Redaksi dan Percetakan HU Pikiran Rakyat “Diratakan” Usai Dilelang

Foto: Gedung yang mulai diratakan
6990
ad

MEMOonline.co.id, Bandung - Meski belum mengumumkan pailit secara formal, perusahaan media terbesar di Jawa Barat, PT. Pikiran Rakyat Bandung (PRB), sudah melego sejumlah asset yang ada melalui balai lelang negara.

Salah satunya, bangunan redaksi dan percetakan di Jalan Soekarno-Hatta No.147, yang sejak tahun 90-an menjadi sentra kegiatan industri pers dalam menerbitkan Harian Umum Pikiran Rakyat dan anak - anak penerbitan lainnya.

Bangunan redaksi dan percetakan yang berdiri di tanah seluas 4000 meter persegi itu, kini sudah diratakan dengan tanah sesuai keinginan pihak “pembeli” melalui balai lelang negara.

Mesin cetak surat kabar merk Goss Printing Press, yang berada di bangunan lama percetakan PT. Granesia sebagai bagian dari Grup Pikiran Rakyat, juga sudah tidak ada di tempatnya.

“Mesin cetak di gedung percetakan baru yang berada di sebelah percetakan lama sudah pasti akan segera dikosongkan. Saya kurang tau apakah mesin cetak baru tersebut dijual terpisah atau dipindahkan lokasi ke percetakan PT. Granesia di Sekelimus, tapi rasanya tidak mungkin dipindahkan karena mesin cetak baru tersebut membutuhkan bangunan khusus yang tinggi karena mesin cetak tersebut memanjang ke atas seperti tower,” ungkap sumber yang enggan disebut namanya itu.

Kini, tiras surat kabar Pikiran Rakyat (PR) hanya 20 ribu eksemplar, atau berkurang 60% lebih dari rata - rata tiras cetak tahun - tahun sebelumnya yang mencapai 75 ribu eksemplar setiap harinya.

“Dari jumlah tiras sebesar itu, sekitar 50% hanya untuk memenuhi pasar Kota Bandung, sisanya untuk daerah - daerah lain di Jawa Barat, termasuk Banten sebelum menjadi provinsi,” ungkap pengamat media yang juga tidak mau disebutkan namanya.

Menurutnya, surat kabar Pikiran Rakyat (PR) sebagai “mesin pendulang uang” industri kelompok usaha PT. Pikiran Rakyat Bandung (PRB) bukan jenis surat kabar berlangganan seperti halnya surat kabar Kompas, melainkan surat kabar eceran yang sangat bergantung kepada kebutuhan konsumen hari per hari ketika membeli surat kabar Pikiran Rakyat.

“Sebelum marak media online, tiras koran PR bisa tinggi di atas 75 ribu eksemplar bila Persib main, karena konsumen di tingkat eceran ingin mencari tahu mengenai hasil pertandingan Persib. Begitupula bila ada peristiwa - peristiwa luar biasa, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional yang menyita perhatian konsumen sesaat,” lanjutnya.

Sumber tersebut pun menambahkan, kekuatan surat kabar Pikiran Rakyat sebagai “mesin pendulang uang” bukan terletak pada halaman berita - beritanya tetapi pada halaman “Iklan Mini” yang bila diakhir pekan bisa sampai 4 halaman penuh.

“Ini uang ratusan juta yang setiap harinya diterima Pikiran Rakyat dibandingkan iklan display yang pembayarannnya nganjuk (tidak kontan) dari biro-biro iklan besar di Jakarta, bahkan tidak sedikit yang macet pembayarannya sampai miliaran rupiah,” ungkapnya.

Kekuatan ini tidak pernah disadari oleh pengelola PT. PRB, pasca kepemimpinan almarhum Atang Ruswita, sehingga keliru dalam mengelola eksistensi koran PR dan sulit bersaing dengan Tribun Jabar (anak perusahaan PT. Gramedia - Kompas) yang juga menyasar pasar eceran.

“Yang saya tau, dulu almarhum Atang Ruswita punya visi untuk menjadikan PR sebagai koran nasional yang terbit di daerah setelah mengambil alih suratkbar GALA untuk ditargetkan sebagai pendamping, khusus suratkabar daerah lokal Bandung.

Namun, visi tersebut tak pernah bisa terlaksana sepeninggalan almarhum Atang Ruswita, malah realitasnya PR dan Galamedia saling berebut pasar, khususnya di Kota Bandung,” ungkap pengamat media yang dekat dengan almarhum Atang Ruswita.

Sebenarnya, ketika terjadi krisis moneter di Indonesia tahun 1997 yang juga mempengaruhi industri pers di tanah air, almarhum Atang Ruswita sudah punya visi untuk mengintegrasikan seluruh kegiatan industri pers Grup Pikiran Rakyat dalam satu atap, tidak tercecer di berbagai tempat.

“Ini sebagai langkah efisiensi, pengembangan dan pengawasan yang beliau rasakan sangat penting. Beliau sudah mengincar lahan lelang sitaan kasus BLBI yang tembus ke lahan percetakan PT. Granesia di Sekelimus, sayang beliau keburu sakit - sakitan dan meninggal tanpa mewariskan visi tersebut kepada penerusnya,” lanjut sumber tersebut.

Ketika ditanya soal keterpurukan surat kabar Pikiran Rakyat saat ini, sumber tersebut tidak menyangkal pernyataan atau pendapat yang menilai faktor mismanajemen sebagai penyebabnya.

Penulis: Mediadata / Bambang

Editor: Udiens

Publisher: Dafa

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id. Sumenep- Komitmen Kapolresta Sumenep, Kombes Pol. Ariek Indra Sentanu, dalam memperkuat kemitraan dengan insan pers terus...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Komitmen Kapolresta Sumenep, Kombes Pol. Ariek Indra Sentanu, dalam memperkuat kemitraan dengan insan pers terus...

MEMOonline.co.id. Sumenep- Kapolresta Sumenep Kombes Pol. Ariek Indra Sentanu melanjutkan agenda safari silaturahmi dengan insan pers melalui...

MEMOonline.co.id. Kota Batu- Puluhan ribu wisatawan diprediksi memadati Kota Batu pada akhir pekan ini. Sejumlah agenda berskala regional hingga...

MEMOonline.co.id. Surabaya- Guna memperkuat regenerasi organisasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur,...

Komentar