Hidup Miskin Dengan Segala Keterbatasan, Nenek Satami Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Foto: Sebatangkara, nenek Satami tinggal sendirian di gubuk reyot.
851
ad

MEMOonline.co.id, Sumenep - Sungguh malang Satami, perempuan lansia asal Dusun Moralas, Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura.

Bagaimana tidak, nenek Satami hidup sendirian di gubuk berukuran 5x4 meter. Dengan serba keterbatasannya, ia tempati gubuk tua yang mulai reyot sudah tak layak huni itu.

Kesehariannya, nenek Satami menyambung hidup dengan mengumpulkan barang bekas. Ia memungut sampah yang bisa didaur ulang hingga harus menempuh jarak puluhan Kilometer dengan berjalan kaki.

Yang didapatkannya pun tak banyak, setiap harinya ia hanya mampu mendapatkan uang dari barang bekas kurang lebih Rp 10 ribu.

Di gubuk yang berbahan dasar pohon bambu itu, tak satupun peralatan layak pakai ia miliki, semuanya sudah usang. Jangan perabotan rumah tangga lengkap, satu buah cankir utuh ia tak punya.

Kini, di usianya yang diperkirakan sudah sekitar 80 tahun lebih. Ia masih hidup sebatangkara tapa ada keluarga. Tidur hanya beralaskan sebuah tikar anyaman daun siwalan.

"Saya lupa usia berapa, sudah lupa," katanya lesu.

Beruntung, tetangga tempatnya tinggal cukup baik kepadanya, ia mengaku kerap kmu dibantu dikala mengalami kesulitan.

"Alhamdulillah masih ada yang mau menolong saya," ucapnya lirih menggunakan bahasa Madura halus. Senin (28/12/20).

Ironisnya, dengan segala keterbatasannya tersebut, nenek yang tak memiliki keturunan itu hingga kini masih belum tersentuh perhatian, baik bentuk perhatian dari pemerintah daerah maupun pemerintah desa setempat.

Bahkan, menurut keterangan warga sekitar, nenek Satami tak memiliki identitas, baik KK maupun KTP. Sebab ia tak pernah bersuami selama hidupnya.

"Mungkin itu penyebab tidak pernah menerima berbagai macam bantuan dari Pemerintah" ujar tetangga nenek Satami.

Pria yang mengaku bernama Moh Hasan itu menambahkan, setiap hari nenek Satami berangkat pagi dengan membawa karung untuk mengumpulkan barang bekas, lalu hasilnya dijual ke Pasar Kapedi.

"Sekitar pukul 17:50 Wib nenek Satami sudah bisa ditemui di rumahnya," tutupnya seolah tahu jadwal nenek Satami. (Zai/red)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Sepasang suami istri warga Kota Batu berinisial TM dan SR resmi mendapatkan pendampingan hukum dari Kantor Advokat &...

MEMOonline.co.id. Malang- Muslimin & Partner selaku kuasa hukum Rahma Yulinda Handayani Tan, Pimpinan Umum Media Chibernews.co.id, melaporkan dugaan...

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Dugaan praktik pungutan liar (pungli) kembali mencuat di lingkungan pasar tradisional Kota Batu....

MEMOonline.co.id. Malang- Ketua LSM Aliansi Pemantau Anti Korupsi Nasional Republik Indonesia (APAN RI), Rahma Yulinda Handayani Tan, mengecam keras...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, menyiapkan anggaran sekitar Rp250 juta untuk pengawasan program Bantuan...

Komentar