Foto: Fitrah Fadhihilah Rahman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Foto: Fitrah Fadhihilah Rahman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
MEMOonline.co.id. Mahasiswa- Fitrah Fadhihilah Rahman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), asala Kabupaten Sumenep, Madura, mengajak masyarakat Madura menjadikan budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari identitas daerah.
Ajakan tersebut disampaikannya melalui sebuah video kampanye literasi yang viral di media sosial.
Dalam video itu, Fadhil menyoroti sejumlah tantangan pendidikan yang masih dihadapi Madura.
Menurutnya, laju pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang melambat, ketimpangan akses terhadap bahan bacaan, serta tingginya kerentanan masyarakat terhadap hoaks di era digital menjadi hambatan yang perlu segera diatasi.
"Madura memiliki budaya tutur yang kuat. Namun, tanpa diimbangi dengan penguatan literasi baca-tulis, hal itu dapat menjadi tantangan bagi kemajuan daerah," ujar Fadhil.
Ia mencontohkan Gerakan Lubuk Literasi di Kabupaten Pamekasan sebagai bukti bahwa keterbatasan infrastruktur tidak menghalangi lahirnya kreativitas dan semangat belajar anak-anak desa.
Menurutnya, digitalisasi sastra lisan juga dinilai mampu meningkatkan literasi budaya hingga 32,75 persen.
Fadhil menilai pesantren memiliki peran strategis sebagai penggerak budaya literasi di Madura.
Melalui tradisi dakwah bil-kitabah, penguatan perpustakaan, serta pemanfaatan teknologi digital, pesantren diyakini dapat menjadi pusat pengembangan literasi masyarakat.
"Generasi yang kritis tidak lahir secara instan. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan komunitas untuk mewujudkan Madura yang literat," katanya.
Di akhir videonya, Fadhil mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya sekaligus identitas Madura.
"Saatnya kita wujudkan Madura Literat. Madura Hebat," tegasnya.
Penulis : Ainur
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak