Band Penyandang Disabilitas Warnai Panggung Nala Festival 2025
MEMOonline.co.id. Kota Batu- Di panggung pembukaan Festival Nala 2025, penampilan yang paling menggugah hati berasal dari grup band “Power of Disabilitas”, yang biasa disebut Pede.
Mereka bukan hanya menyajikan musik, melainkan juga menjadi contoh nyata bahwa kekurangan fisik tidak menghalangi untuk berkarya dan mencapai prestasi.
Band ini dibimbing oleh Thomas Maydo, yang dikenal oleh masyarakat sebagai Camat Bumiaji, Kota Batu, sekaligus sebagai penggerak komunitas Shining Disabilitas (Shindi) di kecamatan tersebut.
Kehadirannya di festival ini memperkuat komitmennya untuk membina dan memberdayakan penyandang disabilitas di daerahnya.
“Ini adalah bukti bahwa seni dan musik adalah milik semua orang. Semangat dan energi mereka adalah inspirasi bagi kita semua,” ungkap Thomas Maydo saat di temui awak media, Minggu (29/12/2025).
Di atas panggung, terdiri dari Dito (Vokal Utama), Bemmo (Gitar 1), Dhani (Gitar 2), Echoz (Bass), E’eng (Drum), Vera (Keyboard), dan Okta (Vokal Pendukung).
Setiap anggota memperlihatkan bakat dan kerjasama yang baik, membuktikan bahwa latihan yang serius telah membuahkan hasil yang menakjubkan.
Mereka membuka penampilan dengan lagu "Mangu". Cara mereka memainkan alat musik dan mikrofon menunjukkan ketekunan yang luar biasa, mengubah nada menjadi kisah tentang semangat juang.
“Mereka adalah contoh bahwa dengan dukungan dan kesempatan yang sesuai, potensi setiap orang bisa bersinar,” tambah Camat Bumiaji.
Setelah penampilan band, festival semakin meriah dengan tampilnya dua penyanyi cilik penyandang disabilitas lainnya, Kenzi (5 tahun) dan Dillah (9 tahun).
Suara polos mereka yang menyanyikan lagu-lagu terkenal berhasil membuat suasana ceria dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari para penonton. Momen tersebut menjadi pengingat emosional bahwa semangat inklusi harus dimulai sejak dini.
Penampilan yang kolaboratif di Nala Festival 2025 bukanlah pertunjukan biasa. Festival yang biasanya dikenal sebagai hiburan kali ini berhasil menampilkan elemen edukasi dan empati yang lebih mendalam.
Setiap nada dan lirik yang dinyanyikan oleh anggota Pede serta kedua anak kecil tadi menyerukan agar kita lebih menghargai kemampuan, bukan keterbatasan.
Thomas Maydo, selaku pembina, menekankan bahwa dukungan kepada penyandang disabilitas harus bersifat menyeluruh dan berkelanjutan.
“Ini baru permulaan. Melalui seni, kita dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Target kami selanjutnya tidak hanya tampil di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat regional bahkan nasional, agar pesan inklusivitas ini dapat lebih dikenal,” terangnya.
Partisipasi Band Pede dalam Nala Festival 2025 telah membawa makna baru tentang keberagaman dan kekuatan kolaborasi. Mereka tidak hanya memberikan warna, tetapi juga menerangi festival dengan semangat kemanusiaan.
“Acara seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah lainnya untuk lebih memberikan kesempatan partisipasi yang luas bagi penyandang disabilitas di berbagai bidang, karena setiap orang berhak untuk bersinar dan didengar,” tutup Thomas.