Foto: Dominggus Yable
Foto: Dominggus Yable
MEMOonline.co.id, Papua Barat - Sejatinya, jabatan wakil rakyat bukanlah sekedar peluang pribadi untuk berkuasa, tapi wakil rakyat adalah amanah yang diberikan oleh rakyat untuk mengabdi secara total bagi kepentingan rakyat.
Jika seorang figur hanya mau menggunakan lidahnya sebagai wakil rakyat, tapi tidak mau menggunakan telinganya untuk mendengar dan memperjuangkan hak rakyat, maka yang akan terjadi adalah sebuah kemunafikan politik.
Setiap dukungan suara bagi seorang wakil rakyat, tertitip akan hak kesejahteraan dan keadilan rakyat yang harus diperjuangkan di parlemen.
Jika hal ini diabaikan oleh seorang wakil rakyat, maka ia tidak lebih dari seorang pembohong publik yang memperalat dukungan rakyat untuk kepentingan pribadinya.
Demikian Dominggus Yable Ketua Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Provinsi Papua Barat dalam paparannya yang disampaikan kepada memoonline.co.id.
"Tidak heran jika sering dijumpai ada wakil rakyat seperti yang saya sebut tadi. Rakyat di alamatkan peribahasa, habis manis sepah di buang," ujar Dominggus Yable, Selasa (27/12/2022) malam.
Pada masa pencalonan, kata Dominggus, rakyat didekati dengan ribuan janji sorga telinga. Rakyat dirangkul bagaikan raja tapi sayangnya hanya sesaat.
"Ketika menjabat, maka para penipu rakyat ini malah menutup telinga terhadap jeritan rakyat. Para penipu rakyat ini hidup bergelimang fasilitas dan kemewahan yang asalnya dari pajak rakyat," ucap Dominggus Yable.
Menurut Dominggus Yable, masing-masing parpol memiliki mekanisme internal penjaringan caleg. Tapi, setidaknya, penjaringan calon wakil rakyat dalam kontestasi pileg harus bisa memenuhi beberapa kategori sentral yaitu:
Harus kader organik yang lahir dari proses kaderisasi dari internal parpol.
Bukan kader cangkokan tanpa melewati proses kaderisasi internal parpol.
Memenuhi syarat formal pencalonan, baik dari sisi parpol pengusung maupun penyelenggara pemilu.
Memiliki dukungan akar rumput yang masif, militan dan signifikan sesuai dapil, baik pileg DPR RI maupun DPRD Prov/Kab/Kota.
Memiliki kompetensi individu yang matang dalam menghadapi berbagai dinamika politik.
Memiliki rekam jejak yang teruji dalam aktivitas perjuangan rakyat.
Memiliki gagasan kebijakan yang strategis, inovatif, solutif, realistis dan terukur (berorientasi pada hal konkrit).
Merupakan figur Pancasilais, nasionalis/pluralis, egaliter dan reformis.
Mendapatkan rekomendasi dukungan resmi dari parpol pengusung.
Prioritaskan kader-kader terbaik yang lahir dari rahim rakyat karena sesungguhnya merekalah yang mengerti dan memahami persoalan dasar rakyat yang sesungguhnya.
Mengacu pada poin ke-10, lanjut Dominggus, maka harusnya dukungan petinggi parpol baik di tingkat DPD/DPP berpijak pada kategori sentral di atas terhadap calon wakil rakyat yang lahir dari rahim rakyat karena merekalah yang sesungguhnya merasakan dan memahami apa persoalan rakyat yang sesungguhnya.
"Dinamika diplomasi politik dalam internal parpol adalah hal yang lazim. Tetapi, ketika para elit parpol di tingkat DPD/DPP mengabaikan kategori sentral secara paripurna di atas, maka parpol sementara menciptakan bumerang politik yang fatal terhadap diri sendiri," terangnya.
Karena pada akhirnya, jelas Dominggus Yable, mengorbitkan kader yang bermental Kapitalis, Sinis, Hedon dan Apatis terhadap persoalan rakyat. Sehingga yang urgen bagi partai politik adalah memprioritaskan para calon wakil rakyat yang lahir dari rahim rakyat karena merekalah representasi rakyat yang sesungguhnya.
"Parpol adalah kendaraan perjuangan politik bagi kepentingan rakyat, dan seharusnya para calon yang didukung adalah mereka yang berdedikasi, berkomitmen secara konsisten memperjuangkan para "wong cilik" dan bukan kepada wong licik," tegas Dominggus Yable.
"Setidaknya, parpol pengusung akan dengan mantap berdiri dalam ruang publik karena mendapatkan public trust sebagai wadah aspirasi rakyat sejati. Salam solidaritas," pungkas mantan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) itu.
Penulis : Bambang
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliya