Culture Festival (MCF) 2025 semestinya menjadi momentum perayaan kebudayaan, ajang persatuan, sekaligus etalase identitas Kabupaten Sumenep.
Namun, citra itu mulai bias lantaran muncul tangan-tangan jahil dari penyelenggara yang dituding menyusupkan kepentingan dalam acara bergengsi tersebut.
Event yang diharapkan tampil elegan, membanggakan, dan berkelas di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, justru rentan runtuh seketika karena banyaknya keluhan dari peserta.
Padahal, pelaksanaan event budaya ini adalah cerminan marwah seorang pemimpin. Seorang bupati tidak hanya dinilai dari kebijakan besar, tetapi juga dari detail kecil dalam tata kelola acara. Kalender event budaya seperti MCF adalah wajah daerah yang otomatis melekat pada reputasi kepala daerah.
Jika ada penyusupan kepentingan, monopoli proyek, atau akal-akalan untuk meraup keuntungan pribadi, maka yang tercoreng bukan hanya eventnya, melainkan juga nama baik Bupati Fauzi sendiri.
Karena itu, menjaga marwah Bupati Fauzi berarti memastikan MCF 2025 steril dari intrik dan praktik culas. Jangan sampai orang-orang yang mengaku loyalis, atau sekadar numpang nama, menjadikan MCF sebagai ladang bisnis dan ajang pamer kuasa.
Bila hal ini dibiarkan, publik akan menilai bahwa Bupati Fauzi tidak mampu membedakan mana kepentingan kebudayaan, dan mana kepentingan kelompok tertentu.
Pertanyaan publik kini mengemuka: haruskah penyusup di kalender event MCF 2025 dikeluarkan? Jawabannya jelas: ya.
Bupati Fauzi sebagai kepala daerah sekaligus simbol kehormatan pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk memastikan event ini bersih.
Diam berarti memberi ruang bagi penyusup untuk semakin mencengkeram.
Sebaliknya, ketegasan menyingkirkan pihak-pihak tak bertanggung jawab akan menjadi sinyal bahwa kepemimpinan beliau tidak bisa ditunggangi.
Masyarakat menilai, kehadiran penyusup dalam proses penyusunan maupun pelaksanaan MCF bukan hanya berbahaya bagi citra festival, tetapi juga mengancam marwah bupati sendiri.
Suara publik kini semakin keras: Bupati Fauzi harus tegas.
Tidak cukup hanya memberi peringatan, melainkan berani memecat dan menyingkirkan penyusup dari lingkaran pengelolaan.
Jika dibiarkan, masyarakat tidak lagi melihat siapa yang bermain di balik layar, melainkan langsung menyalahkan bupati sebagai orang nomor satu di Sumenep.
MCF 2025 terlalu penting untuk dipertaruhkan demi kepentingan segelintir orang.
Ketegasan Bupati Fauzi untuk memecat penyusup akan menjadi bukti nyata bahwa beliau berdiri di sisi masyarakat, menjaga warisan budaya, sekaligus melindungi kehormatan daerah.
Masyarakat tidak ingin festival ini tercemar. Mereka hanya ingin MCF 2025 kembali ke ruh aslinya: merayakan kebudayaan, bukan merawat kepentingan. Dan langkah pertama yang harus diambil sangat jelas: pecat penyusup itu sekarang juga.(***)