About Love, Afternoon Tea

Foto: Maliatuz Zahroh, Tim Redaksi MEMO online
600
ad

                                                                Oleh: Maliatuz Zahroh*

Februari 2017

MEMOonline.co.id - Jemarinya mengetuk pelan meja di hadapannya. Entah dengan alasan apa, lelaki itu tak pernah absen duduk di meja yang sama setiap hari minggu bertandang. Selalu. Dan masih dengan novel baru yang bahkan belum sempat Ia buka plastiknya.

“Ternyata benar dugaanku.”

Gadis yang sama selalu datang setiap minggu untuk sekadar menemaninya minum kopi. Lelaki itu menoleh dengan tatapan datar. Hanya sebentar, dan tiba-tiba ia jadi tak berselera.

“Kau tak bosan berucap tiga kata itu?”

“Kau lebih tidak bosan menunggu sesuatu yang semu?”

Lelaki itu mendesah lelah. Diseruputnya kopi susu yang hanya tinggal separuh.

“Sepertinya kau tidak akan keberatan jika aku mencicipi sedikit saja kue battenberg ini.”

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu menyuapkan satu potong ke mulutnya.

“Bukankah uang royaltimu sangat cukup untuk memesan sendiri?” lirik lelaki itu tak rela.

“Dan sepertinya strawberry victoria sponge akan menjadi santapanku selanjutnya,” ucap gadis itu sambil cengengesan. Mulutnya penuh dengan kue battenberg yang belum Ia telan.

“Ck ah, kau membuatku muak. Bayar saja sendiri.”

Lelaki itu bangkit hendak berlalu. Melayani gadis itu membuatnya merasa membuang-buang waktu saja.

“Itulah kenapa akhir-akhir ini aku sangat menikmati pekerjaanku menjadi seorang penulis. Wajah kesepianmu selalu membuatku terinspirasi,”ucap gadis itu yang sempurna membuat langkah lelaki itu terhenti.

“Kalimat itu lagi. Apa maksudmu, heh?”

“Jika ada seorang wartawan yang sengaja cuti beberapa hari atau bahkan sampai sebulan hanya karena ingin menenangkan diri apa bukan kesepian dan putus asa namanya?” ucap gadis itu mantap. Seolah Ia sudah mengenal lelaki itu bertahun-tahun.

“Bukan apa-apa, aku hanya merasa gagal menjadi seorang wartawan karena belum berhasil menemukan seseorang.”

“Tugasmu hanya mencari berita, bodoh. Menemukan orang yang hilang itu tugas polisi, kau tahu?”

“Kau memang gadis paling menyebalkan yang pernah kutemui.”

“Syukurlah kau tidak perlu mencarinya.”

Lelaki itu mundur beberapa langkah. Menatap dengan mimik kesal pada lawan bicaranya.

“Kenapa? duduklah jika kau menyesal pada keputusanmu untuk cepat-cepat pergi.”

“Sayangnya kau terlalu percaya diri.”

Tangannya terulur mengambil buku yang tergeletak di meja. Walau sekilas, gadis itu sempat membaca judul buku di hadapannya.

Rindu.

***

15 July 2007

Tradisi Afternoon Tea dikenang sebagai salah satu warisan kuliner warga Inggris. Salah satu pengalaman autentik dihadirkan oleh hotel bersejarah,The Savoy, London. Hotel legendaris ini selalu menyajikan menu afternoon tea selama lebih dari 125 tahun dengan tetap setia pada kombinasi klasik dari roti lapis mini, scones yang disediakan hangat dan kue-kue bercita rasa manis lainnya.

“Kue Battenberg?”

Strawberry victoria sponge.

“Ah, kue battenberg saja,kue itu dibuat untuk memperingati hari pernikahan pangeran Louis of Battenberg dan istrinya pada tahun 1884.”

“Rupanya kau selalu merayuku memesan menu yang lebih murah. Dasar pelit,” Ucap gadis itu memberenggut.

“Ratu victoria sangat suka pada strawberry victria sponge. Kau tentu tahu betapa cantik dan menawannya dia.” tambah gadis itu. Ia laluitu tersenyum puas. Mata bulatnya menatap nakal pada lelaki di sampingnya.

“Kau ingin jadi apa kelak, Nara?”

“Editor.”

“Baguslah, berarti naskah-naskah beritaku akan berakhir di tanganmu.”

“Tentu jika aku bersedia Pak Wartawan.”

Mereka lalu menghabiskan senja dengan berbicara banyak hal. Sesekali tertawa. Selalu. Di tempat yang sama.

***

Mei 2017

“Boleh aku mencicipinya?”

“Kau sudah lebih dari tahu bagaimana rasanya. Apa kau tak bosan mengemis kue gratis setiap minggu padaku?”

“Aku sangat suka strawberry victoria sponge.”

“Itu bukan untukmu.”

