Foto: Jalan Nasional Sumenep–Kalianget
Foto: Jalan Nasional Sumenep–Kalianget
MEMOonline.co.id. Sumenep- Kondisi Jalan Nasional Sumenep–Kalianget kembali menjadi sorotan. Ruas jalan yang menjadi salah satu akses vital menuju kawasan Pelabuhan Kalianget tersebut dinilai membutuhkan penanganan lebih serius karena masih ditemukan sejumlah titik kerusakan.
Padahal, kawasan Pelabuhan Kalianget memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas distribusi barang dan kebutuhan pokok masyarakat, khususnya menuju wilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Hampir setiap hari, baik siang maupun malam, aktivitas pengiriman barang dan berbagai kebutuhan pokok berlangsung melalui dermaga yang berada di Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget.
Pemerhati dari Brigade 571, Sarkawi, mengatakan Desa Kalianget Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu titik transit distribusi barang menuju sejumlah wilayah kepulauan.
Menurutnya, keberadaan dermaga di kawasan tersebut sangat vital bagi keberlangsungan perekonomian masyarakat kepulauan.
“Kalau tidak ada dermaga yang ada di Desa Kalianget Timur, dengan sendirinya aktivitas perekonomian masyarakat kepulauan bisa lumpuh,” ujar Sarkawi.
Namun, tingginya aktivitas distribusi tersebut tidak sebanding dengan kondisi akses jalan menuju pelabuhan yang masih mendapat sorotan.
Sarkawi menilai sejumlah titik di Jalan Sumenep–Kalianget mengalami kerusakan, mulai dari permukaan jalan yang tidak rata hingga lubang yang dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.
Kondisi tersebut juga dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas apabila tidak segera mendapat penanganan.
“Sudah bertahun-tahun Jalan Sumenep–Kalianget hanya dilakukan tambal sulam. Ironisnya, pekerjaan di lapangan juga tidak semuanya dikerjakan,” katanya.
Ia mempertanyakan pola penanganan jalan yang dinilainya masih cenderung bersifat parsial.
Menurut Sarkawi, jika kerusakan jalan sudah terjadi di banyak titik, pemerintah seharusnya melakukan evaluasi menyeluruh dan tidak hanya mengandalkan perbaikan sementara.
“Jangan hanya tambal sulam setiap tahun. Kalau memang kondisi jalan sudah banyak yang rusak, harus ada penanganan secara total dan menyeluruh,” tegasnya.
Sarkawi juga menyinggung adanya dugaan pola pekerjaan perbaikan jalan yang berulang setiap tahun. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut harus dibuktikan melalui pengawasan serta pemeriksaan oleh pihak berwenang.
“Kami menduga ada permainan dalam pekerjaan perbaikan jalan, sehingga penanganannya hanya berkutat pada tambal sulam setiap tahun. Tetapi tentu dugaan ini harus dibuktikan dan diawasi secara transparan,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan Jalan Sumenep–Kalianget tidak semata menyangkut kenyamanan pengguna jalan. Lebih dari itu, kondisi jalan berkaitan langsung dengan kelancaran distribusi kebutuhan pokok masyarakat kepulauan.
Karena itu, Sarkawi meminta Pemerintah Kabupaten Sumenep, khususnya Bupati dan DPRD Sumenep, ikut memperjuangkan agar penanganan ruas jalan tersebut mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah yang memiliki kewenangan.
Ia juga berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong peningkatan kualitas infrastruktur Jalan Sumenep–Kalianget agar tidak terus bergantung pada pola tambal sulam.
“Kami berharap Gubernur Jawa Timur memperhatikan keluhan masyarakat. Jalan Sumenep–Kalianget ini sangat vital karena menjadi akses menuju kawasan pelabuhan dan jalur distribusi kebutuhan masyarakat kepulauan,” pungkasnya.
Penulis : Alvian
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak