MEMO Online › Sosial & Masyarakat

SKK Migas-KEI Bekali Guru Non-PNS di Kepulauan Sumenep Dengan Pembelajaran Digital Berbasis Kearifan Lokal

Sabtu, 17 Oktober 2026 20:03 WIB

Foto: Guru Non-PNS di Kepulauan Sumenep saat mengikuti Pembelajaran Digital Berbasis Kearifan Lokal oleh SKK Migas-KEI
Foto: Guru Non-PNS di Kepulauan Sumenep saat mengikuti Pembelajaran Digital Berbasis Kearifan Lokal oleh SKK Migas-KEI
Bagikan: WhatsApp Facebook X

MEMOonline.co.id. Sumenep- Guru non-PNS di Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, mendapat pelatihan peningkatan kompetensi untuk mengembangkan bahan ajar berbasis digital yang sesuai dengan kondisi dan kearifan lokal kepulauan.

Pelatihan tersebut digelar SKK Migas-Kangean Energy Indonesia (KEI) melalui Program GEMILANG (Gerakan Meningkatkan Ilmu dan Keterampilan Guru) pada 13–15 Oktober 2026 di Pagerungan Besar. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas-KEI Tahun 2026.

Dosen Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Syaiful Bahri, yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa pelatihan difokuskan pada penguatan pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan digitalisasi pembelajaran.

Peserta tidak hanya diperkenalkan pada paradigma pembelajaran digital, tetapi juga dibimbing menyusun bahan ajar dan sumber belajar berbasis etnopedagogi. Pendekatan ini menempatkan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan setempat sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Dengan demikian, materi yang disampaikan kepada siswa diharapkan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil.

"Harapannya, guru dapat menerapkan explaining building the context, sehingga memberikan pemahaman sesuai dengan konteksnya," ujar Syaiful.

Setelah menyusun bahan ajar, para peserta juga mendapatkan pendampingan dalam membuat perencanaan pembelajaran melalui modul ajar atau Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM), hingga penyusunan asesmen atau evaluasi pembelajaran.

Menurut Syaiful, pelatihan tersebut menjawab kebutuhan dasar guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan.

"Para guru butuh treatment untuk mendapatkan fundamental knowledge tentang digitalisasi pembelajaran," katanya.

Salah satu peserta, Misbahus Zaman dari SMAI Hubaibah, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar kompetensi guru di wilayah kepulauan semakin meningkat.

"Semoga ke depan kegiatan ini terus dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru di kepulauan," ujarnya.

Diminta Berlanjut, Bukan Sekadar Seremonial

Dukungan terhadap pelatihan tersebut juga disampaikan Tenaga Ahli Bupati Sumenep, Prof. Mohammad Ali Al-Humaidy. Ia menilai program peningkatan kompetensi guru merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap pengembangan sumber daya manusia di wilayah kepulauan.

Namun, ia mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata. Menurutnya, perlu ada tindak lanjut yang lebih konkret agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.

"Harapan kami, kegiatan ini tidak semata-mata seremonial, namun benar-benar ditindaklanjuti dengan program-program yang lebih konkret," katanya.

Ia mengusulkan agar hasil pelatihan ditindaklanjuti melalui diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD). Forum tersebut dapat digunakan untuk memetakan berbagai hambatan yang dihadapi guru sekaligus merumuskan solusi bersama masyarakat.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep, Abd. Wasid, menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pendidikan dan kemajuan bangsa.

Ia juga mendorong agar pelatihan serupa dikembangkan dengan materi yang lebih relevan terhadap kebutuhan pendidikan saat ini, termasuk pembuatan media pembelajaran berbasis digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Ini adalah kebutuhan guru terkini. Ini bisa terus dilanjutkan," ujarnya.

Melalui Program GEMILANG, peningkatan kompetensi guru di wilayah kepulauan diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi juga mendorong lahirnya pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan sesuai dengan karakteristik daerah.(*)

Berita lain di Sosial & Masyarakat