Ustad Mu'in Sebut Ada Perintah 'J' di SMA Al Maisyaroh, Warga Desak Telusuri Jaringan Pemotongan PIP
MEMOonline.co.id. Lumajang- Sorotan tajam terkait dugaan pemotongan dana Program Indonesia Pintar kini meluas ke lokasi lain.
Tak hanya berpusat di lembaga pendidikan Islam di Desa Tempeh Tengah, nama dan keterangan baru muncul dari arah Kecamatan Randuagung.
Dalam perkembangan terbaru, Ustad Mu'in menyampaikan adanya keterkaitan dengan SMA Al Maisyaroh yang berlokasi di Desa Salak, Kecamatan Randuagung.
Ia menyebutkan adanya perintah yang datang dari sosok berinisial 'J' yang bertugas di lembaga tersebut.
Ustad Mu'in mengungkapkan, arahan atau perintah terkait penarikan dan pemotongan dana PIP diduga datang dari pihak yang berinisial 'J' di SMA Al Maisyaroh.
Keterangan ini memperkuat dugaan bahwa praktik pemotongan tidak berdiri sendiri di satu tempat, melainkan berpotensi menyangkut pihak-pihak di beberapa lokasi.
Menyambung Pengakuan Sebelumnya
Sebelumnya, Ustad Mu'in telah mengakui adanya pemotongan sebesar Rp360.000 — atau 20 persen — dari masing-masing 36 siswa penerima PIP.
Dana yang seharusnya diterima utuh Rp1.800.000 dipotong, dikumpulkan, lalu sebagian diserahkan kepada pihak yang disebutnya sebagai oknum anggota DPR.
"Ada yang mengatasnamakan DPR, tapi siapa persisnya saya belum tahu pasti," demikian pernyataan Ustad Mu'in yang disampaikan sebelumnya.
Kini dengan munculnya nama 'J' dari Desa Salak, warga semakin yakin bahwa ada jaringan yang lebih luas di balik praktik ini.
Warga dan orang tua siswa bersatu menuntut aparat berwenang menelusuri keberadaan serta peran nyata sosok berinisial 'J' tersebut.
Mereka mempertanyakan apakah 'J' bertindak atas nama sendiri atau mewakili pihak lain, dan bagaimana kaitannya dengan oknum yang mengatasnamakan DPR.
"Siapa pun dia, kalau benar terlibat harus diproses. Jabatannya bukan tameng," ujar Adi, warga Lumajang.
Diketahui, pola yang diduga terjadi mirip. Para siswa diantar ke salah satu bank di Lumajang untuk mengambil hak PIP.
Setelah uang diterima, langsung diserahkan kepada koordinator di tempat.
Dana tidak sampai ke tangan orang tua.
Praktik ini diduga berulang sejak beberapa periode pencairan.
Masyarakat berharap penyelidikan tidak berhenti pada pelaksana di lapangan.
Nama 'J' serta oknum yang disebut mengatasnamakan DPR harus ditelusuri, dipanggil, dan dibuktikan keterlibatannya secara terang benderang.
"Jangan anak buah yang disalahkan sendirian. Kalau ada yang di atas menarik benang, dia juga harus hadir," tegas warga lainnya.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak SMA Al Maisyaroh maupun sosok berinisial 'J' yang dimaksud.(Mas Her)