Diskusi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) bertajuk ‘Peran Media Dalam Melawan Hoaks, Ujaran Kebencian dan SARA, Sabtu (14/4/2018).
Diskusi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) bertajuk ‘Peran Media Dalam Melawan Hoaks, Ujaran Kebencian dan SARA, Sabtu (14/4/2018).
MEMOonline.co.id, Bogor - Jawa Barat - Dewan Pers menghimbau agar para jurnalis menjadi agent of change atau agen perubahan melalui pemberitaan. Pasalnya peran wartawan dinilai sangat strategis dan krusial, terutama dalam menghadapi momen Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.
“Jadilah agent of chance atau agen perubahan,” kata anggota Dewan Pers, Jimmy Silalahi dalam diskusi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) bertajuk ‘Peran Media Dalam Melawan Hoaks, Ujaran Kebencian dan SARA’,di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/4/2018).
Jimmy sempat bertanya kepada salah satu wartawan yang hadir terkait tugasnya. “Anda bekerja untuk siapa?,” tanya Jimmi.
Lalu wartawan yang ditanya menjawab jika dirinya bekerja untuk keluarga, bangsa dan negara. Mendengar jawaban tersebut, Jimmy mengaitkan hal itu dengan tema diskusi.
“Jika memang Anda bekerja untuk keluarga, maka jangan pernah mempermainkan hoaks. Artinya jika itu dipermainkan, maka secara tidak langsung anda juga mempermainkan keluarga, diri sendiri dan masyarakat luas,” paparnya.
Selain itu, Jimmy juga berpesan agar para wartawan mematuhi etika yang mengikat ketika menjalankan tugas. Sehingga profesionalitas dalam bekerja bisa tercapai.
“Etika lebih tinggi dari segalanya. Lebih baik punya rasa malu daripada rasa takut melakukan kesalahan yang mengacu pada undang-undang Dewan Pers. Mari bekerja dan kita bantu untuk netral,” pungkasnya.
Turut hadir dalam diskusi Kabag Humas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Robby Leo, Komisioner Korbid Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Hardly Stefano, Sekretaris Ditjen Aplikasi dan Informatika Kemenkominfo, Maria F Barata dan Anggota Bawaslu M Afifuddin.(Ers/Bam/Diens).