Prihatin Maraknya Kasus Intoleransi, MDG’s DIY Doa Bersama di Gereja Santa Lidwina Bedog

Foto: MDG’s DIY saat menggelar Doa Bersama
1066
ad

MEMOonline.co.id, Sleman - Majelis Dzikir Gusdurian (MDG’s) mengadakan doa bersama, di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Rabu (14/2/2018).

Doa bersama ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap maraknya kasus intoleransi di Yogyakarta.

Bagaimanapun penyerangan terhadap gereja pada Minggu (11/2/2018) lalu,  menambah daftar aksi intoleransi di kota yang sering disebut sebagai Kota Toleransi (The City of Tolerance).

Salah satu kegiatan dalam Doa bersama ialah penyerahan secara simbolik buku berjudul Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gusdur  Karya A. Muhaimin Iskandar dan poster Gusdur tentang toleransi yang bertuliskan Agama Melarang Perpecahan Bukan Perbedaan.

Penyerahan buku dan poster tersebut diberikan langsung oleh Pembina Majelis Dzikir Gusdurian (MDG’s) DIY yakni Kiai Umaruddin Masdar  kepada Romo Kepala Paroki Kumetiran, Yohanes Dwi Harsanto.

Menurut pembina MDGs, aksi penyerangan dan intoleransi umat beragama harus dihentikan dengan cara damai.

"Kami prihatin dan mengucapkan duka atas peristiwa kemarin. Mari kita bangun persaudaraan kembali dan perdamaian di Indonesia," Tutur Kiai Umar saat menyampaikan sambutan.

Beliau juga menegaskan bahwasanya MDG’s DIY hadir untuk melanjutkan perjuangan Gusdur. Dimana Beliau dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan perbedaan.

“Kami datang sebagai pecinta Gus Dur, kaum muda NU. Siapa pun yang melukai fisik mereka (jemaat gereja) sama saja melukai fisik kami, melukai hati mereka berarti juga melukai hati kami, melukai iman mereka sama saja meluakai iman kami,” Imbuhnya.

Setelah selesai doa bersama kemudian dilanjutkan dengan pembacaan rilis sebagai aksi solidaritas dan pernyataan MDG’s atas penyerangan terhadap Gereja.

Beberapa poin penting dari rilis aksi solidaritas yang dibacakan oleh Abdul Kholid Boyan antara lain ialah penyampaian rasa empati terhadap korban penyerangan.

Meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dan terpecah belah apalagi sampai mengganggu hubungan antar umat beragama.

Serta mengajak masyarakat secara luas untuk mengembalikan Yogyakarta sebagai kota toleransi yang menghargai perbedaan keyakinan.

“Keberagaman itu adalah rahmat. Karena itu, menolak keberagaman atau kemajemukan adalah pengingkaran terhadap kalam ilahi. Indonesia membutuhkan lahirnya Gus Dur-Gus Dur baru di era millineal.” Kata Khalid saat membacakan isi Rillis. (Tri/diens)  

 

 

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Sumenep- Komisi Informasi (KI) Kabupaten Sumenep terus menegaskan peran strategisnya dalam menjamin hak masyarakat atas keterbukaan...

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Batu berhasil mengamankan seorang pria, yang diduga kuat sebagai bagian...

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dipastikan tetap stabil dan aman...

MEMOonline.co.id. Lumajang- Komando Distrik Militer (Kodim) 0821/Lumajang kembali menegaskan peran strategisnya dalam mendukung penguatan ekonomi...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep kembali menggencarkan edukasi hukum kepada pelajar melalui program Jaksa Masuk Sekolah...

Komentar