Foto : Kantor Desa Tegalrejo Tempursari dengan Sudibyo warga setempat (relawan kebencanaan)
Foto : Kantor Desa Tegalrejo Tempursari dengan Sudibyo warga setempat (relawan kebencanaan)
MEMOonline.co.id. Lumajang - Belum reda jadi perbincangan, soal dugaan penyimpangan pelaksanaan proyek infrastruktur berupa rabat beton disejumlah titik ( Gang ) di Desa Tegalrejo Kecamatan Tempursari Lumajang, saat ini ditambah lagi kabar miring mengenai carut marutnya kelompok tani yang diduga penuh dengan akal - akalan.
Hal itu terus memanas dan menuai kontroversi di masyarakat hingga saat ini, Jum'at (12/5/2023).
Diduga hanya dijadikan kedok untuk memperoleh bantuan dari pemerintah, akan tetapi realitanya, sarat hanya digunakan untuk kepentingan beberapa oknum poktan.
Awalnya, sampai ke telinga awak media soal pelaksanaan proyek infrastruktur berupa jalan rabat beton di sejumlah gang di desa paling ujung Selatan Kabupaten Lumajang, diduga menyimpang.
Sumber pada media ini, pembangunan jalan rabat beton di Gang 3 dan Gang 9 desa Tegalrejo, tak sesuai prosedur. Kondisi terkini disampaikan, retak pada bagian badan jalan / rabat beton, ditambal sulam namun pecah lagi. Dirasa aneh, lantaran bangunan tersebut masih tergolong seusia jagung.
Tak ubahnya bola panas semakin liar, lantaran ketika diupayakan dimintai klarifikasi, Nyono Kepala Desa Tegalrejo tetap membisu. Tak ubahnya diyakini, bahwasanya penggarapan proyek yang bersumber dari Dana Desa ( DD ) itu sudah sesuai dengan aturan yang ada.
Pengamatan media ini, ada kejanggalan berkaitan tentang tahapan. Satu diantaranya, nameboard disejumlah titik proyek, dipajang setelah pelaksanaan usai. Menurut warga, seharusnya nameboard proyek tersebut dipasang/dipajang diawal. Harapannya, sebagai perbandingan antara progres dengan pelaksanaan, ketika ada dugaan penyimpangan atau ketidaksesuaian.
Disisi lain, penyelewengan alsintan ( alat mesin pertanian ) pada sejumlah kelompok tani, saat ini turut terendus. Sumber terpercaya menyebut, bantuan tersebut terealisasi disaat masa jabatan kades lama / mantan ( Sujono Mulyo ), sebelum Kades Nyono.
Dikonfirmasi dikediamannya, Sujono Mulyo mengiakan. Bantuan diserahterimakan ke kelompok tani, oleh mantan Wakil Bupati Lumajang dr. Buntaran ( alm ).
"Sekitar tahun 2017 atau 2018, pokoknya di tahun akhir masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati yang lama," ucap Sujono Mulyo.
Bahkan diperoleh penyampaian jika alokasi bantuan berupa tempat penggilingan padi di desa tersebut, diduga berdiri di tempat yang notabenenya hak milik pribadi. Timbul pertanyaan, asas manfaat dari hasil atas kegiatan penggilingan tersebut.
Sujono mengakui, selaku kades menjabat saat itu, ia selalu memantau aktivitas beberapa kelompok tani. Dalam tahapan pengajuan kegiatan atau program pertanian yang terafiliasi dengan kelompok tani, ia juga mendukung.
Akan tetapi ia juga mengutarakan kekecewaan, bantuan yang diterima, malah disalahgunakan oleh oknum poktan, lebih - lebih ia mendengar kabar, jika ada alat mesin pertanian yang diperoleh dari dinas terkait, dijual.
"Juga dimasa saya saat menjabat, poktan ini mendapatkan bantuan berupa alat berat. Usulan dari kelompok tani, dan BPBD tingkat desa yang peduli akan bencana, tujuannya untuk membedah ( membuat jalur buangan air laut ). Disini kan kadang ada gelombang tinggi dari pantai. Garis besarnya agar tidak terjadi gagal panen, akibat padi tergenang air laut" ucap Sujono lebih lanjut.
"Yang menerima secara simbolis itu saya. Cuma simbolis saja. Saya juga sempat menyarankan agar melakukan penyegaran ( pergantian pengurus ). Tapi rupanya sampai saat ini, ketuanya ya itu - itu saja," imbuhnya.
Kata dia faktanya, alat tersebut dikuasi oleh salah satu pihak, tidak dipergunakan sebagaimana tujuan awal. "Pernah saya lihat saat saya menjabat, alat tersebut dipergunakan di desa lain, untuk menggali parit / saluran air ditepi jalan," ungkapnya.
Sebut dia bantuan lain juga ada, berupa alat brujul mesin. Namun disalahsatu kelompok tani, alat tersebut sudah berpindah tangan ( dijual ). Hal itu ia ketahui pasca ada penyampaian dari operator yang sudah tak bekerja lagi, lantaran alat sudah tidak ada.
Menyikapi hal tersebut, sejumlah pihak meminta, pemerintah daerah menyikapi serius. Dengan merespon keluhan petani yang secara tidak langsung tak ubahnya terbungkam.
"Saya tidak mendiamkan saat itu, melalui kelompok tani saya tegur. Meskipun saya rasa saat itu saya tidak disenangi oleh pihak - pihak tertentu, atas niat hati saya membela petani ( masyarakat saya ). Tapi dari apa yang saya upayakan dengan menyanyikan ke kelompok tani, ke UPT Dinas Pertanian Kecamatan Tempursari, bilamana ada alat yang dijual, tapi ya hasilnya nihil," sebut dia.
Dari tingkat kegunaan, ia juga menilai banyak peralatan yang sebetulnya tidak begitu diperlukan. Dengan kata lain, tidak tepat sasaran. Akan tetapi, iapun merasa aneh/heran, mengapa meski demikian, bantuan - bantuan terus mengalir ke kelompok tani di desanya.
"Ada apa dibaliknya," tutupnya.
Terlebih, beberapa waktu lalu, terjadi gelombang air laut tinggi dan sempat menggenangi area persawahan warga serta dilakukan penanganan secara manual, melibatkan Forkopimcam Tempursari dan stakeholder terkait, para petani dan para relawan bencana.
Mengenai alat berat yang sebelumnya diketahui didapat oleh kelompok tani, sebut Sudibyo, saat ini tak diketahui kejelasannya.
"Memang dulu yang meminta bantuan ( alat berat -red ) itu adalah saya, bersama pak Hari Kepala Dusun Tegalrejo yang selaku relawan bersama Dinas Pertanian. Namun pada saat itu, saat alat tersebut datang, alat tersebut dimanfaatkan untuk yang lain - lain. Yang jelas, alat tersebut mendapatkan dana, dak tau dananya kemana. Yang jelas alat tersebut tidak bisa dipergunakan untuk masyarakat. Alat tersebut sebenarnya tujuannya bukan untuk yang lain - lain, untuk membedah area bibir pantai bila terjadi seperti ini ( gelombang tinggi )," ungkapnya dengan raut wajah kecewa.
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak