Foto: Gus Imron Fauzi, berbackground perkebunan yang nampak sudah ditebangi
Foto: Gus Imron Fauzi, berbackground perkebunan yang nampak sudah ditebangi
MEMOonline.co.id, Lumajang- Ketua DPRD Kabupaten Lumajang Hj. Oktafiani, tak bergeming ditanya hasil evaluasi ahli, perihal sengkarut pengelolaan perkebunan PT. Kalijeruk Baru Kecamatan Randuagung Lumajang.
Khalayak meyakini, hasil evaluasi yang diduga kuat mengungkap indikasi pelanggaran pengelolaan perkebunan oleh PT. Kalijeruk Baru, bakal tak diungkap ke publik.
Orang nomer satu di lembaga legislatif Kabupaten Lumajang itu, tak merespon tanya media, dengan kata lain, bungkam.
Sebelumnya Okta berjanji, pasca audensi pertengahan Juli lalu, setidaknya evaluasi ahli bakal rampung sekira sepekan hari selanjutnya. Namun, hingga kini tak kunjung ada kabarnya.
Terpisah, warga terus menyoroti, terlebih belakang sejumlah nama investor dalam dan luar Kabupaten Lumajang, bahkan oknum pejabat diduga andil dalam skema lahan tebu.
Gus Imron Fauzi, tokoh warga Kecamatan Tempeh Lumajang menyebut, pemangku kewenangan bak singa kehilangan taring.
Ucapnya membandingkan ketegasan Pemkab Lumajang menindak salah satu cafe di Lumajang. Dalam waktu singkat papan penghentian aktifitas terpampang.
"Untuk PT. Kalijeruk Baru ini mana?, rekomendasi penutupan sementara sambil menunggu evaluasi ahli sudah ada, tapi kok tak ada hasil. Bahkan, aktivitas perkebunan lancar - lancar saja. Apa takut atau banyak pertimbangan, mingkin di belakang PT. Kalijeruk Baru ?, atau karena alasan lain?," ucap Gus Imron, Kamis (14/8/2025).
Lanjutnya, secara langsung tanah Kecamatan Randuagung terjajah di era kemerdekaan kali ini.
"Kasihan masyarakat, mereka melihat langsung keganasan aktivitas perkebunan yang diduga melanggar dan menebang, membabat habis tanaman yang sejatinya sesuai ijin dan bermanfaat bagi warga. Kalau sekarang mungkin tidak lagi manfaat, tapi mudharat," imbuhnya.
Data terkini dihimpun media ini, gaji pekerja di perkebunan pun tak sesuai dengan UMK (dibawah).
Parahnya, mendasari kepentingan dan berbekal modal besar, kelompok elit seolah berhasil membangun stigma dan membuat masyarakat setempat menjadi dua kelompok, pro dan kontra.
"Ya, buktinya sampai ada rekaman video pertengkaran di perkebunan. Adu mulut sesama warga. Ini miris sekali," tukasnya.
Dilain sisi, Mayo Walla, hingga kini pun nampak tak merespon situasi yang ada.
Kala dikonfirmasi melalui nomor WhatsApp yang ia berikan sebelumnya, tak satupun sapa dan tanya media yang direspon.
Penulis : Mas Her
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak