PKB Sumenep Besar Tanpa Kyai - Saatnya Berhenti Jadi Anak Mami Politik
Oleh : Adi Sejagat
(CALEG PKB 2019)
Mari kita jujur saja. Selama ini PKB Sumenep itu besar bukan karena kerja partainya hebat, tapi karena numpang besar dari nama besar kyai.
Ini kenyataan pahit yang harus ditelan.
Setiap lima tahun sekali polanya sama: pengurus PKB datang sowan, bawa proposal, minta restu, minta foto pegang tangan kiai sambil tersenyum. Foto itu kemudian dicetak di baliho raksasa di tiap perempatan. Seolah-olah dengan foto itu, semua masalah Sumenep selesai. Seolah-olah dengan restu itu, rakyat kepulauan yang kelaparan karena harga rumput laut anjlok akan otomatis kenyang.
Padahal tidak. Sama sekali tidak.
PKB Sumenep Terkena Penyakit "Anak Mami"
Anak mami itu ciri-cirinya: manja, tidak mandiri, tidak bisa apa-apa tanpa orang tuanya. Dan itulah yang terjadi pada PKB Sumenep.
Karena merasa sudah punya "orang tua" bernama kyai, mesin partai malas bekerja.
Mana kaderisasinya? Tidak jalan.
Mana sekolah pemimpin mudanya? Tidak ada.
Mana gagasan besarnya untuk 126 pulau? Kosong.
Mana data kemiskinan yang diperjuangkan di DPRD? Seadanya.
Yang ada hanya satu keahlian: berebut siapa yang paling dekat dengan kiai. Berebut siapa yang paling banyak dapat restu. Politiknya bukan politik gagasan, tapi politik foto bersama.
Akibatnya, ketika kiai tidak kompak, PKB Sumenep langsung kelabakan. Ketika satu kiai mendukung A, kiai lain mendukung B, pengurusnya bingung mau pasang baliho yang mana. Partai yang katanya besar ini ternyata rapuh. Besarnya semu.
Rakyat Sudah Muak dengan Restu-Restuan
Pemilih Sumenep hari ini sudah cerdas. Mereka sudah muak.
Anak muda di desa-desa dan perkotaan yang nganggur tidak butuh baliho bergambar kiai. Dia butuh kepastian ada pelatihan kerja dan modal usaha.
Para pengrajin batik di Sumenep tidak butuh orasi "PKB partai kiai". Dia butuh akses marketplace agar batiknya laku sampai Jakarta.
Nelayan di Sapeken tidak peduli calegnya cium tangan kiai berapa kali. Dia peduli BBM bersubsidi ada atau tidak.
Kalau PKB Sumenep masih berpikir cukup modal restu kiai untuk menang, silahkan tunggu saja kejatuhannya. Tahun 2024 kemarin sudah menjadi alarm keras. Suara PKB di banyak TPS anak muda jeblok. Itu sinyal bahwa jimat "restu kiai" sudah tidak sakti lagi.
Besar Tanpa Kyai Artinya Berhenti Jadi Beban Kyai
Justru kasihan kiai. Karena ulah malasnya pengurus partai, kiai terus diseret-seret ke politik praktis. Nama kiai yang seharusnya dijaga kesuciannya sebagai pemersatu umat, malah dijadikan alat tawar-menawar politik.
Kalau PKB Sumenep bisa besar tanpa kyai, itu justru memuliakan kyai.
Artinya:
Kiai kembali ke khittahnya sebagai guru moral, bukan juru kampanye.
PKB kembali ke khittahnya sebagai partai yang bekerja, bukan partai yang menadahkan tangan minta restu.
PKB yang besar tanpa kyai bukan berarti anti-kiai. Tapi PKB yang tidak lagi membebani kiai. PKB yang kalau menang, menang karena kerjanya sendiri. Kalau kalah, kalah terhormat karena gagasan, bukan karena kiai tidak merestui.
Lihatlah figur-figur Anggota Dewan di luar PKB mereka dihormati bukan karena rajin sowan, tapi karena rekam jejak pengabdiannya jelas di masyarakat. Mereka tidak menjual foto bersama kiai, mereka menjual bukti kerja. PKB butuh lebih banyak figur seperti ini, bukan figur yang hanya bisa menjual kedekatan.
Penutup: Pilih Jadi Partai atau Tetap Jadi Paguyuban Restu?
Pertaruhan PKB Sumenep sekarang adalah: mau jadi partai modern yang diperhitungkan karena kerja, atau mau tetap jadi paguyuban pemburu restu yang hidup dari belas kasihan sejarah?
Jika memilih yang pertama, maka PKB harus berani melakukan operasi besar-besaran: pecat mentalitas anak mami, bangun mesin kader yang profesional, dan buktikan bahwa tanpa foto kiai pun, PKB tetap bisa dicintai karena kerjanya.
Jika memilih yang kedua, ya silahkan. Nikmati saja sisa-sisa kejayaan. Sampai nanti anak-anak muda Sumenep benar-benar meninggalkan PKB dan berkata: "PKB itu partai masa lalu bapak saya."
Waktunya memutuskan.
Mau besar beneran, atau besar karena numpang nama?(***)