Foto: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat jumpa pers di Pendopo Sumenep
Foto: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat jumpa pers di Pendopo Sumenep
MEMOonline.co.id, Sumenep - Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait gempa dan tsunami.
Sosialisasi Perwali No.78 2020
Diamana, berdasarkan pemodelan skenario kebencanaan, di Pulau Jawa akan terjadi bencana tsunami dengan skala masif atau secara bersamaan.
Menurut riset berbasis data BMKG dan GPS itu, tsunami setinggi 20 meter dapat menghantam Pulau Jawa, tepatnya pantai selatan Jawa barat.
Secara bersamaan, gelombang tsunami setinggi 12 meter juga dapat melanda selatan Jawa Timur (Jatim). Bahkan, tinggi maksimum diprediksi rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.
Menyikapi hal itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengingatkan warga agar selalu waspada terhadap potensi bencana.
Pasalnya, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh tim peneliti S Idiantoro dari Global Geophysyc Reasearch Group ITB tersebut, gelombang tsunami kapan saja bisa terjadi.
Kata dia, mengingat gelombang tsunami kapan saja bisa terjadi. Pihaknya telah berkoordinasi dengn BMKG Jatim perihal hasil kajian tersebut.
Hasilnya, pemerintah provinsi (Pemprov) Jatim telah menyiapkan sejumlah pengendalian sebelum gelombang tsunami tersebut menerjang Pulau Jawa.
"Kami sudah berdiskusi secara khusus dengan Kepala BMKG persoalan potensi tsunami ini," ucap Khofifah
Dalam rangka kunjungannya ke Kabupaten Sumenep pada Selasa (29/9/20) siang tadi, dirinya menjelaskan kajian yang dilakukan Pemprov Jatim dengn BMKG yaitu memetakan retakan lempengan-lempengan bumi terjadi di wilayah mana saja dan sampai kapan kemungkinan terjadinya tsunami.
"Kami telah memasang Early Warning System (EWS) yang dipasang dibeberapa titik-titik yang kemungkinan berisiko tsunami. Perlu diketahui oleh masyarakat. Supaya secara kontinyu selalu di cek," jelasnya.
Kemudian di beberapa titik, lanjut Khofifah, BPBD Jawa Timur sudah menyiapkan desa-desa tangguh. Keberadaan desa tangguh ini diharapkan sudah siap melakukan mitigasi sampai evakuasi semisal sudah diprediksi secara saintifik tsunami sudah muncul.
"Semua pola-pola ini sebetulnya sudah dilakukan, tapi kami harapkan masyarakat tetap waspada, tetap berjaga-jaga, tetap siaga," tandasnya. (Zai/red).