Foto : LMP saat Melakukan Aksi di Depan Hotel Front One (12/12)
Foto : LMP saat Melakukan Aksi di Depan Hotel Front One (12/12)
MEMOonline.co.id, Pamekasan - Pasca adanya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Laksar Merah Putih (LMP) pada hari Rabu (12/12) kemaren, Managemen Hotel Front One dalam press conference menyayangkan adanya aksi premanisme yang dilakukan oleh Ormas LMP pada hari Kamis (13/12).
Tidak terima atas pernyataan Direktur Hotel Front One, Bernat yang menyatakan aksi demonstrasi itu aksi premanisme yang tidak boleh dibiarkan.
Pembina LMP, Budi angkat bicara. Menurutnya, ia berhak melakukan aksi demonstrasi tersebut sebagai anak daerah Kabupaten Pamekasan. Bahkan menurutnya, dirinya juga berhak menutup paksa Hotel Front One yang sudah jelas melabrak aturan itu. "Kami warga Pamekasan berhak bertindak," katanya.
Lebih lanjut, kata Budi, jika mau investasi di Kota Gerbang Salam ini silahkan, namun jangan melabrak aturan yang ada.
"Urus izinnya dan lain sebagainya dulu. Baru bangun, bukan bangun dulu baru buat izin," tuturnya.
Menanggapi pernyataan aksi 1212 kemaren yang sempat dikatakan aksi premanisme oleh Direktur Hotel Front One, Budi menegaskan, orang Chino jangan seenaknya saja bertindak seperti itu.
Bahkan dirinya meminta pihak managemen Hotel Front One untuk meminta maaf kepadanya.
"Kami tunggu permintaan maafnya kepada kami, jika tidak kami tidak mau tau lagi bagaimana kedepannya," tegas Budi.
Menurutnya, jika Hotel Front One mengatakan kami bertindak premanisme di depan para media dengan melakukan press conference, maka kami juga permintaan maaf Hotel Front One berbentuk press conference. "Harus berbentuk press realis didepan para wartawan," pintanya.
Sekedar diketahui, Direktur Hotel Front One, Bernat dalam press conference mengatakan, harusnya Laskar Merah Putih itu tidak bertindak premanisme. Bahkan, dirinya menegaskan, jika premanisme yang terjadi itu tidak dapat dibiarkan.
"Kabupaten yang kita cintai ini kan mempunyai hukum daerah, harusnyakan kalok pihak berwenang itu tidak menutup, harusnyakan gak boleh ditutup oleh sembarang orang. Kalok begitukan namanya premanisme. Premanismen tidak dapat dibiarkan. Sebetulnya dalam hukum juga diambil, tapi sebagai pembelajar untuk kedewasaan kita semua," tegas Bernat.
Mengenai persoalan penutupan Hotel Front One yang hingga saat ini simpang siur, Bernat menjelaskan, itu ditutup memang dari perusahaan, karena memang tidak mau sampai terjadi kerusuhan. Sebab menurutnya, dia lebih memilih mengalah. Namun, bukan mengalah mau didzolimi lagi oleh tindakan kemaren itu.
"Sudah teriak-teriak, sudah tidak mau mendengarkan kita. Kita punya penjelasan. Kita punya aspirasi. Kita sedikit mengalah. Bukan berarti mengalah ini mau didzolimi lagi, itu tidak mau terjadi lagi," pungkasnya. (Faisol)