Foto: Dokumentasi keadaan sebelum dan sesudah dibangun
Foto: Dokumentasi keadaan sebelum dan sesudah dibangun
MEMOonline.co.id. Lumajang- Jalan pertanian di Dusun Duren Desa Dawuhan Lor Kecamatan Sukodono Lumajang, menuai polemik.
Pasalnya sarana fisik penunjang sektor ketahanan pangan itu diduga dilakukan dengan persiapan yang belum matang.
Keluh petani terangkat ke permukaan. Informasi diterima petani, rencana awal pembangunan yakni drainase saluran irigasi.
Tidak tahunya, jalan selebar sekira 4 meter membentang, dan dianggap menyerobot lahan pertanian warga.
"Dulu bilangnya bangun drainase atau saluran air. Memang ditengah ini dulu saluran air. Ternyata bangun jalan gini dan kami menyayangkan, tidak ada sosialisasi atau musyawarah perihal bagaimana kejelasan petani yang sebagian lahannya dipakai untuk jalan. Ada yang ke pangkas sampai 2 meter kanan dan kiri ini, jika 6 petak ke selatan itu, artinya 12 meter tanah pertanian hilang," gumam petani warga setempat.
Sumber pada media ini menyampaikan, masuk tahap jelang pelaksanaan pembangunan ada petugas berkeliling ke para petani, meminta tanda tangan.
"Bahkan ada yang sampai ke sawah. Sempat ditanyain, tanda tangan untuk apa?, petugasnya jawab untuk pelebaran sungai," ucap sumber meminta identitasnya tak di online kan.
"Tanda tangannya di kertas kosong," ujarnya.
Para petani meminta, ada kejelasan lantaran tanah atau lahan sawahnya berubah pasca dipangkas. "Berkurang pak, satu petak itu hilang kurang lebih 2 meteran," papar sumber.
Pantauan media ini dilokasi, bangunan jalan menggambarkan proyek sarat asal-asalan. Retak di sisi kiri dan kanan jalan, menandakan tak akan bertahan lama. Badan jalan, diurug menggunakan campuran pasir dan batuan.
Tak ada papan informasi asal bangunan. Dikerjakan oleh siapa dan berapa besar anggaran hingga sumber anggaran.
Guna memperjelas, Memoonline menghubungi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang Ir. M. Retno Wulan Andari, M.Si melalui saluran seluler. Namun hingga berita ini ditayangkan belum mendapatkan respon.
Dilain sisi, Basuki perwakilan Gabungan Kelompok Tani setempat, mengakui pihaknya dilibatkan awal pada tahap meminta tanda tangan warga (petani -red).
Basuki mengungkap dirinya memperoleh mandat dari kepala desa. "Disuruh cari tandatangan ke petani, persetujuan yang dihibahkan dari desa itu yang nyuruh pak Inggi, Andi Rohman. Saya dari Poktan nyari tandatangan petani dan sama Pak Broto perwakilan desa," ucapnya.
Selebihnya Basuki menegaskan jika proyek itu dibawah naungan desa, tidak ada kaitannya dengan Dinas Pertanian.
"Permintaan warga (petani -red) disitu supaya lancar gitu lo," imbuhnya.
Disinggung jadinya bukan saluran irigasi, melainkan akses jalan dan disoal, Basuki seperti menahan sesuatu ungkapan, lalu merespon, mengatakan tidak mengetahui perihal tersebut.
Sementara Kepala Desa Dawuhan Lor Andi Rohman dihubungi dihari yang sama oleh media, belum bisa terhubung.
Penulis : Mas Her
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak