Foto: Ilustrasi evakuasi korban petir
Foto: Ilustrasi evakuasi korban petir
MEMOonline.co.id. Sumenep- Sepasang suami istri (pasutri) asal Desa Totosan, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, menjadi korban sambaran petir saat beristirahat di sebuah warung sawah, Sabtu (7/2/2026) pagi.
Dalam peristiwa tersebut, sang suami meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara istrinya selamat namun mengalami shock dan harus mendapatkan perawatan medis.
Korban meninggal dunia diketahui bernama Rahmat Riyanto (50), seorang petani asal Dusun Ares Tengah, Desa Totosan. Sedangkan istrinya, Mahwiya (45), masih hidup namun mengalami trauma dan segera dilarikan ke Puskesmas Batang-Batang oleh warga setempat.
Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti S, menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB di sebuah warung atau gardu sawah milik korban.
“Korban ditemukan di warung sawah di Dusun Ares Tengah, Desa Totosan. Saat itu korban sedang beristirahat dan diduga tersambar petir. Satu korban meninggal dunia di tempat, sementara satu korban lainnya masih hidup dan langsung mendapatkan pertolongan,” terang AKP Widiarti S dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/2) sore.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh seorang saksi bernama Toni, yang saat itu hendak menuju sawahnya.
Ia mendengar teriakan dari arah warung sawah dan mendapati Rahmat Riyanto sudah meninggal dunia, sementara Mahwiya masih dalam kondisi sadar namun shock.
Saksi juga melihat stop kontak di warung tersebut dalam kondisi rusak dan terbakar.
Warga setempat kemudian mengevakuasi kedua korban ke rumah mereka yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kejadian.
Selanjutnya, Mahwiya dibawa ke Puskesmas Batang-Batang untuk mendapatkan perawatan medis.
Mendapatkan laporan tersebut, personel Polsek Batang-Batang langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) guna melakukan pemeriksaan serta meminta keterangan sejumlah saksi.
AKP Widiarti menambahkan bahwa pihak keluarga korban menolak dilakukan autopsi.
“Keluarga korban menolak autopsi karena menganggap kejadian ini sebagai musibah dan takdir dari Tuhan Yang Maha Esa. Jenazah korban kemudian langsung dimakamkan di Desa Totosan,” ujarnya.
Hingga saat ini, Mahwiya masih menjalani perawatan akibat shock pascakejadian. Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada, terutama saat beraktivitas di area persawahan ketika cuaca ekstrem.
Penulis : Alvian
Editor : Udiens
Publisher : Syafika Auliyak