Foto : LSM PIAR Saat Audensi di Dinas PUPR Sampang
Foto : LSM PIAR Saat Audensi di Dinas PUPR Sampang
MEMOonline.co.id, Sampang - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Informasi dan Advokasi Rakyat (PIAR) tuding Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang (PUPR) Sampang tidak bisa mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sewa alat berat, Rabu (23/10/2019).
Menurutnya, Dinas PUPR dalam mengelola dana perawatan alat berat tidak memaksimal, malah terkesan dijadikan bancakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Pihak PUPR berdalih uang perawatan habis pada mesin yang tua tua, sedangkan mesin yang tua tidak bisa berfungsi secara maksimal," jelas Abd. Hamid Ketua LSM PIAR Sampang saat audiensi di Dinas PUPR.
Lebih jauh Hamid memaparkan, pada tahun 2019 ini Dinas akan memaksimalkan setoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), padahal sampai triwulan tiga ini belum mampu mendongkrak, hanya kisaran 11% saja dari target mesin gilas sebesar Rp. 220 juta sedangkan untuk truk Rp. 120 juta.
"Kegiatan di tahun 2019, Dinas PUPR tidak akan mampu mendongkrak PAD, sementara pada tahun 2020 nanti untuk biaya perawatan juga harus ditekan sekecil mungkin ," ungkapnya.
Hamid menambahkan, untuk biaya perawatan pada tahun 2018 sebesar Rp. 90 juta, kemudian di tahun 2019 mencapai Rp. 114 juta dari 22 unit alat berat yang ada. Sementara pendapatan pada triwulan keempat ini hanya mampu menghasilkan Rp. 10 sampai 20 juta.
"Ini kan tidak logis, masak biaya perawatan mencapai Rp. 114 juta, sedangkan hasilnya hanya Rp. 10 Sampai 20 juta. Itu sama halnya dengan besar pasak daripada tiang. Pihaknya menuntut Kadis segera turun dari jabatanya dan membuka selebar lebarnya kepada aparat penegak hukum masuk ke persoalan ini," pungkasnya.
Sementara, Erwin Elmi Syahrial, Kabid Pembekalan Peralatan dan Penanganan Mutu di Dinas PUPR Sampang mengatakan, apa yang disampaikan teman teman PIAR merupakan target, 11 % itu per september, kalau sampai per oktober ini lebih dari itu.
"Ini karena ada kendala, alat kami berkurang fungsinya karena konstruksi yang dipakai sudah beda. Alat pembotan mesin gilasnya dipakai dimana, kami butuh peremajaan alat," ungkapnya.
"Memang kami pesimis untuk sampai target, tapi paling tidak kami bekerja secara maksimal," pungkasnya. (fathur)