Cengkal: Sikap Kita pada Corona

Foto: penulis Latif Fianto
533
ad

                                Oleh Latif Fianto

MEMOonline.co.id - Suatu hari saya mengunggah gambar peta penyebaran virus corona di Jawa Timur, di mana tepat pada hari itu Sumenep mengalami perubahan warna dari hijau yang langsung ke merah. Di beranda facebook banyak teman penulis, aktivis lingkungan, dan kiai yang turut menyampaikan kekhawatirannya atas kondisi tersebut dan mengimbau masyarakat untuk waspada. Jangan cengkal (bandel) kalau kata A Dardiri Zubairi di beranda facebooknya. Tidak perlu merasa takut, tetapi tetap harus hati-hati.

Lalu, seorang teman mengomentari unggahan gambar itu di story sebuah aplikasi percakapan layar. Dia bertanya kepada saya, “Percaya?” Tentu saya jawab percaya. Kemudian dia bilang kalau dirinya tidak percaya, dan oleh sebab itu, meski saya mengatakan kepadanya jumlah korban dan statusnya, dengan ciri khas orang Indonesia yang kata Mochtar Lubis hipokrit, saya menyuruhnya untuk bertanya langsung ke Dinas Kesehatan setempat. 

Dulu, dulu sekali, ketika kabupaten ini belum merasakan apa-apa tentang Covid-19, seorang teman juga mengomentari unggan story saya mengenai updating jumlah kasus covid-19 yang terus bertambah. Dengan tanpa beban dan empati sama sekali dia mengatakan kalau orang-orang yang meninggal akibat Covid-19 itu memang sudah tiba pada waktu mereka untuk meninggal. Yang harus kita lakukan adalah percaya kepada Tuhan, bukan takut pada corona, katanya. 

Ada banyak tanggapan yang teman saya ini sampaikan hingga saya mengatakan pernyataan Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, bahwa dalam suasana seperti ini umat hanya punya dua pegangan: Allah dan Rasulnya melalui fatwa ulama kredibel, otoritas negara atau pemerintah melalui gugus tugas Covid-19, para ahli kebencanaan, para dokter dan ahli kesehatan yang profesional. Lalu entah bagaimana teman saya ini mengirim cocologi tentang corona yang kebetulan masuk akal—mungkin seseorang telah bekerja keras membuat cocologi semacam itu.

Dua teman sayal ini adalah bukti, setidaknya, kebandelan (cengkal) masyarakat kita dalam menyikapi datangnya bencana, dan saya kira, ini termasuk mulai tidak percayanya masyarakat kepada ilmu dan sains, sehinga mereka merasa tidak perlu percaya terhadap data-data ilmiah, hasil kerja dokter dan ilmuwan, serta memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang telah menciptakan. Yang terakhir bukan masalah senyampang dilakukan setelah sebelumnya melakukan usaha untuk menghindarinya. 

Menghindar bukan karena takut, melainkan sebuah usaha untuk mencegah diri terjangkit wabah agar tidak semakin menambah daftar panjang orang-orang yang berstatus pasien.  Tetapi, boleh jadi masyarakat model begini—tidak percaya terhadap hasil kerja dokter dan ilmuwan—lebih percaya pada gosip jalanan dan desas-desus kuntilanak, dan ini salah satu yang kemungkinan menjadi awal dari matinya kepakaran, sebagaimana yang ditulis Tom Nichols. 

Ketika Covid-19 gencar menjamah Singapura dan Malaysia—dan sama sekali belum menyentuh warga Indonesia kecuali satu-dua orang yang bekerja di luar negeri, padahal secara hitung-hitungan akal harusnya sudah masuk, karena tiga negara ini tinggal serumpun—beberapa orang menganggap ini sebagai efek atau berkah membaca doa tertentu sehabis salat Subuh. 

Beberapa yang lain menganggap virus yang sudah mengalami mutasi ini tidak akan pernah menyeberang ke Jakarta, dan oleh sebab itu, mereka tidak perlu merasa khawatir negara ini akan ikut menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus Covid-19 yang besar di dunia. 

Sama seperti teman saya yang ketika kota lain sudah diliputi ketegangan karena korban terus berjatuhan, dengan tanpa empati sedikit pun dia mengatakan memang sudah saatnya mereka menghadap Tuhan—dia berkata seperti itu karena corona belum masuk ke kotanya, dan saya sebenarnya tidak berharap virus ini masuk ke kotanya, yang juga kota tempat saya lahir dan besar, meski kemudian tetap masuk melalui empat orang yang sebelumnya sudah menjalani karantina. 

Perkataan “Memang sudah saatnya mereka menghadap Tuhan” mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, saya teringat bait puisi Wislawa Szymborksa: Selalu ada yang pergi. Kematian adalah momen luar biasa bagi yang tak bisa kembali, tapi, akhirnya, ia peristiwa yang tak istimewa bagi dunia. Kedua, karena kematian tak lagi istimewa bagi dunia, maka Pamanda Luhut memandang remeh orang-orang yang meninggal akibat Covid-19 yang waktu itu belum sampai 500 orang, sedang penduduk Indonesia berjumlah kurang lebih 270 jiwa. 

