Foto: Sejumlah aksi massa saat melakukan orasi di simpang empat patung Kota Sumenep.
Foto: Sejumlah aksi massa saat melakukan orasi di simpang empat patung Kota Sumenep.
MEMOonline.co.id, Sumenep - Seperti biasa, siang itu jalanan Kota Sumenep penuh dengan kendaraan yang melintas. Hanya saja, ada suasana berbeda di siang yang panas itu. Selasa (3/11/20).
Sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan aliansi rakyat bergerak (ARB) berdiri tegak di simpang empat patung kuda. Mereka menyuarakan nilai-nilai kedaulatan rakyat yang tertindas.
Dengan bergandengan tangan, puluhan masiswa itu mengelilingi tugu monumen jantung Kota. Orasi mereka menggelegar memecah kebisingan ratusan kendaraan yang melintas.
Koordinasi aksi lapangan (Korlap) aliansi rakyat bergerak Moh Faiq mengatakan, melakukan aksi turun jalan itu merupakan panggilan jiwa, melihat ketidakadilan yang terjadi.
Menurutnya, pemangku kebijakan di Kabupaten Sumenep saat ini telah menjadi kaki tangan para pemilik modal dan pemilik kepentingan. Sehingga birokrasi tidak lagi menjunjung tinggi penegakan hukum dan membela kepentingan rakyat.
"Seharusnya dari pemimpin mengedukasi masyarakat, bukan sebagai alat perjuangan kelas seperti yang dikatakan Karl Marx," ujarnya.
Kata dia, kondisi Kabupaten Sumenep saat ini tidak sedang baik-baik saja, telah terjadi perampasan ruang hidup. Kado indah di hari jadinya yang ke 751 tahun justru banyak pengrusakan lingkungan dan munculnya sistem oligarki yang berkedok demokrasi.
"Pemerintah saat ini sudah tidak peduli dengan rakyatnya, hanya Virus Corona yang selalu dilebih-lebihkan, tapi tutup mata dengan kejadian-kejadian yang menimpa lingkungan," bebernya.
Berangkat dari keresahan-keresahan itu, pihaknya menuntut pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep agar lebih membuka mata, serta melihat kondisi real yang diinginkan rakyatnya.
"Cabu Omnibus Law dan hentikan kran investasi yang merugikan rakyat dan merusak lingkungan," tandasnya. (Zai/red)