Foto : lokasi pelaksanaan proyek didepan RSUD Lumajang
Foto : lokasi pelaksanaan proyek didepan RSUD Lumajang
MEMOonline.co.id. Lumajang- Konfirmasi terbaru hari ini menyusul kontroversi proyek jembatan penyeberangan senilai Rp336,5 Juta di RSUD dr. Haryoto Lumajang yang dinilai tidak urgen dan anggarannya dianggap terlalu mahal.
Padahal jembatan yang sudah ada dinilai warga masih aman, memadai, dan akses keluar-masuk berjalan lancar tanpa keluhan berarti. Namun proyek tetap digulirkan menggunakan dana BLUD Tahun Anggaran 2026.
Berdasarkan data resmi di lapangan, pelaksana proyek ini adalah Kontraktor CV. Khadijah Land, dengan pengawasan dari Konsultan Pengawas CV. NDE KONSULTAN. Kontrak ditandatangani pada 3 Agustus 2026 dengan masa pengerjaan 90 hari kalender.
Menanggapi sorotan tajam tersebut, Humas RSUD dr. Haryoto, Agus, akhirnya merespons lewat pesan WhatsApp. Jawabannya lugas namun terbatas.
"langsung pean karang wes pak, intinya untuk peningkatan layanan," tulisnya lewat pesan WhatsApp, Rabu (9/9/2026).
Agus sebelumnya menegaskan alasan utamanya adalah pemisahan jalur pasien IGD kritis agar tidak tercampur dengan arus poliklinik yang padat.
Namun, pertanyaan krusial masyarakat terkait besaran biaya yang dinilai membengkak, perhitungan rinci, serta mengapa tidak cukup hanya dengan pengaturan alur lalu lintas hingga kini belum terjawab secara transparan.
"Anggaran itu perlu diaudit. Volumenya berapa itu jembatan, informasi dari pekerja dilokasi nanti jadinya serupa dengan jembatan yang ada itu atau jembatan lama," ucap Adi, warga setempat.
Respon singkat lewat pesan ini justru makin memicu pertanyaan, apakah alasan peningkatan layanan sepadan dengan ratusan juta yang dikeluarkan, atau ini bentuk pemborosan anggaran daerah.
Hingga kini, publik masih menanti penjelasan terbuka dan data yang akuntabel.
Penulis : Mas Her
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak