Foto: PKL vs LSM saat rapat terbuka di monumen arek lancor
Foto: PKL vs LSM saat rapat terbuka di monumen arek lancor
MEMOonline co.id, Pamekasan - Puluhan pedagang kaki lima (PKL) dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Pamekasan melakukan pertemuan terbukan di area Monumen Arek Lancor Pamekasan, Madura, Jawa Timur, (4/12/2018).
Dalam pertemuan itu membahas persoalan penertipan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Arek Lancor yang menuai polemik. Mereka mensepakati akan melakukan aksi demonstrasi ke pemerintah kabupaten (Pemkab) Pamekasan jika tetap tidak pro rakyat.
Adanya rencana dan reaksi itu lantaran keluarnya surat edaran penertiban berdasarkan peraturan Bupati nomor 31 tahun 2016 tebtang perubahan atas perbub 38 tahun 2009 tentang petunjuk pelaksana perda nomor 5 tahun 2008 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima.
Bab III pasal 6 huruf n "didalam kawasan Arek Lancor, kegiatan usaha hari Jumaat, Sabtu dan Minggu yakni sejak pukul 16.30 WIB, sampai dengan pukul 20.00 WIB".
Menyikapi hal itu, Ahmad Mochtar, salah seorang PKL menuturkan, tindakan yang dilakukan pemerintah ini sangatlah tidak manusiawi. Sebab menurutnya, pemaksaan dan enjagaan ketat dari para petugas itu seakan tidak pro rakyat.
"Kami tidak akan tinggal diam. Ini demi masa depan anak-anak dan keluarga kami," kata Mochtar.
Senada dengan Mochtar, Sulaiman mengatakan, jika tindakan itu terus berlanjut, dengan terpaksa dirinya beserta teman-temannya akan melakukan aksi ke Pemkab Pamekasan.
"Sesuai kesepakatan bersama, kita akan melakukan aksi ke pemerintah daerah bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat yang ada di Pamekasan. Yang memang berpihak kepada kami," ucap Sulaiman.
Sementara itu, Zaini Wer-wer, Ketum LSM KOMAD menegaskan, intinya pihaknya akan tetap bersama rakyat kecil yang selalu diobok-obok pemerintah.
"Dalam waktu dekat kami akan melayangkan surat demonstrasi ke Mapolres Pamekasan. Karena tindakan ini sangatlah jelas tidak pro rakyat," ungkap Wer-wer.
Lebih lanjut, dikatakan Wer-wer, pernyataan Bupati Baddrut akan "berkoalisi dengan rakyat. Tidak mempunya partai berkoalisi" saat ini hanyalah omong belaka.
Sebab menurutnya, itu hanyalah bentuk mengapusi hati rakyat kecil. (Faisol/diens)