Masalahnya Cuma Nasi Satu Piring

foto: Tabiq Ahmad Dahri
1495
ad

MEMOonline.co.id - Bagaimana ketika anda dalam keadaan lapar kemudian menemui meja makan sedang penuh sesak dengan makanan? Atau apa yang anda lakukan ketika perut sudah mulai sakit dan mual, bahkan bersamaan dengan itu angin sudah tidak bisa ditahan di dalam perut?

Saya kira jawabannya adalah mensegerakan, entah itu makan atau ke kamar mandi, yang jelas anda terburu-buru. Apapun itu yang menyangkut kebutuhan fisik atau jasmani, maka ada sikap otoriter dari dalam diri, memaksa, menyegerakan dan cenderung tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, karena dalam benak anda hanya ada satu hal yakni menyegerakan keinginan.

Kehidupan ini bukan hanya melingkupi wilayah personal saja, tetapi mencakup segeneral mungkin komunikasi sosial. Oleh karenanya kepentingan sosial adalah wujud interaksi kehidupan. Pelayanan misalnya, dalam ruang interaksi terdapat laju yang memiliki ukuran lebih lebar, yaitu pelayanan.

Apalagi kalau yang berdekatan dengan ruang administratif. Seperti halnya pendidikan dan kesehatan. Dua wilayah ini memiliki tendensi kebutuhan yang amat penting. Sehingga perlu kiranya untuk bersikap kooperatif, baik dari pelayan atau yang membutuhkan pelayanan.

Sayangnya hal ini terkadang masih saja diwarnai oleh antrian yang lama, menghabiskan 4-8 jam, bahkan lebih, hanya untuk mengantri sekedar berobat atau memeriksakan kesehatan. Jika alasannya adalah administrasi, maka silahkan ditambah pegawainya, kalau dokter belum datang atau dokternya merangkap diberbagai lembaga kesehatan, mengapa tidak diangkat dokter tetap saja.

Permasalahannya adalah pelayanan terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan, pemeriksaan, sekecil apapun itu. Karena kembali lagi pada aspek kebutuhan maka perlu kiranya ada perhatian lebih terhadap sikap pelayanan di lembaga kesehatan, di manapun itu.

Yang jelas jawaban dan sangkalan akan realitas ini akan menumpuk segunung, dan berbusa-busa ketika berargumen. Dan sayangnya kesadaran humanisme rasanya masih jauh. Apa buktinya? Kalau anda makan di warung maka bayar dulu atau dilayani dengan baik kemudian makan baru bayar?

Lantas bagaimana dengan kebutuhan kesehatan atau yang menyangkut nyawa seseorang? Oleh karenanya pemerataan tugas pelayanan (jika boleh dikatakan) hanya lancar dan berhenti di meja kafe atau meja makan. Lantas bagaimana dengan sikap kooperatif?

Peraturan? Peraturan yang seperti apa yang tidak dilanggar dalam khidupan ini. Pasalnya, manusia menempatkan diri pada satu siklus kehidupan yang terus bergulir, dengan kata lain kehidupan ini terikat oleh pola dinamis bukan pola statis. Aturannya jelas berbuatlah baik kepada siapapun.

Oleh karenanya ketika ranahnya adalah pelayanan maka bukan pada aturan yang baku, tetapi bagaimana manusia memandang manusiannya bukan memandang siapa dia. Sebagai manusia tetantunya tahu kapan manusia bergerak maju dan kapan manusia berhenti sejenak. Karena dengan demikian pola sikapnya adalah tanggung jawab.

Tetapi kembali lagi masalahnya hanya satu piring nasi. Maka siapapun akan menjadi manusia yang sudi berpaling hanya karena nasi satu piring. Apalagi sudah dianggap sebagai kebutuhan pokok.

Oleh karenanya penting sekali menyadari kebutuhan manusia yang lain, atau berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Karena pada dasarnya hanya perihal seberapa peduli anda kepada siapapun yang sedang datang dan mengeluh kepada anda, atau yang anda temui dalam keadaan terlunta-lunta. Mendoakan pastinya iya. Tetapi melonggarkan tangan kemudian menjalin komunikasi yang baik dan memupuk kepedulian rasanya akan lebih berharga.

Tetapi bagaimanapun manusia terlahir dari sesuatu yang sederhana, namun begitu menyimpan beragam potensi luar biasa, siapa? Tuhan, atau alam semesta, Yesus, atau siapapun yang dianggap Tuhan oleh setiap manusia.

Asal bukan nasi satu piring atau lembaran kertas dengan sejumlah nominal. Karena yang terpenting adalah menyadari bahwa setiap manusia memiliki korespondensi cara berpikir, olah sikap serta keterkaitan atau saling nyengkuyung satu sama lain.

Penulis adalah Ahmad Dahri atau Lek Dah, ia santri di Pesantren Luhur Bait al Hikmah Kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Beberapa karya dalam bentuk buku adalah, Multikulturalisme Kontekstual Gus Dur(2015, Revisi 2018), Dialektika Pesantren (2016), Kumpus Orang-Orang pagi (2017) dan monolog Hitamkah Putih Itu (2017, Cetak ke-Dua 2018), Metodologi tafsir (Menyelami Kalam Tuhan) (2018). Dan akan segera terbit Terjemah Niswat assufiyah karya Al Azdy, dan Kumpus Jalan Setapak. Bisa disapa melalui Surel: Lekdah91@gmail.com

 

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Sampang- Medco Energi Pty Ltd bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) kabupaten Sampang menggelar sosialisasi kebencanaan...

‎MEMOonline.co.id. Lumajang- Warga Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Lumajang, mendokumentasi sebuah tangki ukuran 5000 liter membuang limbah di...

MEMOonline.co.id. Jakarta- Presiden Prabowo Subianto mengumumkan serangkaian kebijakan perlindungan pekerja dalam peringatan Hari Buruh Internasional...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Komisi Informasi (KI) Kabupaten Sumenep terus menegaskan peran strategisnya dalam menjamin hak masyarakat atas keterbukaan...

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Batu berhasil mengamankan seorang pria, yang diduga kuat sebagai bagian...

Komentar