Peternak Sapi di Pamekasan Resah Sebaran Virus PMK Kian Hari Makin Meluas

Foto : Sapi milik Halimah yang terjangkit PMK
1899
ad

MEMOonline.co.id. Pamekasan - Penyakit mulut dan kuku (PMK) saat ini semakin meresahkan peternak sapi di Pamekasan. Pasalnya banyak sapi peternak yang sakit dan mati.

Seperti yang dialami Toha warga Desa Tampojung Tenggina, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, kini hanya bisa pasrah saat melihat sapinya tergeletak kaku tak bernyawa.

Sapi miliknya terjangkit PMK sejak satu bulan yang lalu. Beruntungnya sapi kesangannya yang mati masih meninggalkan satu ekor anak sapi.

Toha menceritakan, sebelum sapinya mati, pagi sekitar pukul 07.00 WIB dikasi makan, masih lahap dan minumnya. Ia mengira sapinya sudah sehat.

Namun sekitar pukul 11.00 WIB, bersamaan turun hujan lebat, dirinya melihat kekandangnya dan terkejut karena sapinya sudah tidak bernyawa.

"Saat saya liat sapi saya mati, saya langsung minta bantuan tetangga untuk mengangkat keluar kandang, saat hujan reda, tetangga saya langsung gotong royong menguburnya," tuturnya kepada MEMOonline.co.id, minggu (12/6/2022).

Ia berharap, sapi sisa miliknya bisa bertahan dan tidak tertular PMK.

"Sapi saya sisa anaknya satu pak, terus ada dua lagi dalam kandang yang berbeda, semoga tetap sehat, mengingat penyakit ini semakin berkembang", harapnya.

Selain Toha, Halimah tetangganya berjarak 500 meter dari kediamannya, juga terserang PMK.

Halimah menuturkan, sapi miliknya saat sakit sempat menyemburkan ulat dari mulutnya.

"Sapi ini dipisah sudah lebih dari dua minggu, karena kakinya bengkak, mulutnya luka, untuk berdiri saja kesulitan meskipun dibantu untuk berdiri, tapi kalau sudah maunya pasti berdiri sendiri," ujarnya.

Ia juga menambahkan, jika sapi miliknya yang terserang PMK dipisah dengan sapi lainnya, karena takut tertular.

"Di kampung sana juga ada yang sakit seperti ini, bengkak dibagian kaki, mulut luka, sehingga kalau makan tidak begitu lahap, mau dijual sekarang murah dan sedikit pedagang yang mau membeli" imbuhnya.

Halimah berharap, jika ada obatnya ingin segera diberi tahukan kepadanya, sebab jika sapinya mati semua maka akan hilang sumber penghasilannya, karena mengembala sapi hanya jalan satu-satunya yang diharapkan untuk kesejahteraan keluarganya.

"Kalau ada obatnya saya mintak pak, obat apa saja, karena sapi ini harganya sangat mahal buat saya", harapnya.

Dikonfirmasi terpisah melalui telepon wahtsapp, Chandra relawan FRPB menyarankan agar sapi yang sakit untuk segera menghubungi Dokter hewan terdekat.

"Untuk sapi yang sudah sakit segera hubungi dokter hewan terdekat melaui call center yang sudah tertera, sedangkan yang belum terjangkit kandangnya segera semprot dengan desinfektan supaya tidak tertular", katanya saat dihubungi MEMOonline.co.id, Minggu (12/6/2022).

Penulis      :    Wildan

Editor        :   Udiens

Publisher  :  Isma

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan bahwa pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan...

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai publikasi pemerintah kini tidak lagi sekadar pelengkap aktivitas birokrasi, tetapi...

MEMOonline.co.id. Jember- Kecelakaan terjadi di Jalan Ahmad Yani NO 130 tepatnya di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari kebupaten Jember melibatkan...

‎MEMOonline.co.id. Lumajang- Proyek pengurangan resiko bencana Gunung Berapi di sungai aliran lahar Semeru Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro...

MEMOonline.co.id. Lumajang-‎ Ketua DPC GRIB JAYA Kabupaten Lumajang, Nor Holik, menghadiri langsung acara peresmian organisasi MADAS (Madura Asli...

Komentar