iklan untuk wartawan baru

MEMO OnlineSosial & Masyarakat

PWI Sumenep Bekali Ratusan Pengelola Humas dan Medsos dengan Strategi Konten di Era Digital

Rabu, 23 September 2026 18:57 WIB

Foto: Pelatihan Kehumasan dan Pengelolaan Media Sosial PWI Sumenep
Foto: Pelatihan Kehumasan dan Pengelolaan Media Sosial PWI Sumenep
Bagikan: WhatsApp Facebook X

MEMOonline.co.id. Sumenep- Sekitar 100 pengelola informasi dari berbagai instansi dan lembaga mengikuti Pelatihan Kehumasan dan Pengelolaan Media Sosial yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep, Rabu (23/9/2026).

iklan dbhct lumajang

Kegiatan yang berlangsung di Aula Jege Tembe, Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura, tersebut diikuti para humas maupun admin pengelola media sosial dari berbagai instansi dan lembaga di Kabupaten Sumenep.

Peserta di antaranya berasal dari humas/admin media sosial Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Sumenep, sejumlah puskesmas, lembaga pendidikan di bawah Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep.

Selain itu Peserta juga dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), lembaga pendidikan di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, serta lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama Kabupaten Sumenep.

Ketua PWI Sumenep Faisal Warid mengatakan, pelatihan tersebut menjadi ruang bagi PWI untuk berbagi pengalaman jurnalistik kepada para pengelola informasi, khususnya dalam menyampaikan informasi lembaga kepada masyarakat.

“PWI sebagai organisasi profesi wartawan sehari-hari bersentuhan dengan informasi. Pengalaman itu yang kemudian ingin kami bagikan kepada para peserta, sehingga bisa menjadi tambahan pengetahuan dalam menjalankan tugas komunikasi di lembaganya masing-masing,” ujarnya.

Menurut Warid, kemampuan mengelola informasi dan media sosial semakin penting, terutama bagi lembaga yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

“Ketika lembaga memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka informasi juga menjadi bagian yang penting. Masyarakat perlu mengetahui apa yang dilakukan lembaga, layanan apa yang tersedia, bagaimana prosedurnya dan informasi apa yang harus mereka dapatkan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar media sosial lembaga tidak sekadar menjadi tempat mendokumentasikan berbagai kegiatan.

“Jangan sampai media sosial lembaga hanya menjadi tempat mengunggah kegiatan. Bagaimana kemudian konten yang dibuat itu memiliki nilai informasi, bisa memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat, itu yang juga penting,” tuturnya.

Dalam pelatihan tersebut, Pemimpin Redaksi Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto membahas fungsi kehumasan dalam sebuah lembaga.

Menurut Dwi Eko, tugas humas tidak semata-mata mengejar konten agar viral. Humas memiliki fungsi komunikasi yang lebih luas, termasuk menyampaikan informasi lembaga kepada masyarakat.

Ia juga menyoroti perubahan pola distribusi konten di media digital. Menurutnya, pengelola media sosial tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola lama berupa judul atau materi yang sengaja dibuat untuk mengejar klik.

Karena itu, pengelola informasi lembaga didorong untuk lebih memperhatikan kualitas dan orisinalitas materi yang diproduksi, bukan sekadar mengejar perhatian sesaat.

“Sekarang tidak lagi semata-mata berpedoman pada clickbait. Algoritma justru semakin mengarah kepada konten yang original,” katanya.

Sementara itu, pemateri berikutnya, Andi Tausya dari Tim Media Sosial Beritajatim.com, membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembuatan konten.

Perempuan yang akrab disapa Ocha itu menjelaskan, berbagai perangkat AI saat ini dapat dimanfaatkan untuk membantu proses produksi konten, mulai dari mencari dan mengembangkan ide hingga membuat materi visual maupun audio.

Ia mengenalkan sejumlah tools yang populer digunakan dalam produksi konten, di antaranya ChatGPT, Canva, CapCut, dan ElevenLabs. Masing-masing memiliki fungsi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembuatan konten.

Ocha juga menekankan pentingnya bagian awal sebuah konten dalam menarik perhatian audiens.

Menurutnya, tiga hingga lima detik pertama menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika membuat konten untuk media sosial.

“Kalau di tiga sampai lima detik pertama kita tidak bisa menarik perhatian audiens, kemungkinan mereka akan melewati konten kita. Karena itu, bagian awal harus dibuat semenarik mungkin,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, founder sekaligus content creator PNS Jalan-jalan, Gunawan Sujana, mengingatkan pengelola media sosial instansi agar tidak menganggap akun lembaga sebagai milik pribadi.

Gunawan menyebut, pengelola akun harus memahami bahwa kanal tersebut membawa nama dan kepentingan lembaga. Karena itu, konten yang disajikan perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat.

Ia menekankan pentingnya melihat sudut pandang masyarakat dalam menentukan informasi yang akan dipublikasikan melalui akun resmi instansi.

“Pemegang akun media sosial instansi tidak boleh merasa bahwa itu adalah akun miliknya. Jadi, konten yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan disesuaikan dengan pemikiran pemilik akun,” pungkasnya.(*)

iklan bawag

Berita lain di Sosial & Masyarakat