MEMO Online › Pemerintahan

Pemkot Probolinggo Jadi Kota Kedua Peluncuran Digitalisasi Posyandu Terintegrasi KGM 2026

Kamis, 05 Februari 2026 20:43 WIB

Foto: dr. Aminuddin Wali Kota Probolinggo Didampingi dr Evariani Aminuddin Ketua TP PKK Kota Probolinggo saat Membuka Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan
Foto: dr. Aminuddin Wali Kota Probolinggo Didampingi dr Evariani Aminuddin Ketua TP PKK Kota Probolinggo saat Membuka Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan
Bagikan: WhatsApp Facebook X

MEMOonline.co.id. Probolinggo- Pemerintah Kota Probolinggo resmi meluncurkan program Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan Terintegrasi Monitoring dan Evaluasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat (KGM) Tahun 2026, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Puri Manggala Bhakti, Kantor Wali Kota Probolinggo.

Peluncuran program tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin, didampingi Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin.

Hadir pula kepala perangkat daerah, pimpinan rumah sakit, kepala puskesmas, kader Posyandu, serta ibu hamil penerima manfaat.

Kepala Dinas Kesehatan P2KB Kota Probolinggo dr. Intan Sudarmadi menjelaskan bahwa Posyandu awalnya merupakan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang kini berkembang menjadi Posyandu 6 Standar Minimal (SM).

Enam bidang dasar tersebut meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman dan ketertiban umum.

“Perkembangan layanan Posyandu semakin kompleks dan mencakup seluruh siklus hidup melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Digitalisasi melalui aplikasi Siskia Mobile menjadi solusi untuk memudahkan pendataan dan pelaporan secara real time oleh para kader,” jelas dr. Intan.

Menurutnya, digitalisasi Posyandu memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan berbasis data, sekaligus mendukung upaya penurunan angka kematian ibu (AKI).

Saat ini, Kota Probolinggo memiliki 219 Posyandu yang tersebar di 29 kelurahan, dan seluruhnya akan mendapatkan dukungan tablet untuk pengelolaan data layanan kesehatan.

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan bahwa Kota Probolinggo menjadi kota kedua di Indonesia, setelah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang menerapkan digitalisasi Posyandu terintegrasi secara menyeluruh.

“Pembangunan harus dimulai dari data yang kuat. Digitalisasi Posyandu ini menjadi instrumen penting dalam monitoring, evaluasi, dan pengawasan kesehatan masyarakat. Seluruh Posyandu kita fasilitasi tablet agar pelaporan dan komunikasi semakin efektif,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi penurunan signifikan angka kematian ibu di Kota Probolinggo. Pada tahun 2025, AKI tercatat 82,37 per 100.000 kelahiran hidup, turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut, menurutnya, merupakan hasil kerja kolaboratif antara Dinas Kesehatan, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan.

Melalui program ini, Pemerintah Kota Probolinggo berharap kualitas layanan kesehatan masyarakat semakin meningkat, sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara berkelanjutan.

Berita lain di Pemerintahan