Madura di Persimpangan Sejarah: Seruan Bersatu untuk Wujudkan Provinsi dan KEK Tanpa Lagi Jadi Wacana Kosong

Foto: Ketua IJTI Madura, Veros Afif
598
ad

MEMOonline.co.id. Madura- Madura kembali berada di persimpangan besar sejarahnya.

Beragam inisiasi pembangunan terus muncul, mulai dari wacana pembentukan Provinsi Madura yang bertahun-tahun digaungkan hingga rencana terbaru menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Gerakan para tokoh, aktivis, hingga kelompok masyarakat tak pernah padam, menunjukkan satu ikhtiar besar: membawa Madura keluar dari belenggu ketertinggalan.

Ketua IJTI Madura, Veros Afif, mengingatkan bahwa seluruh inisiasi besar itu tidak boleh berhenti sebagai jargon atau wacana tanpa ujung. Ada masa depan yang sedang dipertaruhkan.

“Kami menyaksikan perjalanan panjang ini. Dari wacana Provinsi Madura hingga sekarang KEK. Jangan hanya jadi cerita yang berulang tanpa akhir. Jika memang serius, maka harus diwujudkan,” tegasnya.

Veros menilai pembangunan Madura bukan sekadar proyek birokrasi, melainkan perjuangan menjaga harga diri dan martabat masyarakat Madura.

“Konsep harus matang. Regulasi harus kuat. Jangan langkah besar seperti ini diperlakukan seperti eksperimen. Ini nasib jutaan orang. Kami jurnalis televisi siap mendukung, karena kami ingin melihat Madura benar-benar bangkit,” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan pengalaman yang membuatnya semakin yakin akan potensi besar Madura.

Saat berkunjung ke Malaysia, Veros bertemu ratusan PMI asal Madura yang bekerja membangun gedung-gedung pencakar langit.

Meski jauh dari tanah kelahiran, mereka menjadi tulang punggung keluarga dan membawa nama baik Madura lewat keterampilan mereka.

“Ratusan ribu PMI di Malaysia itu warga Madura. Mereka bekerja keras, terlibat di proyek-proyek raksasa. Skill mereka bukan kaleng-kaleng. Kalau SDM saja sudah sehebat itu, masa Madura tidak bisa menjadi Provinsi atau KEK? Yang kurang hanya harmonisasi instrumen dan kemauan kolektif,” ungkapnya.

Veros menegaskan bahwa perjuangan menjadikan Madura sebagai Provinsi maupun KEK bukan gerakan individu, melainkan gerakan bersama seluruh masyarakat.

Tanpa soliditas, ia khawatir Madura hanya akan terus menjadi tempat lahirnya ide besar yang tak pernah benar-benar terwujud.

“Kesampingkan ego, hentikan saling klaim. Mari bersatu. Ini momen penentuan masa depan Madura. Kalau kita lengah, generasi setelah kita yang akan menanggung akibatnya,” pungkasnya.

Melalui pesannya, Veros menekankan bahwa perubahan itu nyata—namun hanya dapat diraih oleh mereka yang berani memperjuangkannya bersama.

Penulis     :    Alvian

Editor        :   Udiens

Publisher  :  Syafika Auliyak

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Lumajang- Wisata air legendaris di Kabupaten Lumajang, Pemandian Selokambang, menjadi sorotan setelah muncul berbagai wahana air...

MEMOonline.co.id. Pamekasan- Kebakaran hebat melanda Gudang Kayu “Berkah Al Banjari” dan sebuah toko bangunan di Dusun Bakong, Desa Batukerbuy,...

MEMOonline.co.id. Sumenep- DPRD Kabupaten Sumenep mulai memperketat regulasi pendirian toko modern guna melindungi keberlangsungan pasar tradisional...

MEMOonline.co.id. Sumenep- DPRD Sumenep menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep Masa Khidmat...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Kekosongan sejumlah jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mendapat perhatian serius dari...

Komentar