Boy Rafli Amar, Sosok Kandidat Calon Kapolri Yang Mirip Jenderal Hoegeng

Foto: Komjen. Pol. Boy Rafli Amar
1114
ad

MEMOonline.co.id, Bekasi - Jenderal Hoegeng merupakan sosok Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang dikenal tegas dan teguh menjaga kehormatan serta citra Polri. Integritasnya yang tinggi terhadap bangsa dan negara turut mengundang guyonan Presiden Republik Indonesia keempat, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam sebuah diskusi di Bentara Budaya Jakarta beberapa waktu yang lalu, bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.

Dalam guyonan itu, Gus Dur menyinggung upaya pemberantasan korupsi pasca-reformasi 1998 yang dilakukan Polri sebagai salah satu institusi yang diharapkan dapat segera berbenah guna menghadirkan citra Polri yang lebih baik di masyarakat.

Guyonan Gus Dur terhadap sosok Hoegeng dinilai sejumlah kalangan cukup pantas. Kejujuran dan integritas yang melekat dalam diri Hoegeng selama menjalani tugas sebagai seorang polisi memang terkenal jauh sebelum ia menyandang bintang empat di korps tribrata. Saking jujurnya Hoegeng, ia bahkan pernah disantet oleh seorang polisi korup saat memimpin Badan Reserse dan Kriminal di Kepolisian Sumatera Utara.

Kisahnya terjadi saat Hoegeng sering menangani kasus perjudian dan penyelundupan barang-barang mewah dari Singapura ke Indonesia berupa radio, tape recorder, dan arloji serta penyelundupan barang-barang dari Indonesia ke Singapura berupa minyak nilam dan karet.

Kabarnya, para penyelundup mendapat perlindungan dari aparat kepolisian yang korup.

Oknum polisi itu dendam dengan sikap Hoegeng. Ia lantas menyantet Hoegeng dengan meminta bantuan dari seorang dukun.

Saat dikirim santet, Hoegeng pasrah menerimanya. Hingga suatu hari datang seseorang mengaku dukun yang telah menyantetnya. Di hadapan Hoegeng, dukun itu mengaku bahwa dirinyalah yang telah menyantet Hoegeng atas permintaan polisi korup tersebut. Sang dukun mengaku menyesal dan meminta maaf kepada Hoegeng. Ia pun lalu mengobati Hoegeng.

Selain pernah disantet karena ketegasannya, Hoegeng juga pernah difitnah rekan sejawatnya di kepolisian.

Dilansir dari buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono (2013), Hoegeng dipanggil Presiden Soekarno.

Saat itu, Presiden ingin menanyakan kebenaran kabar yang menyebut Hoegeng ingin menggulingkan atasannya, Soetjipto Joedodihardjo yang menjabat sebagai Kapolri sekaligus Menteri/ Panglima Angkatan Kepolisian (Pangak).

Ketika ditanya Presiden, Hoegeng terkejut lantas bertanya,”Siapa yang bilang?”.

Presiden Soekarno lantas menyebut satu nama. Hoegeng lalu minta agar dirinya dikonfrontasi dengan orang tersebut.

Presiden setuju dan menjadwalkan pertemuan dengan orang yang bersangkutan untuk mengkonfrontasi tuduhan itu.

Saat dikonfrontasi dengan orang tersebut, Hoegeng membawa buku besar yang menjadi catatan hariannya. Dihadapan Presiden, Hoegeng membenarkan bahwa dirinya memang didatangi oleh yang bersangkutan di kantor dan di rumahnya.

Secara rinci Hoegeng menyebutkan tanggal dan pertemuannya, serta isi detail pembicaraannya. Hoegeng juga membeberkan jawabannya setelah diajak yang bersangkutan untuk menggulingkan Menteri/ Pangak, Jenderal Pol. Soetjipto.

Dalam pertemuan itu, Hoegeng memang diajak untuk ikut menggulingkan Menpagak. Namun, di catatan buku itu, Hoegeng menyatakan tak bersedia ikut mendongkel Menteri/ Pangak. Selama Pak Tjipto adalah atasan Hoegeng, Hoegeng tidak mau mendongkelnya. Apapun alasannya.

“Jadi sampeyan jangan memutarbalikkan fakta begitu, wong sampeyan sendiri yang mengajak untuk mendongkel pak Tjipto, mengapa saya yang kemudian dituduh?” jelas Hoegeng sambil membacakan dan menunjukkan catatan Kepada Presiden dan orang yang bersangkutan.

Akhirnya, Presiden bertanya kepada polisi yang memfitnah Hoegeng. “Apakah yang diceritakan Hoegeng itu benar?” tanya Soekarno.

Polisi itu lalu menjawab “Inggih Kasinggian (ya betul),” jawab polisi itu.

Tak lama, seusai jabatan Soetjipto Joedodihardjo sebagai Kapolri berakhir, Hoegeng ditunjuk untuk menggantikannya menjadi Kapolri ke- 5 sejak 1968 hingga 1971.

Polisi sederhana

'Sederhana', kata itulah yang juga melekat dalam sosok Hoegeng. Cerita kesederhanaan ini tidak hanya diperlihatkan Hoegeng saat menjabat Kapolri, melainkan juga saat menjabat Menteri/ Sekretaris Presidium Kabinet pada Maret 1966-Juli 1966, dua tahun sebelum dilantik sebagai Kapolri.

