MEMO Online › Pemerintahan

Diduga Digarap Asal-asalan, ‎Perbaikan Ruas Jalan Nasional di Lumajang Tuai Kritik ‎

Senin, 09 Maret 2026 17:06 WIB

Foto : Hasil tembal sulam di Jalan Raya Gatot Subroto Lumajang. (tim).
Foto : Hasil tembal sulam di Jalan Raya Gatot Subroto Lumajang. (tim).
Bagikan: WhatsApp Facebook X

MEMOonline.co.id. Lumajang- Perbaikan tambal sulam di Jalan Gatot Subroto, Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Lumajang, menuai kritik.

‎ ‎Banyaknya perbaikan ruas jalan di bawah kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Timur (Probolinggo - Lumajang - Turen) ini, diduga digarap asal-asalan.

‎ ‎Kualitas dinilai jauh dari kata layak. Bahan perekat nampak tak sempurna. Dari semula dicampur dengan aspal lama hasil kerukan di ruas jalan lain, pagi hingga sore hari, nampak mudah dikelupas.

‎ ‎"Parah lagi kalau turun hujan pak, ambrol ini tambalannya. Batu-batu kecil ini berserakan, kan buang-buang anggaran. Ingat, perbaikan ini ya rakyat kamu bayar pajak," geram Hadi Sulistyo warga Lumajang, Senin (9/3/2026).

‎ ‎Ditemui di lokasi kegiatan, nampak beberapa petugas melakukan perbaikan. Membawa kendaraan tri seda mengangkut lem perekat, dan beberapa karung beras yang diketahui, berisikan aspal lama, hasil membongkar dari ruas jalan kelas sama di Desa Kedungjajang.

‎ ‎"Ada lemnya (Emulcy), kalau aspalnya, aspal yang ngeruk di sana (Kedungjajang -red). Korlapnya Pak Yanto di Probolinggo," terang seorang pekerja, namun tak menyebut nama.

‎ ‎Pekerja itu meyakini, hasilnya dalam waktu satu jam akan menjadi padat. Meskipun, hasil cek media di durasi tiga jam lebih, faktanya bertentangan.

‎ ‎Disinggung pertanyaan lain, pekerja tersebut merespon, mengikuti arahan kordinator lapangan (Korlap) Yanto.

‎ ‎Terpisah, Yanto dihubungi Memoonline, menerangkan jika pengerjaan tersebut merupakan cphma (coldmix) untuk penanganan sementara.

‎ ‎"Untuk kualitas hampir sama dengan hotmix. Sambil nunggu tim patching pakai hotmix," terang Yanto melalui pesan WhatsApp.

‎ ‎Untuk biaya, menggunakan rutin atau swakelola bukan paket. Disinggung besaran, Yanto mengaku tak mengetahui.

‎ ‎"Kalau itu saya tidak paham yang jelas untuk penangan rutin itu dari wilayah Probolinggo - Lumajang - Turen sepanjang 133 km mas," pungkasnya.

‎ ‎Diduga, aspal lama hasil kerukan dari ruas jalan lain, tanpa melalui daur ulang sehingga hasil yang ada berbuka kritik.

Berita lain di Pemerintahan