Beberapa Kali Diajukan Rehab Selalu Kandas, Polindes Bunten Timur Sampang Memprihatinkan

Foto : Polindes yang mengalami kerusakan
656
ad

MEMOonline.co.id, Sampang - Tenaga kesehatan akan selalu menjadi garda terdepan dan ujung tombak untuk memenuhi janji pemerintah dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar rakyat khususnya kesehatan.

Apalagi hadirnya seorang bidan Desa di daerah terpencil amat dibutuhkan eksistensinya.

Ini sebagai salah satu wujud konkrit pemerintah, untuk lebih mendekatkan diri pada pelayanan masyarakat paling bawah, dalam hal menekan angka kematian bayi dan ibu.

Noer Asyia An-Nisa, kehadirannya sebagai seorang bidan di Dusun Tengah Barat, Desa Bunten Timur, Kecamatan Ketapang, kabupaten Sampang.

Lokasinya cukup terpencil berjarak kurang lebih 7 km dari pasar Lempong ke arah timur dan jauh dari keramaian.

Pengabdiannya menjadi tenaga kesehatan berawal diterima sebagai Bidan Desa PTT (Pegawai Tidak Tetap) tahun 2014, yang merupakan program dari Kemenkes RI dan langsung ditempatkan di Polindes Bunten Timur sampai sekarang.

Berkat kegigihannya mengabdi di daerah yang cukup terpencil, maka Pemerintah memberikan reward dengan mengangkatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2017.

Namun totalitas pengabdian yang dipersembahkan tidak berjalan linear dengan perhatian institusinya dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung.

Karena faktanya kondisi gedung Polindes yang ditempati sejak tahun 2014 kondisinya cukup memprihatinkan.

"Selain adanya penurunan rangka atap yang mengakibatkan kebocoran, plesteran dinding banyak yang mengelupas serta rangka plafon pun juga banyak yang jebol, juga terdapat keretakan pada pondasi," terangnya, senin (25/1/2021).

Menurutnya, bangunan itu pernah diajukan, dan bahkan sampai 3 kali diajukan untuk rehabilitasi gedung.

"Yang pertama tahun 2018 itu gagal, karena terkait status kepemilikan yang belum jelas," ucapnya.

Kemudian lanjut Ocha, panggilan akrabnya menuturkan, di tahun 2019 juga diajukan yang bersumber dari dana Pagu Indikatif Kecamatan (PIK) itupun kandas, pada munsrenbangcam serta tahun 2020 ini pun diajukan kembali namun tidak jelas".

"Ya kita jalani aja mas karena ini bagian dari konsekuensi pengabdian yang merupakan pilihan untuk hidup dan hadir di tengah-tengah masyarakat," tandasnya.

Sementara, Bambang Indra Basuki, Kabid Aset Badan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) saat dimintai klarifikasi menyampaikan, sudah clear tahun 2020 kemarin mas, dan tidak ada kendala terkait status kepemilikan dari gedung Polindes tersebut dan bahkan saya langsung turun sendiri ke lokasi.

"Di tahun 2020 kemarin, status kepemilikan tanah sudah clear," terangnya.

Sementara, Ach Yani, Kepala Puskesmas Bunten Barat, yang membawahi Polindes Bunten Timur mengatakan, sudah diajukan pada tahun 2020 kemarin, dan realisasi tahun 2021.

"Polindes itu sudah diajukan pada tahun 2020, dan realisasi pada tahun ini," katanya.

Namun faktanya, saat awak media mencari tahu pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) 2021 tidak ada. (Fathur/red)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Lumajang- Pembangunan desa kini dituntut melampaui penyediaan infrastruktur...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Komitmen terhadap penghematan energi tak hanya disampaikan lewat imbauan, tetapi dibuktikan dengan aksi nyata....

MEMOonline.co.id. Sumenep- Momentum peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026 dimaknai RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep bukan sekadar seremoni,...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep dalam memperkuat mutu pelayanan kesehatan....

MEMOonline.co.id. Sumenep- Kabar baik bagi para pencari kerja, khususnya tenaga medis dan profesional...

Komentar