Diketahui, selaku Menteri/ Sekretaris Presidium Kabinet, Hoegeng menolak pengawalan pribadi baik di kantor dan di rumahnya. Kepada sekretarisnya saat itu, Soedharto Martopoespito, Hoegeng beralasan, dia tetap bisa bekerja dengan baik meskipun tanpa pengawalan yang diberikan oleh negara.

Hoegeng juga menolak tawaran pengawalan di depan rumah yang menurutnya akan membuat teman-temannya tak berani berkunjung ke rumah.

Kebiasaan itu berlanjut ketika Hoegeng ditunjuk menjadi Wakil Menteri/ Panglima Angkatan Kepolisian (Pangak) dan Menteri/ Pangak sebelum berubah nama menjadi Kapolri.

Hanya ada dua ajudan dinas yang bergantian bertugas saat hari kerja dan staf ajudan yang membantunya sehari-hari.

Jenderal Hoegeng pun tak mengizinkan mereka mengenakan pakaian dinas kecuali ajudan dinas yang memang mendampinginya sehari-hari. Staf ajudan pun diminta hanya berpakaian preman.

Boy Rafli Amar

Cukup banyak kisah kejujuran, kesederhanaan dan keteladanan sosok Hoegeng. Saat ini petinggi Polri yang keteladanannya mirip Hoegeng, adalah Komjen. Pol. Drs Boy Rafli Amar, salah satu nama yang diusulkan Kompolnas ke Presiden Republik Indonesia untuk menggantikan Jenderal Idham Azis sebagai Kapolri.

Doni Ardon, CEO sebuah media, membeberkan keteladanan Boy Rafli Amar saat meliput kejadian gempa berkekuatan 7,6 SR yang mengguncang Sumatera Barat dan daerah sekitarnya.

Menurutnya, gempa yang mengakibatkan 1.115 orang tewas dan 2.329 lainnya terluka, 279.000 bangunan mengalami kerusakan, serta berdampak pada 1.250.000 warga di kawasan mendapat perhatian serius dari Kombes. Pol Drs. Boy Rafli Amar yang menjabat Kapoltabes Padang saat itu.

“Saya selalu ingat, pak Boy Rafli Amar tanpa ragu mempersilahkan kendaraan pribadinya digunakan komunitas relawan dan lembaga kemanusiaan yang terlibat dalam upaya bantuan kemanusiaan untuk Sumatera Barat," ucapnya kepada MEMOonline.co.id, Minggu (10/1/2021).

“Beliau juga menggalang kepedulian berbagai kalangan untuk meringankan beban para korban, membantu evakuasi dan mengajak insan media untuk menyajikan informasi yang penting guna mempercepat penanganan gempa Padang,” tambahnya.

Tak hanya itu, kenang Doni, Kombes. Boy Rafli Amar bahkan membiarkan rumah dinasnya dijadikan base camp para relawan dan insan media.

Sang mentor

Itulah sebutan pemuda Papua untuk Irjen. Pol. Boy Rafli Amar ketika menjabat sebagai Kapolda Papua. Boy Rafli Amar dinilai sosok jenderal yang tak pernah berjanji, tapi kinerjanya nyata dan dirasakan pemuda Papua.

Sang mentor pun tak pernah lelah membimbing pemuda Papua dengan cara memberikan nasihat, bimbingan, serta dukungan untuk kemajuan pemuda Papua.

Bukan hanya itu, pelayanan dengan mengedepankan sikap humanis dan penuh kasih sayang selalu ditonjolkan oleh sang mentor untuk masyarakat Papua.

“Kami sangat terharu. Beliau banyak mempertemukan saya dan teman-teman kepada pejabat Papua, bahkan membantu membuka jaringan, mempertemukan dengan sejumlah pihak pemangku kebijakan, baik di organisasi pemerintah maupun swasta,” kata Michael yang menjabat sebagai Direktur Cenderawasih Reading Center (CRC).

Berani Jujur dan Hebat

Hal lain yang melekat pada sosok Boy Rafli Amar saat mengkampanyekan seluruh komponen bangsa untuk Berani Jujur dan Hebat. Brigjen. Pol. Boy Rafli Amar yang menjabat Karo Penmas Polri saat itu memasang spanduk raksasa ‘Berani Jujur Hebat’ pada akhir Desember 2012.

Pembentangan spanduk raksasa dilakukan Boy Rafli Amar untuk memberi efek pencegahan dan meminimalisir tindak pidana korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) di tubuh Polri serta untuk lebih meningkatkan keterbukaan dari para anggota Polri.

“Sejalan dengan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini dan kedepannya yang sangat kompleks, sangat tepat jika Presiden Republik Indonesia Ir H. Joko Widodo menunjuk dan memilih Komjen Pol. Boy Rafli Amar untuk menggantikan Kapolri Idham Azis yang akan pensiun pada awal tahun ini,” komentar Ketua Umum Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia, Moh. Fauzan Rahman. (Don/Bam/red)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan bahwa pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan...

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai publikasi pemerintah kini tidak lagi sekadar pelengkap aktivitas birokrasi, tetapi...

MEMOonline.co.id. Jember- Kecelakaan terjadi di Jalan Ahmad Yani NO 130 tepatnya di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari kebupaten Jember melibatkan...

‎MEMOonline.co.id. Lumajang- Proyek pengurangan resiko bencana Gunung Berapi di sungai aliran lahar Semeru Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro...

MEMOonline.co.id. Lumajang-‎ Ketua DPC GRIB JAYA Kabupaten Lumajang, Nor Holik, menghadiri langsung acara peresmian organisasi MADAS (Madura Asli...

Komentar