Foto: PKL Shining Batu saat sesi foto bersama sebelum berangkat Studi Banding ke Bandung
Foto: PKL Shining Batu saat sesi foto bersama sebelum berangkat Studi Banding ke Bandung
MEMOonline.co.id, Kota Batu – Rupanya, pemberangkatan puluhan pedagang kaki lima (PKL) Shining Batu studi banding ke Bandung oleh Pemkot Batu melalui Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan, Senin (4/12/2018) kemarin, menuai polemik oleh PKL lainnya.
Pasalnya, pemberangkatan PKL oleh Pemkot Batu dari depan De Duwa oleh-oleh khas Kota Batu, pasca diberi pembekalan di Balai Kota Among Tani itu, dinilai hanya buang-buang anggaran, dan terkesan tebang pilih.
"Jujur saja, saya dan teman - teman PKL yang lain merasa aneh dan janggal. Bukannya kami iri tidak diajak, tapi ini kan mengingat sudah tutup tahun dan anggaran yang dipergunakan itu berasal dari mana?," ujar salah satu sumber, yang meminta namanya dirahasiakan, Rabu (5/12/2018).
Apalagi menurutnya, Studi banding PKL Shining Batu ke Bandung, terdapat beberapa kejanggalan. Salah satunya, studi banding tersebut tidak didahului sosialisasi atau pemberitahuan sebelumnya.
"Kalau seperti ini kan kesannya jadi tertutup. Ya paling tidak ada koordinasi terlebih dahulu mulai dari ketua dan anggota. Semua PKL Shining Batu haruslah dikumpulkan, masalah nanti siapa yang berangkat itu bukan masalah. Jadi jangan seperti ini. Kalau hanya beberapa yang tahu, seperti pentolan - pentolan PKL saja yang diajak, berarti bisa diartikan ada tebang pilih. Itu terkesan diskriminasi," papar sumber itu, dengan nada protes.
Di tempat yang sama, sejumlah PKL Shining Batu yang juga keberatan disebutkan identitasnya, menyatakan senada. Intinya, mereka menyayangkan pemberangkatan studi banding ke Bandung yang terkesan tertutup itu.
"Sangat tidak fair dan ironis. Semua PKL tidak diajak. Hanya beberapa saja yang diajak. Tragisnya lagi, ada beberapa caleg juga ikutan studi banding. Mereka kan bukan PKL?! Lantas kapasitasnya ikut sebagai apa?!" papar sumber dimaksud dalam nada curiga.
Alasan soal memilih Bandung sebagai tujuan studi banding, masih versi sumber tersebut, juga tidak relevan. Argumentasinya, masih ada kota lainnya yang lebih baik dari sekadar penatakelolaan PKL.
"Mengapa harus Bandung?! Solo dan Jogja juga dua kota sentra PKL yang sudah tertata rapi, terorganisir dan terelokasi tempatnya. Saya rasa lebih bermanfaat dan mungkin bisa menghemat biaya dengan hasil yang lebih maksimal," tandas ia.
Dikonfirmasi perihal tersebut Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Pemkot Batu, Eko Suhartono, menjelaskan ihwal mengapa tidak semua PKL Shining Batu ikut studi banding tersebut. Galibnya, hanya perwakilan PKL yang diberangkatkan.
"Ya memang tidak semua (PKL) ikut, namun hanya perwakilan PKL saja. Tunjuan studi banding ke Bandung itu untuk belajar tentang tata kelola dan penataan PKL. Di "badrop" kan sudah ada tulisannya. Kunjungan atau Orientasi Lapangan Penataan PKL Kegiatan Pembinaan dan Pelatihan Keterampilan Kerja Bagi Pedagang (DBHCHT 2018) Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Batu," tulis Eko Suhartono melalui medium WhatsApp, Selasa (4/12/2018).
Perihal dana studi banding itu, ia sebutkan bersumber dari APBD 2018.
Namun saat dikonfirmasi lebih lanjut ihwal nominal anggarannya, Eko Suhartono tidak menjelaskan rinci.
Data yang diperoleh jurnalis media ini menyebutkan, studi banding ke Bandung tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 3 Desember 2018. (Risma/diens)