Dikategorekan Sajam, Pengrajin Keris Sumenep Mengeluh Proses Ekspor Benda Pusaka ke Luar Negeri

Foto: Salah satu pengunjung sedang mengamati benda pusaka hasil kerajinan mpu sumenep
3063
ad

MEMOonline.co.id, Sumenep – Meski sudah sejak lama Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu daerah pengrajin keris terbesar di nusantara, namun saat ini sebagian pengrajin keris mulai mengeluhkan sulitnya pengiriman hasil karyanya ke luar negeri.

Hal itu dikarenakan, keris dikategorikan senjata tajam (Sajam), yang penjualannya harus ada ijin khusus dari pemerintah.

"Oleh karena itu kami minta perhatian khusus kepada pemerintah untuk memfasilitasi saat pengiriman ke luar negeri. Saat ini banyak kendala yang kami alami," kata Salamu, salah satu pengrajin keris asal Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Bluto, Sumenep.

Padahal menurut pria yang juga sebagai koordinator pengrajin keris Sumenep ini, mengakui jika peminat keris di luar negeri cukup banyak.

"Ada dua empu di Desa Aeng Tongtong yang rutin setiap bulan mengirim keris ke Thailand dan Malaysia, jumlahnya sekitar 1 ribu keris setiap bulan, bahkan ada yang sampai 5 ribu keris setiap tahun," jelasnya.

Untuk pengiriman dengan jumlah banyak kata Salamu tidak terlalu rumit, sebab sudah ada kesepahaman dengan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa pengiriman.

Namun, untuk pengiriman dengan jumlah sedikit sering bermasalah. Semisal diamankan penegak hukum karena dianggap membawa sajam.

"Ini yang menjadi masalah dan harus dicarikan solusi," jelas ketua Kelompok Sadar Wisata Pelar Agung ini.

Selain itu pihaknya meminta penegak hukum untuk tidak menyamakan pusaka seperti tombak, keris dan semcamanya dengan sajam. Sehingga saat diketahui terdapat seorang yang membawa pusaka untuk tidak ditindak.

"Kalau setiap ada razia selalu ditindak, secara otomatis pecinta pusaka akan purna. Karena mereka takut didenda atau dihukum," tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Sufiyanto mengatakan telah lama melakukan koordinasi dengan pihak terkait, seperti dengan pihak imigrasi agar pengiriman keris ke luar negeri untuk dipercepat. Sehingga tidak terlalu lama berada ditengah perjalanan.

Sementara untuk penegak hukum juga telah melakukan koordinasi sehingga tidak dilakukan penindakan apabila warga diketahui membawa pusaka.

"Dari pihak kepolisian sudah aman, karena kami sudah mengeluarkan keterangan kepemilikan," terangnya.

Untuk diketahui, Saat ini terdapat 815 pengrajin keris yang tersebar di tiga desa, yakni di Desa Tongtong, Desa Kambingan, Kecamatan Saronggi, dan Desa Palongan, Kecamatan Bluto. Dari tiga desa tersebut pengrajin keris terbanyak di Desa Aeng Tongtong yang mencapai 600 pengrajin.

Hasil kerajinan tangan para kreator keris tidak hanya dipasarkan di Indonesia, melainkan juga diberbagai negara di Asia. Seperti Singapura, Thailand, Belgia bahkan sampai di Belanda. (Ita/diens)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Sumenep- Seorang pria berinisial I, warga Dusun Blumbang, Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa...

MEMOonline.co.id. Jember- Sebuah video kecelakaan antara kereta api dan sepeda motor di Kabupaten Jember viral di grup WhatsApp, Rabu (13/5/2026)...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mulai mengintensifkan dukungan terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang digelar...

MEMOonline.co.id. Probolinggo- Kota Probolinggo kembali menunjukkan capaian positif dalam pembangunan ekonomi dan pengentasan kesenjangan sosial....

MEMOonline.co.id. Probolinggo- Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan berbasis Unit Kompetensi Kejuruan Processing...

Komentar