Foto: Pentas Seni dan Panitia di Madura Culture Festival 2025
Foto: Pentas Seni dan Panitia di Madura Culture Festival 2025
MEMOonline.co.id. Sumenep- Kegiatan akbar Madura Culture Festival (MCF) 2025 yang digadang-gadang sebagai kalender wisata unggulan Kabupaten Sumenep justru menyisakan luka.
Alih-alih mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemkab Sumenep justru tekor ratusan juta rupiah akibat ulah oknum yang diduga kuat berasal dari internal BAZNAS Sumenep.
Berdasarkan data resmi, Pemkab Sumenep telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp310 juta untuk penyelenggaraan MCF 2025.
Namun, pemasukan yang tercatat ke kas daerah melalui PAD hanya Rp4,9 juta. atau hanya 1,6 persen dari total anggaran yang dikeluarkan pemerintah daerah, jadi bisa dikatakan Pemkab Sumenep tekor Rp305,1 juta.
"PAD yang masuk ke kami hanya sewa stadion Rp500 ribu kali 7 hari yakni Rp3,5 juta dan bagi hasil parkir yang kami kelola yakni 10%. Hasil parkir mendapatkan sekitar Rp14 juta jadi 10 persennya Rp.1, 4 juta dan sudah kami setor ke Bapenda, " kata Kepala Disbudporapar Sumenep, Mohammad Iksan kepada media ini. Senin (15/09/2025).
Namun, ketika Iksan ditanya soal pendapatan dari hasil menyewakan tenda atau standa dengan tarif beragam mulai dari Rp 800 ribu, Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Jika sewa tendanya itu dirata-ratakan Rp1,5 juta dikali 146 tenda, maka terkumpul dana sangat fantastis mencapai Rp219 juta.
"Untuk tenda atau stand bukan kami yang mengelola tapi langsung panitia, jadi tidak ada PAD masuk dari hasil sewa tenda," ungkapnya.
Kondisi ini membuat publik geram, terlebih setelah muncul dugaan bahwa dana kegiatan MCF “digarong” oleh oknum yang menyalahgunakan kewenangan.
Nama seorang komisioner BAZNAS Sumenep disebut-sebut sebagai dalang utama pungutan liar yang membengkakkan biaya kegiatan hingga Rp739 juta.
Padahal, MCF 2025 sejatinya diproyeksikan sebagai event budaya untuk mengangkat potensi pariwisata, UMKM, hingga kesenian lokal.
Namun, kenyataannya, manfaat ekonomi bagi daerah justru sangat minim, bahkan merugikan keuangan daerah.
“Kalau benar ada oknum yang menggarong dana MCF, maka harus diproses hukum. Ini bukan sekadar mencoreng wajah pariwisata Sumenep, tapi juga merugikan masyarakat,” tegas seorang tokoh masyarakat, yang meminta namanya tidak disebut.
Berdasarkan hasil investigasi tim media ini, anggaran yang cukup fantastis itu, berasal dari anggaran APBD Sumenep 2025 sebesar Rp310 juta.
Anggaran ratusan juta itu terbagi untuk enam kegiatan, termasuk MCF itu sendiri Rp200 juta, Madura Night Vaganza Rp25 juta, Batik Festival Rp35 juta, Festival Tembakau Rp15 juta, Pamdas Rp15 juta dan Sweet Model Rp20 juta.
Tak cukup mengeruk dana APBD, oknum pejabat Baznas Sumenep itu juga diduga menjual sewa stand bagi peserta yang mengikut event MCF tersebut dengan tarif beragam, yakni mulai dari Rp 800 ribu, Rp1,5 juta hingga Rp3 juta.
Jika sewa tendanya itu dirata-ratakan Rp1,5 juta dikali 146 tenda, maka terkumpul dana sangat fantastis yakni sebesar Rp219 juta.
Belum cukup sampai disitu, sifat maruk oknum BAZNAS juga dipraktekkan kepada Paguyuban Pengusaha Rokok, dengan membawa nama Bupati.
Tidak tanggung-tanggung, Pengusaha rokok dimintai sumbangan yang nilainya cukup fantastis, yakni Rp3 juta per PR (Pabrik Rokok).
Sementara paguyuban rokok di Kabupaten Sumenep beranggotakan sekitar 70 PR, dan jika dikalikan Rp3 juta yang sesuai permintaan oknum Baznas yang diduga jadi panitia penyelenggara dibalik layar itu mencapai Rp 210 juta.
Meski Paguyuban Pengusaha tidak menyanggupi permintaan oknum pejabat Baznas, pihaknya tetap memberikan iuran sejumlah Rp40 juta yang katanya ditransfer langsung kepada Sugeng.
Jadi total sementara uang dikeruk oleh oknum anggota Baznas itu dari APBD, sewa tenda, dan sumbangan dari paguyuban pengusaha rokok mencapai Rp739 juta.
Belum termasuk dana sponsor seperti SKK Migas, BPRS dan RSUD mungkin bisa mencapai Rp1 Miliar.
Sementara itu, Panitia penyelenggara kegiatan MCD 2025 Sugeng, sebagaimana dikutip dari media dimadura mengatakan, bahwa perannya sebatas pelaksana event MCF dan pameran pembangunan.
“Tidak benar kalau saya mengendalikan semua. Setiap festival punya panitia masing-masing. Saya hanya pegang Madura Kultur dan pameran pembangunan,” ujarnya, Jumat (12/9).
Bahkan terkait pungutan kepada pengusaha rokok, segeng mengelak dan mengatakan hanya fitnah bahkan dia mengklaim tidak ada dana yang masuk ke rekening pribadinya.
“Justru paguyuban yang menanggung biaya orkes, panggung, sampai tenda. Tidak ada yang saya makan. Kalau disebut 1 miliar, itu bohong,” tegasnya.
Sementara untuk isu jual-beli stand di MCF 2025 menjadi sorotan karena tarif disebut mencapai jutaan rupiah.
Sugeng mengatakan tarif yang berbeda-beda itu mulai Rp350 ribu khusus untuk UMKM.
Namun ia diduga tidak berani menyebutkan tarif untuk OPD, Camat, BUMD, BUMN dan pengusaha swasta.
“Orang hanya lihat nominalnya. Padahal biaya keamanan saja tiap malam Rp2,5 juta. Pengamanan stan, kebersihan, itu besar,” jelasnya.
Tak hanya itu Sugeng juga berdalih biaya yang dipungut bukan untuk keuntungan, melainkan menutup kebutuhan operasional festival. Ia juga menepis anggapan sponsor mengalir dalam jumlah besar.
“Sponsor pun kecil, RSUD hanya Rp500 ribu, SKK Rp2,5 juta, Kangean Energi Rp5 juta,” dalihnya.
Namun sayang hingga berita terkait event MCF ini sudah tayang berkali, Bupati Sumenep tidak berani mengambil sikap untuk meluruskan isi tak sedap ini.
Penulis : Alvian
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak