iklan untuk wartawan baru

MEMO Online › Hukum & Kriminal

Tambang Emas Buranga Makin Meresahkan, Warga Tutup Jalan Protes Aktivitas Alat Berat

Selasa, 29 September 2026 22:05 WIB

Foto: dok.memo aktivitas alat berat,di lokasi pnmbang berinisial,MH
Foto: dok.memo aktivitas alat berat,di lokasi pnmbang berinisial,MH
Bagikan: WhatsApp Facebook X

MEMOonline.co.id. PARIMO- Aktivitas pertambangan emas di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), kembali menuai keluhan warga.

iklan dbhct lumajang

Maraknya penggunaan alat berat jenis ekskavator disebut semakin memperparah aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.

Warga menduga aktivitas pertambangan saat ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat lokal, tetapi juga melibatkan sejumlah pemodal dan pengusaha yang menguasai kegiatan pertambangan emas di Desa Buranga.

Bahkan, menurut warga, sebagian pemodal dan pengusaha mengaku telah mengantongi Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

Namun, warga mempertanyakan pemanfaatan izin tersebut karena IPR semestinya diperuntukkan bagi kegiatan pertambangan rakyat sesuai ketentuan yang berlaku.

Keresahan warga semakin memuncak lantaran aktivitas pertambangan disebut berlangsung hampir 24 jam, mulai pagi hingga malam hari, dengan menggunakan alat berat berskala besar.

Kondisi tersebut mendorong salah seorang warga setempat, Hj. Ida, melakukan aksi penutupan jalan di depan rumahnya pada Senin (28/9/2026).

Aksi tersebut dilakukan untuk mencegah kendaraan milik penambang maupun para pemodal tambang melintas menuju lokasi pertambangan yang aksesnya disebut harus melewati jalan di depan rumahnya.

Kepada Memo Online melalui sambungan telepon, Selasa (29/9/2026), Hj. Ida mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan sekaligus kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan dan keresahan masyarakat akibat aktivitas pertambangan emas di Buranga.

Menurutnya, sejumlah warga, terutama petani, mulai mengeluhkan kondisi air sungai yang diduga terdampak aktivitas pertambangan.

Air sungai yang sebelumnya digunakan untuk berbagai kebutuhan pertanian kini disebut berubah warna, bercampur lumpur, keruh dan kotor.

Padahal, kata Ida, keberadaan air sungai yang bersih sangat dibutuhkan masyarakat, antara lain untuk menunjang aktivitas pertanian serta memenuhi kebutuhan air bagi hewan ternak.

“Saya tutup biar tidak bisa dilalui kendaraan penambang untuk naik ke lokasi pertambangan. Selain sebagai bentuk kepedulian atas banyaknya keluhan warga petani dan masyarakat, aksi ini juga merupakan bentuk kekecewaan saya terhadap para penambang,” ujar Hj. Ida.

Ia mengaku sebelumnya juga telah berupaya menyampaikan kebutuhan masyarakat kepada pihak penambang, termasuk meminta bantuan material untuk perbaikan jalan atau baketan.

Namun, menurut Ida, permintaan tersebut tidak selalu mendapat respons cepat.

“Kadang mereka layani, tetapi permintaan kami untuk baketan terlebih dahulu harus berhari-hari baru direalisasikan. Kadang menunggu sampai tiga hari, dua hari, bahkan satu hari satu malam. Kalaupun memberikan material, tidak ada yang beres dengan apa yang mereka berikan,” keluhnya.

Ida menilai perhatian terhadap kebutuhan masyarakat sekitar lokasi tambang masih minim.

Ia berharap para pelaku usaha pertambangan tidak hanya memikirkan aktivitas produksi, tetapi juga memperhatikan kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Selain persoalan air sungai, warga juga mengeluhkan kondisi jalan di sekitar wilayah pertambangan yang disebut semakin rusak akibat aktivitas kendaraan menuju lokasi tambang.

Kerusakan jalan tersebut, menurut Ida, paling dirasakan oleh masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua.

Warga berharap pemerintah dan instansi terkait turun langsung untuk memeriksa aktivitas pertambangan di Desa Buranga, termasuk penggunaan alat berat, legalitas kegiatan, kondisi lingkungan, serta dampaknya terhadap masyarakat dan infrastruktur di sekitar lokasi.(Dewi Shita Melani)

iklan bawag

Berita lain di Hukum & Kriminal