Jebolnya Tanggung Kali Rajali 'Perlu Pemahaman Unsur Pemicunya'

Foto: Ahmad Afandi Albaiti, saat diwawancarai media, Kamis (29/5/2025) sore.
1982
ad

MEMOonline.co.id, Lumajang- Ahmad Afandi Albaiti, pria asal Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro Lumajang, meminta pemangku kewenangan, memahami unsur dibalik jebolnya tanggul kali rajali.

Menurutnya, peristiwa tersebut bukanlah yang pertamakali nya. Namun, hingga saat ini tindak lanjut masih berkutat pada upaya pembangunan kembali/perbaikan, belum menyentuh pada pemahaman unsur pemicu, sedianya peristiwa serupa bisa diperkecil potensinya dampaknya, terlebih tidak lagi terjadi.

"Peristiwa ini, tak luput dari perilaku penambang liar atau penambang diluar titik koordinat," ucapnya.

Menurutnya, jika pemicu diabaikan, maka cenderung peristiwa serupa bakal terjadi lagi. Bahkan, uang negara tak hentinya diperuntukkan untuk perbaikan tanggul yang jebol.

Sebelum erupsi lalu di tahun 2021, saat terjadinya erupsi semeru, masyarakat bersama tokoh setempat, telah menyampaikan, penambang yang diatas diduga menjadi pemicu.

Kemudian di tahun 2022, penyampaian serupa kembali diutarakan.

"Kalau aliran sungai tetap dibiarkan seperti ini, tidak disesuaikan dengan peta yang diberikan oleh PUPR, maka grib-grib dan tanggul ini akan jebol. Tanpa mendasari pemicunya, upaya apapun percuma," imbuhnya.

Menyesuaikan fakta, iapun berkesimpulan berapa banyakpun uang negara yang dipergunakan untuk membangun/memperbaiki, diprediksi tak akan membuahkan hasil signifikan dalam jangka panjang.

"Pemerintah itu harus tau, unsur pertama itu dari apa?. Okelah ada bencana, cuma kan potensinya bisa diperkecil," tukasnya.

Disinggung tentang penyudetan, ia merasa heran ditengah cuaca cerah, kenapa tak dilakukan dari sisi aliran atas. Sehingga fase pelaksanaan pembangunan bisa berjalan dengan baik.

''Ini ada apa?, kan seharusnya supaya pembangunan ini lancar, kita alurkan arus sungai," lanjut dia.

Hingga saat ini, arus sungai masih di luar alur peta dari upaya penyudetan swadaya kemarin, sedianya mengalir ke arah selatan. Kondisi tersebut, dianggap Ahmad Afandi berpengaruh pada proses pelaksanaan pembangunan atau rehabilitasi tanggul yang dilakukan PU SDA.

"Mungkin mereka sudah melihat, sudah memiliki dokumentasi apa yang menyebabkan aliran sungai, mengarah ke tanggul," tutupnya.

Diketahui, tanggul di Sungai Rejali yang berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pernah mengalami kerusakan atau bahkan jebol akibat lahar dingin Gunung Semeru. Kerusakan tanggul ini menyebabkan beberapa daerah di sekitarnya menjadi terdampak banjir. Sebesar Rp. 10,5 milliar anggaran perbaikan digelontorkan.

Penulis     :   Mas Her

Editor        :   Udiens

Publisher  :  Syafika Auliyak

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Puluhan ribu wisatawan diprediksi memadati Kota Batu pada akhir pekan ini. Sejumlah agenda berskala regional hingga...

MEMOonline.co.id. Surabaya- Guna memperkuat regenerasi organisasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur,...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menegaskan Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bukan sekadar pembangunan fisik,...

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Berlian Karaoke & Bar resmi menggelar Grand Opening pada Selasa, (28/7/2026). Acara pembukaan akan berlangsung mulai...

MEMOonline.co.id. Jember- Bupati Jember Muhammad Fawait bersama jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember turun langsung ke Desa Selodakon,...

Komentar