Cerita Pilu Pengrajin Genteng Sumenep Yang Usahanya Tak Lagi Menjanjikan

Foto: salah seorang pengrajin genteng sumenep sedang memperagakan usaha pembuatan genteng
1752
ad

MEMO online, Sumenep – Saat ini, nasib pengrajin genteng di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, berada diujung tanduk.

Usaha membuat genteng sejak puluhan tahun, mulai kurang diminati masyarakat. Sehingga, para pengrajin genteng yang ada di Kabupaten Sumenep,terancam gulung tikar.

Sebab hasil usaha kerajinannya saat ini, mulai sulit dipasarkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Bunarwiyanto, salah satu pengrajin genteng asal Desa Andulang, Kecamatan Gapura, Sumenep.

"Kendalanya saat ini soal pemasaran," katanya saat ditemui di tempat mereka memproduksi, Rabu (13/12/2017).

Menurutnya, menurunnya minat warga pada produk genteng asal Abdulang itu, diduga akibat masuknya genteng yang diproduksi oleh perusahaan. Seperti genteng beton dan juga hasbis.

Persoalan tersebut kata Bunarwiyanto telah disampaikan kepada Pemerintah Daerah. Harapannya pemerintah daerah ikut andil mencari solusi agar pengrajin genting tetap bertahan.

"Di area perkotaan banyak yang memakai geting beton," jelas pria yang juga menjabat sebagai ketua kelompok Komasettong itu.

Minimnya peminat itu menyebabkan semangat pengrajin mulai kendur meskipun itu sudah dilakukan secara turun temurun. Karena proses produksi membutuhkan waktu yang cukup lama.

Pertama pengrajin harus mengulah tanah liat yang dicampur dengan pasir. Setelah jadi, baru masuk proses cetak dengan menggunakan alat pencetak yang disediakan.

Setelah itu, didiamkan dibawah atap bangunan hingga setengah kering. Kemudian dijemur selama kurang lebih dua hari, setelah kering lalu masuk proses pembakaran.

"Proses pembakaran ini membutuhkan waktu selama dua sampai tiga hari," jelasnya.

Kemudian setelah dinyatakan bagus, diambil dan dijeburkan ke air yang disediakan. Jika proses itu sudah selesai, hasilnya sudah siap jual.

Sementara produksi setiap hari satu pengrajin hanya mampu memproduksi sekitar 500 unit. Itu apabila pengolahan bahan menggunakan alat modern, seperti mesin pengolah tanah liat.

Sedangkan harga jual saat ini dipatok Rp1-1,3 juta per 1000 unit. Namun, dia bersyukur karena tahun ini mendapatkan bantuan peralatan dari pemerintah dartah. Sehingga saat memproduksi akan semakin mudah.

"Ini harga ditempat," jelasnya. (Ita/diens)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan bahwa pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan...

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai publikasi pemerintah kini tidak lagi sekadar pelengkap aktivitas birokrasi, tetapi...

MEMOonline.co.id. Jember- Kecelakaan terjadi di Jalan Ahmad Yani NO 130 tepatnya di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari kebupaten Jember melibatkan...

‎MEMOonline.co.id. Lumajang- Proyek pengurangan resiko bencana Gunung Berapi di sungai aliran lahar Semeru Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro...

MEMOonline.co.id. Lumajang-‎ Ketua DPC GRIB JAYA Kabupaten Lumajang, Nor Holik, menghadiri langsung acara peresmian organisasi MADAS (Madura Asli...

Komentar