Ketidaksiapan menghadapi datangnya wabah—tentu banyak faktor yang melatarbelakangi ini, dan salah duanya adalah sikap cengkal  dan meremehkan—menjadikan jumlah kasus virus ini mengalami lonjakan yang luar biasa besar. 

Menurut laporan WHO tanggal 20 Maret 2020, tingkat kematian akibat Covid-19 Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara, dan yang ketiga di dunia setelah Italia dan Bangladesh. Lonjakan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia lebih dari 100 per hari. Hingga hari ini artikel ini ditulis Indonesia telah mencatatkan 9511 kasus, 773 meninggal dan 1254 dinyatakan sembuh.  
Negara-negara yang berhasil menangani corona saya kira bukan terletak pada apakah mereka melakukan lock down atau tidak, melainkan pada cepat atau tidaknya negara tersebut mengambil tindakan. 

Pemerintah Indonesia sendiri baru mengambil tindakan bernama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan menerapkannya pada 10 April, yaitu setelah sehari sebelumnya angka kasus mencapai 3200 pasien—dengan penambahan 337 kasus, yang selama tiga hari sebelumnya lonjakan jumlah kasus baru selalu mencapai lebih dari 200. Saya tidak mau mengatakan dan begitu gampangnya menilai bahwa pemerintah terlalu lamban dalam mengambil tindakan, tetapi itulah fakta yang terjadi. 

Cukup lamanya pemerintah mengambil tindakan boleh jadi disebabkan oleh anggapan tidak efektifnya pemberlakukan kebijakan lock down, sehingga ditetapkanlah istilah baru yang disebut PSBB, dan baru diberlakukan saat jumlah kasus sudah mencapai lebih dari tiga ribu. Berangkat dari sana Jokowi, dalam berita yang dinaikkan detik.com (22/4), menilai tidak ada negara yang telah menerapkan lock down dan berhasil mengatasi wabah corona. 

Tetapi hari ini (28/4), Selandia Baru dikabarkan telah memenangkan pertarungan fase pertamanya melawan Covid-19. Kabar ini disampaikan langsung Perdana Menteri Jcinda Arden, yang setelah keberhasilan tersebut negaranya melonggarkan kebijakan karantina wilayah atau lock down. Hasil dari keberhasilan ini adalah dibukanya kembali kegiatan bisnis, fasilitas kesehatan, dan pendidikan, meski pihak pemerintah tetap meminta agar negara tetap waspada. 

Keberhasilan Selandia Baru ini terjadi karena pemerintah, kata Arden, mengambil tindakan dengan menempatkan seluruh penduduk dalam karantina wlayah atau lock down ketika kasus di negara tersebut masih berjumlah puluhan.  

Dengan demikian, berhasil tidaknya menghadapi corona dan menekan jumlah kasus, baik yang terinfeksi maupun yang meninggal, terletak pada sigap dan cepatnya mengambil tindakan alih-alih bingung dan ambigu dalam mengambil kebijakan. Sebagai misal, pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik, tapi dengan tetap menyilakan pulang kampung, sehingga banyak warga memilih pulang kampung daripada mudik. 

Dalam hemat Jokowi, definisi pulang kampung dan mudik berbeda—kata Susi Pudjiastuti dalam cuitannya di twitter (23/4), pulang kampung memilih 13 huruf, sedangkan mudik 5 huruf. Betapa pun definisi keduanya berbeda, tapi akibatnya tetap sama: orang-orang yang terpapar corona, karena tinggal atau bekerja di wilayah zona merah, menyebar ke kampung-kampung yang awalnya aman, dan itu memperluas area ketakutan dan probabilitas penyebaran covid-19.   

Oleh sebab itu, di bawah rezim “Jokoway”—Okky Maddasari menulis cuitan dalam twitternya (23/4), I call this regime Jokoway: rezim inkompeten berbulu demokrasi—mengandalkan kebijakan pemerintah dalam menangani kasus wabah saja tidak cukup. Kita juga harus mengandalkan diri sendiri dengan cara mengurangi aktivitas di ruang publik, mulai belajar lagi cara hidup bersih dan sehat. 

Tinggal di rumah, apakah sekadar rebahan atau bekerja dan sebagian belajar, memang tidak terlalu mengenakkan, terutama bagi kita yang kerap beraktivitas di ruang-ruang publik. Tetapi, menghadapi pandemi di tengah ketidakpastian kebijakan pemerintah, yang kadang tarik ulur dan membingungkan, melakukan aktivitas dari rumah adalah yang terbaik. Dengan begitu, kita juga ikut memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19.

*Penulis lahir di Sumenep, menulis karya fikCengkal: Sikap Kita pada Corona
Oleh Latif Fianto

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Lumajang - 'ZN' nama inisial (19) warga Desa Labruk Kidul Kecamatan Sumbersuko Kabupaten...

MEMOonline.co.id, Probolinggo -- Untuk mensukseskan progam pemerintah  agar masyarakat sadar tentang pentingnya...

MEMOonline.co.id, Sumenep - Proses pemilihan ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kabupaten Sumenep berjalan...

MEMOonline.co.id, Bangkalan - Bhabinkamtibmas polsek Socah mendapat keluhan masyarakat tentang kebutuhan...

MEMOonline.co.id, Jember - Selepas mengantar jenazah dari Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, Rombongan mobil Polres...

Komentar