Foto: Kadishub Sumenep saat diwawancara oleh sejumlah awak media.
Foto: Kadishub Sumenep saat diwawancara oleh sejumlah awak media.
MEMOonline.co.id, Sumenep - Polemik pembangunan jembatan Gili Iyang yang ambruk hingga kini terus berlanjut. Pasalnya, proyek mega besar yang mendapat gelontoran dana hibah dari dari APBD pemerintah provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) tersebut belum digunakan sudah rusak.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep Agustino Sulasno menjelaskan, sebagai leading sektor pelaksana anggaran, pihaknya terpaksa memutus kontrak kerja dengan kontraktor pemabangun jembatan karena ada masalah dalam pembebasan lahan.
"Makanya dihentikan, selain itu kami juga menunggu tim audit untuk mengevaluasi anggaran," jelasnya. Senin (15/6/20).
Sejauh ini, kata Agus, pihaknya masih dalam tahap komunikasi dengan pemilik tanah guna membebaskan lahan bermasalah tersebut.
"Kami juga sudah minta bantuan Kepala Desa setempat (Desa Bancara) untuk berkomunikasi dengan pemilik lahan, responnya positif," imbuh Agus
Pria bertampang bringas itu menambahkan, untuk upaya pembebasan lahan, pihaknya masih akan mendatangkan appraisal guna menafsir harga tanah di pangkal jembatan ujung selatan Pulau Gili Iyang tersebut.
"Prosedur pembebasan lahan di manapun itu harus melalui appraisal penafsir harga tanah, kalau harganya sudah ketemu baru di deal kan dengan pemilik tanah," paparnya
Sementara itu Wakil ketua DPRD Sumenep Indra Wahyudi menilai, pengerjaan proyek yang mendapatkan bagian senilai 15 milyar dari total APBD Pemprov Jatim sebesar 60 milyar tersebut, menurutnya tidak dikerjakan secara maksimal.
"Seperti yang kita ketahui bersama, belum digunakan sudah rusak," katanya
Selain menyoal kontruksi jembatan Gili Iyang yang buruk, ia juga menyinggung perihal pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sumenep yang selalu berhenti ditengah jalan saa tahap proses pengerjaan.
"Makanya kami lakukan evaluasi agar tidak lagi terjadi hal serupa," pungkas Indra. (Zain).