Diduga Banyak Penerima Fiktiv, Bantuan Guru Ngaji di Bondowoso Tak Cair

Foto: Wakil Bupati Irwan bachtiar Rahmat
1480
ad

MEMIonline.co.id, Bondowoso  – Tidak cairnya bantuan Guru Ngaji pada bulan puasa, membuat masyarakat bondowoso bertanya tanya dan menimbulkan penafsiran yang berbeda beda.

Menyikapi hal tersebut Pemkab Bondowoso, Melalui Wakil Bupati Irwan bachtiar Rahmat angkat bicara, “Bantuan guru ngaji saat bulan puasa yang lalu tidak diberikan, lantaran Pemerintah masih melakukan validasi dan pendataan ulang untuk memastikan jumlah guru ngaji yang sebenarnya”.

“Honor guru ngaji tidak dicairkan bulan puasa kemaren karena saat ini Pemerintah Bondowoso masih melakukan pendataan ulang.

Pemerintah tidak ingin bantuan guru ngaji yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah tidak tepat sasaran”, ungkap Irwan dalam keterangan persnya, Senin (17/6/2019).

Sekedar diketahui pada Tahun 2010 data guru ngaji berjumlah 5665 orang dan dari data tersebut ada guru ngaji yang sudah meninggal dunia, dan ada pula guru ngaji yang sudah tidak ada muridnya.
“Terdapat satu lembaga musholla suami-istri sama-sama menerima honor guru ngaji, padahal di dalam aturan, dalam satu musholla itu tidak boleh,” sambungnya.

Irwan membeberkan, pada tahun 2004 saat pertama kali guru ngaji diberikan bantuan, data guru ngaji berjumlah 2000 orang, namun setelah tahun 2005 sampai 2008 data jumlah guru ngaji berkembang dan bertambah menjadi 3000 orang lebih, sampai 2010 mencapai 5665 orang guru ngaji.

Menurutnya, lonjakan tambahan jumlah data guru ngaji tersebut menimbulkan kecurigaan, berdasarkan hasil survei di beberapa desa melalui teknik sampling pada tahun 2013, saat dirinya masih menjabat sebagai DPRD, ia menemukan beberapa temuan.

“Temuan hasil survei pada tahun 2013, ada yang bukan guru ngaji mengaku sebagai guru ngaji, terdapat Kepala Desa saat melakukan pendataan, yang didata tim suksesnya sendiri dan ada pula saudaranya, padahal mereka bukan guru ngaji. Ini hasil temuan,” ungkapnya.

Pria berkacamata ini lebih lanjut mengungkapkan, ada pula guru ngaji yang berdasarkan Perbup, jumlah muridnya tidak memenuhi syarat, bahkan muridnya tidak ada. Dan ada pula guru ngaji yang sudah meninggal dunia.

Laki-laki yang berkumis tipis itu menyampaikan, dari hasil survie 2013 yang sudah dilakukan di beberapa desa, hampir Lima Puluh Persen data guru ngaji tersebut fiktif, artinya tidak tepat sasaran.

“Problem yang seperti itu kami tidak inginkan, kami ingin memberikan bantuan guru ngaji pada orang yang betul-betul guru ngaji.” Pungkasanya. (Arik/diens)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Sumenep- Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap nilai-nilai perjuangan bangsa kembali menggema di Kabupaten Sumenep. Sebanyak...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten...

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Caffe SAE di Mapolres Batu menjadi tempat pertemuan santai antara Kasat Reskrim Polres Batu AKP Zaenal Arifin dan awak...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Pemerintah Kabupaten Sumenep menjadikan pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Tahun 2026 sebagai...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Dugaan rangkap jabatan yang melibatkan seorang oknum Sekretaris Desa (Sekdes) di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep,...

Komentar