Foto: Latif Fianto
Foto: Latif Fianto
Oleh Latif Fianto
MEMOonline.co.id - Suatu malam, teman saya berusaha mengembangkan sebuah hipotesa mengenai sebab meninggalnya seorang guru di Sampang, Ahmad Budi Tjahyanto, akibat penganiayaan yang dilakukan oleh seorang siswanya beberapa minggu lalu. Teman saya itu bilang, jangan-jangan kasus tersebut sedikit banyak dipengaruhi novel Dilan, yang akhir-akhir ini banyak digandrungi masyarakat, khususnya remaja.
Menurut dia, bagaimana seorang Dilan menghajar Suripto saat upacara berlangsung boleh jadi telah menginspirasi HI (inisial siswa yang telah memukul Ahmad Budi Tjahyanto) untuk menghajar Pak Budi. Suripto, dengan tanpa berkata-kata, menarik kerah baju Dilan yang masuk di barisan murid perempuan saat upacara. Jelas Dilan merasa itu bukan tindakan bijaksana seorang guru dalam memberikan hukuman kepada siswa. Itu lebih mirip tindakan yang menjurus pada perpeloncoan, merendahkan diri si murid. Kalaupun pada akhirnya antara si Dilan dan Suripto terjadi tindakan saling menampar, itu karena Dilan ingin melakukan upaya pembelaan karena harga dirinya sudah diinjak-injak Suripto.
Sementara dalam kasus penganiayan guru di Sampang, Pak Budi tidak bertindak seperti Suripto, yang main narik kerah baju si Dilan. Pak Budi telah menasihati baik-baik si HI karena tidak memperhatikan penjelasannya dan bahkan HI mengganggu siswa lain yang sedang belajar melukis. Tetapi saya tidak yakin HI yang melancarkan aksi jurus mematikannya kepada Pak Budi terinspirasi adegan dalam novel tersebut. Sebab bila HI membaca baik-baik novel itu, dia akan mengerti, tindakan Dilan tidak diselubungi motif dendam atau ingin unjuk kebolehan tentang predikatnya sebagai Panglima Tempur geng motor di hadapan Suripto, atau si HI yang ingin menunjukkan jiwa pendekarnya di hadapan Pak Budi.
Lagi pula, saya juga tidak yakin, si HI telah membaca tuntas novel itu, dari edisi pertama hingga yang ketiga.
Lantas apa yang keliru?
Presiden Joko Widodo dalam suatu kesempatan menyampaikan pandangannya: betapa pendidikan karakter budi pekerti masih menjadi pekerjaan rumah di dalam lembaga pendidikan.
Ihwal pendidikan karakter kerap menjadi topik besar dalam dunia pendidikan. Lalu timbul gagasan solutif untuk menambah jumlah jam pada pelajaran agama, hingga pada gagasan diterapkannya kurikulum pendidikan tematik, di mana guru hanya menjadi fasilitator dan murid menjadi pihak yang secara aktif mencari pengetahuan. Sistemnya, guru tidak lagi menjadi penceramah di depan kelas, melainkan hanya memberikan metode dan fasilitas agar peserta didik dapat mencapai pengetahuan-pengetahuan tertentu dengan cara penalaran yang kreatif dan inovatif.
Nyatanya, tambah tahun, murid-murid mengalami kecerdasan intelektual yang sangat signifikan. Paling tidak, seiring majunya zaman dan canggihnya teknologi, peserta didik memiliki kemauan tinggi untuk menjadi peserta didik yang prestatif. Terlebih lagi secara fisik, gedung-gedung sekolah mengalami peningkatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pengadaan fasilitas penunjang prestasi siswa, baik di bidang akademik maupun non akademik, terus digalakkan.
Tetapi tetap saja, kecerdasan intelektual tidak menjamin lahirnya kecerdasan emosional. Atau dalam istilah lain, telah terjadi pergeseran kecerdasan pada sebagian besar peserta didik kita. Semakin cerdas daya intelektualnya, semakin terkikis pula sikap dan perilaku santunnya pada guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang seharusnya digugu dan ditiru.
Saya tidak mengatakan bahwa kekeliruan dalam konteks ini sepenuhnya berada di pundak peserta didik. Atau tidak juga bahwa kekeliruan itu terletak pada sistem pendidikan yang diterapkan. Tak ada yang perlu disalahkan atau pun sengaja dibenarkan. Ini menjadi koreksi sekaligus perenungan bagi kita, siapa pun diri kita, atas kejadian yang menimpa Pak Budi, yang oleh budayawan Madura, D Zawawi Imron, dipandang sebagai tragedi kemanusiaan yang tragis.
