Foto : Wakil Bupati Sampang H. Abdullah Hidayat dalam Musrenbang Kecamatan Robatal Sampang
Foto : Wakil Bupati Sampang H. Abdullah Hidayat dalam Musrenbang Kecamatan Robatal Sampang
MEMOonline.co.id, Sampang - Air bersih merupakan salah satu kebutuhan yang urgen bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, selasa (18/2/2020).
Bertahun tahun masyarakat Kecamatan Robatal mengalami krisis air bersih, apalagi di saat musim kemarau datang.
Isu krisis air bersih masuk di Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kecamatan Robatal Kabupaten Sampang.
Wakil Bupati Sampang, Abdullah Hidayat mengatakan, ada lima prioritas pembangunan di era kepemimpinannya bersama Bupati H. Slamet Junaidi.
Kelima prioritas itu diantaranya, peningkatan sektor perekonomian dan pembangunan yang berkelanjutan, pengentasan kemiskinan serta kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan.
"Percepatan reformasi dan birokrasi serta peningkatan harmonisasi kehidupan sosial masyarakat, juga harus kita kembangkan," ucap H. Ab, panggilan akrab Wakil Bupati Sampang.
Menurutnya, bukan hanya itu saja, isu kekeringan (penyediaan air bersih) di Kecamatan Robatal masih menjadi problem tersendiri.
Problem penyediaan air bersih yang masih terbatas, terutama ketika di musim kemarau tiba.
"Ini menjadi perhatian khusus bagi Dinas terkait, agar kebutuhan masyarakat Robatal terhadap air bersih dapat terpenuhi," ungkapnya.
Ditempat yang sama, Alan Kaisan, anggota DPRD Sampang, dari Dapil III yang meliputi Kecamatan Kedungdung dan Kecamatan Robatal usai acara Musrenbang mengatakan, air merupakan skala prioritas di Kecamatan Robatal ini, kalau masalah infrastruktur Robatal masih lumayan bagus ketimbang Kecamatan Kedungdung.
Karena menurutnya, Robatal ini sudah lama krisis air bersih, padahal sumber air sudah ada, yaitu sumber Payung.
"Selama ini Sumber Payung hanya pipanisasi di jalan raya saja, semestinya sudah masuk ke saluran rumah (SR)," jelasnya.
Menurut Alan, potensi air di Sumber Payung itu bisa mencapai 10 ribu Kepala keluarga, kalau itu dikelola dengan baik, bisa mencakup di dua Kecamatan.
"Dari tahun 2014 sampai sekarang ini, SR yang ada masih 300 SR, ini kan tidak logis," kata Alan.
Padahal menurut Alan, di tahun ini ada anggaran Rp. 5 milyar, maka tidak ada alasan lagi dari Dinas terkait untuk tidak melaksanakan pipanisasi saluran rumah (SR).
"Kami berharap dengan anggaran yang sudah ada, untuk Dinas terkait agar bisa memaksimalkan kinerjanya, supaya krisis air bersih yang sudah lama terjadi ini, bisa teratasi," tandasnya. (Fathur)