Atas Kerusuhan Suporter Bola, Siapa Bertanggung Jawab?

Foto: Ilustrasi gambar kerusuhan suporter bola
237
ad

MEMOonline.co.id, Jakarta - Indonesia Police Watch (IPW) menilai kerusuhan suporter bola di Bandung dan aksi kerumunan massa suporter yang mengepung Bundaran HI Jakarta terjadi akibat kecerobohan Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI, setelah ketiganya nekat menggulirkan Piala Menpora di tengah pandemi Covid 19.

"Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI harus minta maaf kepada masyarakat atas kerusuhan suporter bola di Bandung dan aksi kerumunan massa suporter yang mengepung Bundaran HI Jakarta," ujar Ketua Presidium IPW, Neta S Pane melalui siaran pers tertulisnya kepada MEMOonline.co.id, Selasa (27/4/2021) pagi.

"Sebagai tanggung jawab moral, Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI harus segera mengganti semua kerusakan dan kerugian masyarakat yang disebabkan amuk suporter, terutama di Bandung," ucap Neta.

IPW mengecam keras pernyataan Menpora yang meminta Polri segera menangkap para suporter yang memprakarsai aksi kerumunan itu.

"Pernyataan Menpora ini salah kaprah. Seharusnya dengan adanya kedua peristiwa di Bandung dan Jakarta itu, Menpora lah yang segera mundur dari jabatannya," tegas Neta.

Sebab, lanjut Neta, kompetisi yang membawa label kementeriannya tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkannya keamanan dan ketertibannya, sehingga terjadi amuk dan kerumunan pasca Final Piala Menpora.

"Artinya, semua yang terjadi ini menjadi tanggung jawab Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI. Akibat kecerobohan ketiganya jangan kemudian tanggung jawabnya dilemparkan kepada suporter. Lalu para suporter dengan semena - mena ditangkap dan diproses hukum oleh aparat kepolisian," terang Neta.

Di sisi lain, tambah Neta, peristiwa amuk suporter di Bandung dan kerumunan suporter mengepung Bundaran HI membuka mata publik betapa lemahnya intelijen dan aparatur cyber Polri.

Akibat lemahnya intelijen dan polisi cyber, semuanya terbiarkan tanpa diantisipasi dan dideteksi dini.

"Polisi baru sibuk dan kebingungan setelah massa berkumpul dan mengamuk. Bayangkan, jika aksi pengepungan massa itu terjadi di depan Istana Kepresidenan, apa jadinya?," ungkap Neta.

Dalam hal ini IPW menilai Polri sudah kebobolan.

Antisipasi, deteksi dini, dan kepekaannya sangat lemah.

Padahal rencana aksi itu sudah muncul di medsos beberapa jam sebelumnya dan Polri tidak mengantisipasinya.

"Sekarang setelah amuk suporter terjadi dan aksi kerumunan massa di Bundaran HI terjadi, Polri baru sibuk hendak memburu medsos pemrakarsanya," tukas Neta.

"Polri lagi-lagi hanya menjadi pemadam kebakaran yang sangat jauh dari konsep Presisi," imbuhnya.

Untuk itu IPW berharap, Polri tidak perlu menangkap dan memproses hukum para suporter. Sebab tanggung jawab semua itu ada di Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI yang tetap nekat menggulirkan Piala Menpora di tengah pandemi Covid 19.

IPW juga mendesak Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI segera meminta maaf kepada masyarakat dan mengganti semua kerusakan maupun kerugian yang ditimbulkan dari aksi suporter tersebut.

Penulis: Bambang

Editor: Udiens

Publisher: Dafa

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Sumenep – Setidaknya, tiga dari 284 orang Bakal Calon Kepala Desa (Bacakades) di Kabupaten...

MEMOonline.co.id, Lumajang - Thoriqul Haq, Bupati Lumajang kembali menerima penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra dari Kementerian Lingkungan...

MEMOonline.co.id, Lumajang - Sebuah pohon di tepi jalan arah Senduro masuk Desa Banjarwaru Kecamatan Kota Kabupaten Lumajang Jawa Timur roboh, Selasa...

MEMOonline.co.id, Bangkalan - Tingginya angka kasus Covid-19 di Bangkalan saat ini membuat prihatin banyak pihak. Tak hanya...

MEMOonline.co.id, Sampang - Fathorrohman, warga Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur diamankan Tim Dhemit...

Komentar