Revitalisasi BUMN Perkebunan Solusi Atasi Resesi Nasional

Foto: Harvick Hasnul Qolbi
223
ad

Oleh: Harvick Hasnul Qolbi, Bendahara PBNU

MEMOonline.co.id - Dalam situasi dunia yang semakin terpuruk akibat pandemic Covid 19, kita punya sektor yang mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi nasional di saat resesi ekonomi global, yaitu BUMN perkebunan dan asetnya.

Sayangnya, selama ini sektor tersebut tidak dikelola dengan baik dan terjadi kesalahan pengelolaan yang antara lain disebabkan:

1. Kesalahan manajemen yang terjadi pada kurun 10-15 tahun yang lalu telah menyebabkan :

a. hutang jangka panjang dan jangka pendek kepada perbankan mendekati Rp 60 T,

b. hutang non perbankan termasuk kepada karyawan, pensiunan mencapai trilyunan rupiah,

c. kelebihan pegawai sehingga produktivitas per pegawai sangat rendah,

d. produktivitas komoditi yang dihasilkan dibawah standar minimal seperti sawit, karet, teh dan lain-lain.

1. Strategi perusahaan tidak mengantisipasi perubahan lingkungan sehingga beberapa komoditi yang terdesrupsi namun masih menjadi bisnis utama seperti komoditi karet.

2. Masalah legalitas lahan perkebunan telah menjadi ancaman serius karena dismping tuntutan dari program reforma agraria juga masih banyaknya lahan perkebunan yang tidak memiliki sertifikat HGU, sudah berakhir namun tidak diperpanjang.

3. Lemahnya penguasaan pasar domestik maupun pasar internasional, sehingga komoditi yang dihasilkan lebih banyak dimainkan oleh broker dan bersifat kartel.

4. Lemahnya inovasi dan kreatifitas dalam meningkatkan nilai komoditi/produk yang dihasilkan.

Dengan demikian, `menurut hemat saya strategi penyelesaian masalah PTPN tersebut adalah:

1. Jika Holding Perkebunan dipertahankan maka perlu dilakukan cluster PTPN, PT Perkebunan Nusantara, dengan rincian :

a. cluster PTPN dengan bisnis komoditi yang untung,

b. cluster PTPN dengan bisnis komoditi dalam perbaikan untuk untung,

c. cluster PTPN yang harus merubah bisnis.

1. Perlu adanya pelepasan aset tetap (lahan) dari PTPN yang tidak prospektif lagi di komoditi seperti PTPN 2, 8, 9, 10 dan 11 untuk pengembalian pinjaman/utang perbankan atau non perbankan.

2. Untuk yang masih mengandalkan komoditi maka komoditi yang bisa dipertahankan cukup sawit, teh, dan kopi.

3. Perlu langkah diversifikasi komoditi yang massal untuk hortikultura (buah-buahan dan sayuran). PTPN bisa menjadi penghasil buah tropis terbesar di dunia.

4. Bagi lahan yang sudah tidak efisien dan efektif lagi untuk komoditi perkebunan, perlu langkah perubahan bisnis inti, dari perkebunan ke kawasan industri, pariwisata dan lain-lain. Bisa di PTPN 8, 9, 11 dan 12.

5. Perlu perubahan organisasi dan SDM karena yang ada sekarang tidak mencerminkan organisasi modern yang merangsang kreatifitas/inovasi.

6. Perlu segera masuk kedalam industri pengolahan komoditi terutama sawit/CPO.

7. Perlu meng-hire tenaga marketing kelas dunia agar komoditi yang dihasilkan meningkatkan value perusahaan. (*)

ad
THIS IS AN OPTIONAL

Technology

MEMOonline.co.id, Pamekasan - Pemerintah Kabupaten Pamekasan bersama TNI-Polri melaunching Team Mobile Covid-19...

MEMOonline.co.id, Sumenep -  Proses pencarian terhadap korban nelayan hilang akhirnya membuahkan hasil....

MEMOonline.co.id, Sumenep - Masyarakat Kabupaten Sumenep, khususnya di Kecamatan Gapura digegerkan oleh penemuan sesosok bayi...

MEMOonline.co.id, Toba - Pemimpin tertinggi (Eporus) pertama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Dr. I. L. Nommensen yang dimakamkan di komplek...

MEMOonline.co.id, Jember -  Dalam ulang tahunnnya yang ke 75 Palang Merah  Indonesia (PMI) terus  berjuang...

Komentar