***

22 July 2007

Nara duduk menyilangkan kaki di spring bad warna peech. Hari ini ulang tahunnya yang ke 17. Dua tahun lebih muda dari Nata. Biasanya, lima menitlagi lelaki itu akan datang, membawakan kue dan beberapa novel romance yang masih baru tanpa pernah dibungkus terlebih dahulu. Jika ditanya alasannya, lelaki itu akan menjawab, Aku tidak sabar ingin segera melihat ekspresi lebaymu karena kesenangan.Dan benar saja, dua menit kemudian terdengar ketukan pintu, Nata masuk dengan membawa beberapa novel romance di tangannya. Hanya buku. Dan dia datang tiga menit lebih awal.

Strawberry victoria spongenya mana?”

“Nanti kamu bisa pesan sendiri sepuasnya, yuk!”

“Eh.”

 

***

“Tidak usah berisik. Telingaku sakit.”

“Ah Nata, aku kan lagi cerita.”

“Kau ingat? Kau sudah menceritakannya berkali-kali.”

“...”

“Baca saja novelmu.”

“Aku doakan makalahmu gak kelar-kelar.”

Nara memberenggut lalu berbalik. Tangannya mengambil kasar buku yang ada di samping kanan Nata. Lalu bergegas keluar dengan membanting pintu.

Aku ga bisa tidur, Nat.

Pesan dari Nara.

Kenapa? Sakit perut?balasnya.

Bukan, otakku mengulang-ngulang semua adegan yang sudah aku baca di dalam novel. Membuat kepalaku pusing.

Nata tidak langsung membalas. Ia men-Shutdownlaptop di pangkuannya.

Mau ditraktir sponge?

Sepertinya masih tidak terlalu malam untuk mengiyakan tawaranmu. Nara tersenyum sumringah sambil lalu mengambil mantel yang tergantung di lemarinya.

Sayangnya, aku sudah mengantuk untuk memutuskan keluar malam ini, hehe.

Dan lagi, Nata sukses membuat gadis itu luar biasa kesal.

***

Juni 2017

“Sejauh ini, kau tidak ingin bertanya namaku?”

“Kurasa tidak perlu.”

Gadis itu mendesah kesal. Bagaimana mungkin Ia berfikir sejauh itu, berharap lebih untuk saling berjabat tangan dengan lelaki di hadapannya. Menatapnya saja dia seolah tak sudi. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi.

“Baiklah, namaku Kiera. Namamu?” ucapnya memaksakan diri.

“...”

Lelaki itu melirik sekilas, tanpa pernah sudi memandangnya berlama-lama.

“Ck.” decak gadis itu kesal.

“Nata. Sudah?”

Gadis itu tersenyum dan bergumam.

“Terimakasih.”

***

30 july 2007

Nata masih sangat mengantuk saat terdengar ketukan di pintu kamarnya yang berada di lantai tiga. Siapa lagi yang senang mengganggunya pagi-pagi buta kalau bukan Nara. Ditengoknya jam weker di samping pembaringan. Pukul 05.10 WIB. 

“Ada apa, heh?”

Bukannya menjawab, gadis itu malah tersenyum dengan raut muka ganjil.

“Nat, aku pergi dulu ya. Spongenya tetap aku tagih kapan-kapan.”

Nata mengucek matanya beberapa kali.

“Mau kemana?” tanya lelaki itu melihat Nara membawa koper lumayan besar.

“Hanya sebentar, Nat.”

“Aku tanya kamu mau kemana.”

“Eh, ini buat kamu. Aku sudah bosan memakainya. Kau pakai saja dulu.”

Tanpa menawarkan, gadis itu memakainkan gelang warna binhur ke tangan Nata.

“Astaga, bagaimana bisa aku lupa kalau besok ulang tahunku. Kau selalu berulah demikian sebelum-sebelumnya. Sudah ah, aku masih ngantuk. Berangkat aja sana.”

Nata melambaikan tangan lalu beralik masuk. Walau hatinya tiba-tiba menjadi gaduh.

***

Dan setelah hari itu, Nata tak lagi mendapati gadis itu datang mengganggunya. Seharusnya itu membuatnya lega. Tapi bahkan ia sendiri tidak menduga, bahwa gadis itu membawa serta separuh jiwanya.

***

22 July 2017

Nata duduk dengan wajah lelah setelah menghabiskan setengah jam waktunya untuk mencari novel bergenreromance di toko buku langganannya. Seorang waiter menghampiri meja yang bernomor 22 itu.Dan seperti biasa, tanpa membuang-buang waktu melihat menu, mulutnya dengan lancar menyebutkan menu favoritnya. Pikirannya kembali pada masa sepuluh tahun lalu. Saat gadis bernama Nara selalu menemani setiap Ia duduk di kursi itu. Selalu. Walau tidak jarang gadis itu mengganggu dan membuatnya kesal dengan celoteh gak penting yang membuat telinganya sakit.

“Kue Battenbergnya satu.”

Ucap Nata datar. Nata mati-matian menahan diri untuk tidak memesan menu kesukaan Nara. Bagaimanapun, perasaan rindu sudah membuat hatinya kebal pada rasa sakit karena perasaan itu.

“Tambah Strawberry victoria spongenya empat.”

Nata menoleh kaget mendapati Kiera duduk satu meja dengannya. Hanya sebentar.Kue apa tadi yang dipesannya?Ah!

“Mau memerasku lagi?”

