PKB Sumenep Antara Melanjutkan Warisan Pendahulu Atau Menata Masa Depan
Oleh : Udiens Nyelonong
Sumenep adalah lumbung suara PKB. Itu fakta politik yang tidak terbantahkan. Sejak era reformasi, dari ujung Gapura hingga Sapeken, warna hijau PKB adalah warna yang paling mudah ditemukan di rumah-rumah warga, di musholla, hingga di perahu-perahu nelayan. PKB dan Sumenep seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan.
Namun, besarnya warisan itu kini justru menjadi beban sekaligus ujian terbesar bagi PKB Sumenep sendiri. Pertanyaannya tidak lagi sesederhana "bagaimana menang pemilu", melainkan lebih fundamental: Apakah PKB Sumenep akan terus hidup dari romantisme warisan pendahulu, atau berani menata masa depan dengan wajah baru?
Warisan Pendahulu: Modal yang Tak Ternilai
Tidak bisa dipungkiri, PKB besar di Sumenep karena jasa para pendahulu. Para kiai kharismatik, para tokoh NU yang dengan ikhlas menjadikan rumahnya sebagai posko perjuangan, para pengurus ranting yang berjalan kaki dari satu langgar ke langgar lain untuk menjelaskan apa itu PKB.
Warisan itu adalah: jaringan kultural yang kuat, loyalitas pemilih yang berbasis kultur pesantren, dan citra sebagai partai yang sami'na wa atho'na pada ulama. Selama dua dekade, warisan ini sangat efektif. PKB tidak perlu bekerja keras untuk meyakinkan pemilih, karena pemilih sudah yakin dengan sendirinya.
Tapi politik tidak berhenti di situ.
Tantangan Masa Depan yang Tidak Bisa Dijawab dengan Cara Lama
Sumenep hari ini telah berubah. Pemilih PKB hari ini bukan hanya santri di pondok, tapi juga Gen Z yang kritis di TikTok, perempuan wirausaha di Sumenep, nelayan milenial yang butuh akses modal dan teknologi cold storage, serta diaspora Sumenep di Surabaya dan Jakarta yang pulang membawa standar baru tentang pelayanan publik.
Masalah mereka tidak bisa lagi dijawab hanya dengan kalimat "ini dawuh kiai". Mereka butuh jawaban konkret:
Bagaimana PKB Sumenep menjawab krisis lapangan kerja bagi anak muda kepulauan?
Bagaimana PKB menerjemahkan konsep green economy berbasis potensi rumput laut dan garam?
Bagaimana PKB memastikan kadernya di DPRD benar-benar memperjuangkan anggaran untuk infrastruktur pulau, bukan sekadar hadir saat sidang?
Jika PKB hanya melanjutkan warisan pendahulu tanpa inovasi, ia akan mengalami apa yang dialami banyak partai besar: menjadi museum. Dihormati karena sejarahnya, tapi ditinggalkan karena tidak relevan.
Saatnya Menata Masa Depan: 3 Agenda Mendesak PKB Sumenep
Untuk tetap menjadi partai masa depan, bukan hanya partai masa lalu, PKB Sumenep perlu melakukan reorientasi:
1. Dari Politik Patronase ke Politik Gagasan.
Warisan pendahulu mengajarkan pentingnya patron kiai. Masa depan menuntut platform gagasan. PKB Sumenep harus berani melahirkan policy brief tentang pendidikan kepulauan, tentang desa maritim, tentang ekonomi pesantren. Pemilih muda ingin berdebat gagasan, bukan sekadar ikut barisan.
2. Dari Struktur Kultural ke Mesin Kaderisasi Modern.
Jaringan kultural NU adalah akar yang kuat. Tapi akar tanpa batang yang dirawat akan lapuk. PKB Sumenep butuh kaderisasi yang serius: Sekolah kader berbasis digital, pelatihan kepemimpinan untuk perempuan dan anak muda, dan rekrutmen yang tidak hanya berdasarkan kedekatan keluarga, tapi kompetensi. Tokoh -tokoh muda ( maaf tidak mau menyebut nama ) memiliki akar kultural yang kuat sekaligus pemahaman manajerial modern. Regenerasi seperti inilah yang harus disiapkan secara sistematis.
3. Dari Partai Keluarga menjadi Partai Terbuka.
Warisan pendahulu sering kali membuat PKB terjebak pada politik keluarga dan lingkaran dalam yang itu-itu saja. Untuk menata masa depan, PKB harus berani membuka diri. Memberikan karpet merah bagi anak-anak muda berprestasi di luar trah politik, bagi aktivis perempuan, bagi inovator desa. PKB harus menjadi rumah besar, bukan rumah eksklusif.
Penutup: Menghormati Pendahulu dengan Melanjutkan Perjuangannya, Bukan Mengulang Caranya
Melanjutkan warisan pendahulu bukan berarti mengulang persis apa yang dilakukan 20 tahun lalu. Cara terbaik menghormati pendahulu adalah dengan melanjutkan semangat perjuangannya untuk kemaslahatan umat, tapi dengan cara yang sesuai dengan tantangan zaman.
Para pendahulu membangun PKB dengan sepeda ontel dan pengeras suara masjid. Generasi hari ini harus membangun PKB dengan data, dengan teknologi, dan dengan keberanian untuk mendengarkan keluh kesah generasi baru.
PKB Sumenep berdiri di persimpangan penting. Satu jalan adalah jalan yang nyaman: terus bernostalgia dengan kejayaan masa lalu. Jalan lainnya adalah jalan yang menantang: menata masa depan.
Sejarah hanya akan mencatat mereka yang berani memilih jalan kedua.(**)