Melepas Ketergantungan Kedelai Impor, Anggota Komisi II DPRD Jabar Sarankan Pemerintah Maksimalkan Produksi Dalam Negeri

Foto: Faizal Hafan Farid
145
ad

MEMOonline.co.id, Bekasi - Menghilangnya tahu dan tempe di sejumlah pasar di Jawa Barat perlu disikapi secara serius. Terlebih masyarakat Indonesia umumnya menyukai dua jenis makanan yang mengandung sumber protein nabati tinggi tersebut.

"Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional, kenaikan harga kedelai dari yang sebelumnya 7 ribu rupiah per kilo dan kini mencapai 12 ribu per kilo memicu produsen tahu tempe berhenti berproduksi," ujar anggota Komisi II DPRD Jabar, Faizal Hafan Farid saat berkunjung ke Pasar Tegal Danas, Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Senin (7/6/2021) siang.

Faizal mengakui bahwa sejak dua minggu lalu telah melakukan pengawasan ke sejumlah pasar di Jawa Barat.

"Saya berharap produsen tempe tahu tidak meliburkan kegiatan produksi dan penjualan. Namun akhir Mei 2021 kemarin, paguyuban tahu tempe Jabar tetap melakukan mogok massal dengan meliburkan kegiatan produksi dan penjualan tempe tahu," ungkapnya.

Faisal mencatat kelangkaan kedelai di Jawa Barat dan sudah menyarankan Satgas Pangan Jabar untuk melakukan operasi pasar.

Mantan anggota DPRD Kabupaten Bekasi 2 periode berturut-turut (2004-2014) itu menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai dalam negeri dikarenakan Indonesia masih mengandalkan pasokan kedelai secara impor.

Sehingga, lanjut Faisal, ketika harga kedelai global mengalami gejolak akibat tingginya permintaan di pasar global, maka harga kedelai dalam negeri pun ikut mengalami kenaikan.

"Tingginya permintaan kedelai dunia menjadi penyebab utama kenaikan harga," jelasnya.

Menanggapi gejala tersebut, Faizal menyarankan pihak Pemerintah agar menyiasatinya dengan menambah stok melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) maupun lembaga lainnya.

"Begitupun program ketahanan pangan kita harusnya sudah mulai melakukan langkah-langkah peningkatan produksi kedelai dalam negeri di tiap-tiap daerah," tuturnya.

"Sehingga saat panen kedelai dunia terlambat, pasokan berkurang dan terjadi lonjakan di pasar global yang menyebabkan harga naik tidak lagi berdampak terhadap kebutuhan kedelai dalam negeri," sarannya.

Akibat melonjaknya harga kedelai, pastinya produsen tahu tempe akan melakukan segala cara agar tidak merugi. Salah satunya mungkin dengan mengurangi ukuran tahu-tempe menjadi lebih kecil.

"Segala cara pasti dilakukan para perajin tahu-tempe mulai dari mengurangi ukuran menjadi lebih kecil. Tetapi hal itu tidak berdampak signifikan karena ukuran yang diperkecil juga menyebabkan tahu dan tempe mudah hancur," ungkapnya.

"Jika sudah hancur, masyarakat jelas tidak mau beli, inilah sebabnya banyak pengusaha tahu tempe mengalami bangkrut," pungkas Faisal

Penulis: Bam

Editor: Udiens

Publisher: Lina

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Sumenep - Melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu...

MEMOonline.co.id, Lumajang - Sebanyak 1753 buruh tani tembakau dan buruh pabrik rokok di Kabupaten...

MEMOonline.co.id, Jakarta - Laga Madura United FC versus PSIS Semarang yang akan digelar di Stadion Wibawa Mukti Bekasi...

MEMOonline.co.id, Probolinggo - Puluhan pemilik kapal yang tergabung dalam HNPP (Himpunan Nelayan dan Pengusaha Perikanan ) Samodra...

MEMOonline.co.id, Probolinggo - Tawuran sekelompok pemuda tersebut terjadi di Bundaran Gladak Serang Kecamatan Kanigaran Kota...

Komentar