“Menagih jatahku saja.”

“Apa maksudmu?” kening Nata berkerut. Wajah Nara yang polos tiba-tiba melintas di benaknya. Tapi jelas mereka adalah orang yang berbeda. Nara yang kekanak-kanakan di matanya sangat kontras dengan Kiera yang terlihat sangat dewasa. Walau sekilas, keduanya memang mirip. Tapi bahkan ia tidak mau tahu, memikirkannya hanya akan membuat hatinya lebih sakit dari itu.

“Aku menulis sebuah novel tentang seorang gadis yang sangat menyebalkan dan lelaki yang diam-diam mencintainya. Tentang lelaki yang kesepian dan masa lalunya yang indah.”

“Kau mau memancingku bercerita untuk penyelesaian novelmu? sangat disayangkan, aku tidak mengingat apapun, dan masalah penggarapan novelmu jelas bukan urusanku. Kau mengerti? silahkan cari meja yang lain!”

“Tapi aku mengingatnya, dan jelas ini juga menjadi urusanmu, Nata Setyawan.”

Gadis yang ia tahu bernama Kiera itu mencondongkan kepala mendekati Nata. Mulutnya yang mungil berbisik mesra di telinganya.

“Kau mengusirku? setelah malam itu kau gagal metraktirku sponge dengan berdalih sudah mengantuk. Sialan. Dan gelang ini, aku bersyukur kau masih memakainya.”

Gadis itu mengakhiri kalimatnya dengan senyum menawan. Nata melirik sekilas gelang yang dipakainya. Jelas ia ingat bahwa gelang itu pemberian Nara, bukan Kiera. Nata terbelalak dan beralih menatap lekat gadis di hadapannya. Tatapan pertama yang dilakukannya dengan sepenuh hati sejauh ia mengenalnya. Tangannya reflek meraba pipi gadis itu, mencari kebenaran dari apa yang baru saja di dengarnya.  Dan betapa bodohnya dia, gadis di hadapannya memiliki senyum menawan yang menyihirnya untuk ikut tersenyum sesebal apapun dia. Bukankah itu senyum Nara? gadis yang bahkan nyaris memenuhi otak dan menutupi hatinya dari apa saja. Termasuk dari kenyataan bahwa gadis di hadapannya adalah Nara yang ia rindukan bertahun-tahun lamanya. Nara yang tiba-tiba menghilang dan membuatnya sampai pada titih lelah untuk selalu mencari. Nata menyesal kenapa tidak menyadari itu dari awal.

“Kau, kenapa masih pelit sekali, hah?” tambah gadis itu membuyarkan semua lamunannya.

“Tidak mungkin!” Nata menggeleng cepat. Seorang waiter datang mengantarkan menu pesanan mereka.

“Untuk yang ke tiga kalinya, perkenalkan, Nara Kierana.”

“...”

“Kau tidak mungkin tiba-tiba bisu kan, Nat?”

“...”

“Astaga, ya sudah makan aja dulu, aku sudah sangat lapar. Ingat, kau yang bayar.”

***

31 July 2017

“Kau sudah jadi wartawan rupanya.”

“Kau sendiri sudah menjadi editor di sebuah penerbitan?”

“Aku tidak cukup percaya diri untuk memperbaiki karya orang lain.”

“Lalu?”

“Menjadi penulis mungkin pilihan yang tepat.”

“Kau masih berhutang penjelasan padaku, Nara.”

Kali ini Nata menarik paksa lengan Nara.

“Sepuluh tahun berlalu, kau justru lebih cerewet daripada aku.”

Gadis itu hanya cengengesan menanggapi.

“Ternyata kau masih-”

Nata mengedikkan bahu.

“Cantik? oh tentu.”

“Masih senang bertele-tele dan mengalihkan pembicaraan maksudku.”

Walau opsi pertama darimu juga benar. Sangat malah.

Nata melepaskan tangannya dan memalingkan muka.

“Akan kujelaskan nanti, percayalah.”

Nara menggenggam tangan Nata dan berbisik, “Hey, ini ulang tahunmu, aku punya hadiah spesial hari ini.”

“Apa?”

Tangan Nara mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah novel.

About Love, Afternoon Tea” bibir Nata bergetar mengeja judul novel di tangannya. Matanya menangkap sebuah nama yang dicetak tebal di sudut paling bawah buku, Nara Kierana. (*)

Penulis adalah: Anggota Forum Lingkar  Pena (FLP) Ranting Sumenep PP. Annuqayah Latee II.

 

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Sampang - Angin puting beliung memporak Porandakan puluhan rumah di dua...

MEMOonline.co.id, Lumajang - Semua elemen masyarakat diimbau untuk bersinergi dengan Aparat pemerintah dan keamanan...

MEMOonline.co.id, Bondowoso - Gita Cita Bahana Spasa adalah ekstrakurikuler drumband kebanggan SMP Negeri 1...

MEMOonline.co.id, Lumajang - Tim Cobra Polres Lumajang, benar-benar tak main-main dalam menangani kasus penipuan...

MEMOonline.co.id, Bekasi - Tambun Selatan - Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid...

Komentar