Sistem tetaplah sebuah sistem. Ia tidak akan memiliki pengaruh apa-apa tanpa ada pihak yang menjalankannya. Maka dalam dunia pendidikan, keberhasilan sebuah sistem terletak pada pundak penyelenggara di lapangan, yang berada di garda terdepan dalam membentuk pribadi pelajar yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter sikap dan perilaku yang santun terhadap siapa pun.
Sampai di titik ini, perlu rasanya menilik sejauh mana penyelenggara pendidikan di tingkat lapangan, yang tidak hanya menjadikan profesi guru sebagai ladang mencari penghasilan, tetapi bagaimana benar-benar mengemban amanah tersebut sebagai pengabdian kepada negara untuk mencetak generasi bangsa yang baik. Analisa ini cukup dimulai dengan pertanyaan, sejauh mana tenaga pendidik kita mampu menjadi seseorang yang digugu dan ditiru oleh murid-murid? Atau bahkan sebaliknya, bapha, babhu, guru, ratho (falsafah orang Madura dalam berperilaku taat dan hormat kepada orang lain) sudah menjadi dengung lebah dalam benak kenangan?
Manusia lahir di tiga lingkungan. Pertama, ia lahir di dalam lingkungan keluarga. Maka seorang anak akan selalu melihat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya. Kedua, ia lahir di dalam lingkungan pendidikan. Maka ia akan senantiasa mengamati dan mengikuti apa saja kebisaan-kebiasaan yang terjadi di lingkungan sekolah, terutama guru sebagai pihak yang (seharusnya) mampu menjadikan dirinya sebagai contoh. Ketiga, ia lahir di tengah lingkungan masyarakat yang lebih nyata dan luas daripada lingkungan keluarga dan lingkungan pendidikan.
Terlepas dari kejadian tragis yang menimpak Pak Budi, belakangan ini kita mulai kehilangan role model. Bahwa untuk melahirkan peserta didik yang memiliki karakter budi pekerti yang baik tidak cukup hanya melalui ceramah-ceramah membosankan yang disampaikan di depan kelas. Bahwa menjadi siswa yang memiliki budi pekerti yang baik tidak cukup hanya disuruh membaca penjelasan-penjelasan yang terdapat di dalam buku-buku pelajaran. Bahwa untuk menciptakan generasi muda yang baik membutuhkan role model yang nyata, percontohan, tenaga pendidik yang mampu memberikan suri teladan yang baik bagi peserta didiknya.
Tidak dapat dibayangkan jika seorang tenaga pendidik menyampaikan hal-hal baik di dalam kelas, semacam tidak boleh berpacaran, tidak boleh seks bebas, tetapi di luar kelas ia menyuguhkan kenyataan memilukan: seorang guru tertangkap basah sedang membonceng murid perempuannya, dan bahkan ada yang mencabulinya hingga hamil. Kita senantiasa berharap tidak terjadi kerusakan moral pada generasi muda. Tetapi kenyataan selalu bertolak belakang: seorang oknum PNS, misalnya, telah digrebek lantaran ngamar berdua dengan perempuan lain yang sudah memiliki suami dan anak.
Gambaran miris di atas barangkali tidak terjadi di sekitar lingkungan kita. Tetapi generasi muda abad milenium ketiga tidak terlahir di dunia terpisah dari dunia kita hari ini. Mereka dapat melihat dan mempelajari apa saja yang terjadi, yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih tua dari mereka, dan seperti memiliki dalil-dalil yang kuat, mereka merasa tidak cukup berdosa untuk ikut melakukan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi tuntunan. Bapha, babhu, guru, ratho mulai kehilangan sentuhan magisnya.
Kini, di tengah gegap gempita teknologi, di mana hukum tak lagi menjadi panglima, dan para pejabat publik tidak banyak yang bisa menjadi role model, harapan masih disematkan kepada guru-guru kita. Betapa pun Pak Budi telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya, kita masih berharap akan lahir Pak Budi-Pak Budi lain yang mendidik bukan hanya karena soal uang, tetapi karena tingginya pengabdian.
Dan untuk membuktikan bahwa bapha, babhu, guru, ratho masih menjadi falsafah dan pegangan orang Madura, retorika-retorika manis di depan kelas tak cukup menjadi senjata. Budi pekerti yang baik tidak lahir dari perkataan dan tinta-tinta hitam buku pelajaran, melainkan sikap dan perilaku nyata dari yang mengajarkan. (*)
Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, tulisan esai dan cerpennya dimuat di beberapa media massa, Propaganda dan Opini Publik (2016) adalah buku pertamanya.