Foto: Para petani saat foto bersama tim Kunker Komisi XI DPR RI
Foto: Para petani saat foto bersama tim Kunker Komisi XI DPR RI
MEMOonline.co.id, Kota Batu - Komisi XI DPR RI melakukan kunjungan kerja (kunker) bersamaan dengan masa persidangan V / 2018 - 2019 ke gabungan kelompok tani (gapoktan) di Jl. Raya Junggo No. 129, Sumber Brantas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Senin (29/7/2019).
Kunker tersebut untuk melihat kinerja Bank Indonesia (BI) dalam membantu kelompok-kelompok tani. Selain itu juga menjalankan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berjalan atau tidak.
"Kebetulan di gapoktan Desa Junggo ini juga menerima PSBI," kata wakil dari gapoktan Mitra Arjunan, Imam Hanafi.
Ia menjelaskan program-program dari Bank Indonesia (BI) yang telah disetujui para petani tentang peningkatan produktivitas.
Ia contohkan, tahun 2012 para petani di Junggo menanam kentang, rata-rata di lahan 15 hetare, hasil menjadi 30 ton per hertare.
"Jadi ada kenaikam produktivitas. Kalau dari segi paska-panen para petani diajari tentang mengolah hasil pertanian, ada nilai tambahnya," ungkap Imam Hanafi.
Sementara tahun ini, lanjut ia, gapoktan di wilayah Junggo fokus pada dikomoditas tanaman bawang putih.
"Ya, tahun ini kami tanam bawang putih. Dijadikan flaster di bawang putih agar fokusnya dikomoditas bawang putih. Kami siapkan cara berbudidaya guna menghemat biaya produksi dan mendapatkan hasil yang meningkat," tuturnya.
Tak hanya itu, ia mengaku ditadatangkan tenaga ahli dari Universitas Brawijaya yang ditunjuk oleh BI untuk mengajari petani.
"Jadi, kami dibina. Tidak langsung dari BI, tetapi BI menunjuk tenaga ahli untuk mengajari petani," katanya.
Meski demikian, ia menambah, budidaya bawang putih telah berjalan sekitar lima bulan, dan diawali dengan studi banding ke Tegal, Jawa Tengah, untuk melihat budidaya bawang putih dengan kualitas yang bagus.
"Alhamdulillah, sebenarnya petani di sini sendiri sudah mulai ada panen bawang putih dan hasil juga tidak kalah dengan yang di Tegal sana," katanya.
Kendati demikian, khusus di daerah Junggo ia sebutkan biaya produksinya masih tinggi. Jadi, untuk mengganti biaya produksi. Contohnya dengan mengendalikan pestisida. Misal, yang biasanya memakai bahan kimia sekarang memakai "agensi hayati" yang bisa dibeli sendiri. Malah dibuatkan lap untuk memproduksi "agensi hayati".
"Saat ini sudah berjalan, dan sudah dicoba di lapangan," terangnya.
Ia berharap dengan keberadaan dana dari BI melalui program yang sangat bagus, bisa dikembangkan lebih luas untuk para petani lainnya.
"Program binaan yang kami terima yang kelihatan berhasil ini, dikembangkan untuk petani - petani yang lain," imbuh dia.
Secara terpisah, Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, menambahkan saat tepat untuk memulihkan kualitas tanaman bawang putih lebih dari tahun 1990.
"Harapan kami mengembalikan lebih baik lagi tanaman bawang putih, karena mengembalikan kualitas bawang putih di era tahun 1990-an. Pada saat itu, krisis ongkos produksi petani yang tidak sesuai dengan harga jual," pungkasnya. (Risma)