Jangan Kaget, Harga Bahan Pokok di Jember Meroket

Foto : Tambah Hari, Harga minyak goreng di Pasar Kreongan Makin meroket.
155
ad

MEMOonline.co.id, Jember  - Berganti tahun harga minyak goreng di Pasar Kreongan semakin meroket. Meski tidak melonjak sekaligus, namun berlahan pasti naik sedikit demi sedikit.

Salah satu pedagang pasar, Bu Sri mengatakan, untuk harga minyak saat ini sudah mencapai Rp 19.500 perkilogram. Padahal sebelumnya sedikit lebih murah dari itu.

"Sebelum tahun baru, harga minyak itu Rp 18.000. kemudian dalam sepekan naik menjadi Rp 18.500. Dan beberapa waktu setelah itu naik lagi menjadi Rp 19.000. Begitupun dengan bahan pokok yang lainnya," ucapnya. Selasa (18/1/2022).

Bu Sri melanjutkan, naiknya harga bahan pokok sangat berpengaruh terhadap pendapatan hasil dagang. Sebab, modal yang digunakan untuk kulakan barang terbilang lumayan besar. Sedangkan pedagang tidak bisa mematok harga jual terlalu tinggi.

"Dari harga kulakannya itu Rp 18.000, pedagang hanya bisa jual Rp 19.000 - 19.500. Jadi bayangkan, dari modal segitu, keuntungannya hanya Rp 500 - 1.000 saja," keluhnya.

Begitupun dengan harga beras, lanjut Bu Sri. Saat ini harga beras masih belum menunjukkan adanya penurunan. Sedangkan kebanyakan masyarakat masih kesulitan dalam urusan keuangan karena pandemi Covid - 19.

"Untuk beras merk Macan saja itu ambilnya Rp 52.000 per ballnya. Saya jualnya hanya Rp 53.500 saja. Kalau lebih dari itu (harga jual - red) pasti dibilang kemahalan sama pelanggan. Ujung - ujungnya mereka cari ke toko lain. Jadi daripada gak lalu, mending saya ambil untung sedikit saja tapi terjual," bebernya.

Pedagang yang lain, Bu Harno menambahkan, selain minyak goreng, gula pasir juga terus mengalami kenaikan. Bahkan gula merah yang juga ikut - ikutan naik.

"Gula pasir dari sebelumnya Rp 12.500 sekarang naik menjadi Rp 14.000. Kalau gula merah sekarang sudah tembus Rp 13.500 - 14.000. Jadi naik terus gak turun - tutun," ujarnya.

Pedagang ayam potong, Ibu Rudi menyambung, harga ayam potong saat ini juga masih merangkak naik. Dari harga Rp 32.000 - 33.000 menjadi Rp 36.000 perkilogramnya.

"Sementara pembeli terus mengeluh kemahalan, mas. Kadang jualan saya ditawar dengan harga dibawahnya modal. Gak diberi saya kasihan. Kalau diberi saya rugi. Bisa-bisa saya bangkrut kalau semua pelanggan begitu. Jadi terpaksa saya pertahankan harga jual seperti harga pasar," pungkasnya.

Penulis      :   Zhainullah

Editor        :   Udiens

Publisher :   Dafa

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

Komentar